Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Lega


__ADS_3

Selepas pulang sekolah, Bary pergi ke rumah Dinda. Ia bermaksud untuk menjelaskan semuanya dan juga ingin meminta maaf pada Dinda.


Tiba di depan rumah Dinda, Bary mengetuk Bel berkali-kali. Namun hingga ke sekian kalinya, Dinda tak juga keluar dari rumahnya.


" Dinda kemana, ya? Kenapa nggak keluar-keluar? Aku telpon juga nggak diangkat. Apa dia sedang tidur?" gumam Bary dalam hati.


" Dinda..." panggil Bary setelah ia membunyikan bel berkali-kali namun tak ada yang membukakan pintu.


Sementara itu Dinda yang masih berada dikamarnya, sedang asyik bermain game. Sebenarnya ia tak pernah suka bermain game. Namun karena ia sedang kesal dengan Bary, ia kemudian mendownload aplikasi game untuk menghibur hatinya.


Ketika Bary memanggil, ia tahu kalau Bary mencarinya. Ia juga tahu kalau Bary berkali-kali menelpon. Namun ia tak mempedulikannya.


" Kenapa, sih? Ganggu saja!" ucap Dinda kesal karena Bary terus menelponnya.


" Nah...jadi kalah, kan! Kenapa sih dia itu! Sudah bikin marah, masih saja bikin kesal!"


Dinda menutup ponselnya lalu membantingnya di atas tempat tidur. Ia lalu bergegas keluar dan menemui Bary.


" Apa?!"


" Dinda..aku mau jelaskan sesuatu sama kamu. Boleh aku masuk?" ucap Bary.


" Nggak! Cukup disini saja. Tapi aku nggak mau dengar penjelasan apa-apa dari kamu!"


" Lalu aku harus bagaimana? Aku mau bicara."


" Pulang saja dan jangan menggangguku!"


" Dinda.. Jangan begitu. Aku minta maaf."


" Aku nggak akan memaafkanmu. Kamu sendiri yang bilang dan meminta padaku untuk jauhi teman laki-laki, tapi kamu malah dekati teman cewek."


" Iya.. Aku memang dekat dengannya. Tapi itu pas jalan dari tempat parkir saja. Jangan salah sangka dulu."


" Sudah jelas, kan? Kamu dekat dengan cewek lain."


" Tapi itu nggak seperti yang kamu pikirkan, Dinda."


" Lalu apa?! Aku juga ngobrol biasa dengan teman laki-laki, kamu melarangku. Lalu apa yang ada di pikiranmu?!


" Jangan galak begitu.. Aku bisa jelaskan semuanya dari awal sampai selesai. Biarkan aku bicara. Kalau aku nggak boleh masuk, kita duduk di luar sini saja. Jangan bicara di depan pintu."


" Aku malas. Sudahlah..pulang saja, sana!"


" Dinda..aku itu masih pacar kamu, kenapa kamu mengusirku. Kamu sudah nggak sayang padaku?"


" Memangnya kenapa? Kamu boleh kok, mengusirku kalau aku berada di rumah kamu. Kamu masih menanyakan perasaanku padamu? Saat ini perasaanku sedang kacau. Jadi lebih baik jangan kamu tanyakan itu. Aku nggak bisa jawab."


" Apa aku harus panggil Vanya kemari untuk membantu menjelaskannya padamu?"


" Jangan sebut-sebut nama itu! Aku nggak suka!"


" Dinda, baiklah aku akan mulai bicara. Kamu mau dengarkanku atau tidak itu hak kamu. Kemarin aku sedang berada di warung. Aku nggak sengaja bertemu Vanya di jalan. Ban motornya bocor. Dia memintaku menemaninya ke tukang tambal ban.


Lalu aku bilang kepadanya, kalau aku bisa menambal ban. Dia pun meminta bantuanku. Setelah selesai, dia memborong semua ayam gorengku yang masih tersisa.


Dan tadi pagi dia mentraktirku makan. Awalnya aku nggak mau, tapi dia terus memaksaku. Dia terus menarik tanganku ke kantin. Sehingga aku nggak bisa menolaknya.


Maafkan aku, Din."

__ADS_1


" Jadi begitu ceritanya. Hemmh..jadi kamu mau ya, kalau di paksa."


" Maaf Dinda, aku hanya menghargai kebaikkannya saja. Bukan untuk maksud yang lain."


" Misalnya ada cowok lain yang memaksaku untuk jalan berdua, pergi ke suatu tempat bagaimana?"


" Ya harus ditolak.."


" Kenapa? Kamu saja dipaksa saja mau, kok. Kenapa aku harus menolaknya."


" Soalnya masalahnya beda, Dinda. Jangan semua disamaratakan."


" Memang harus begitu, kan. Itu namanya baru adil."


" Dinda.. Apa kalau ada cowok lain memaksamu pergi berdua. Jika terjadi apa-apa, apa kamu bisa jaga diri?"


" Maksudnya?"


" Misalnya cowok itu berbuat yang tidak sopan kepadamu. Apa kamu akan diam saja?"


" Ya tentu saja aku akan melawan. Kamu pikir aku cewek yang mudah diperlakukan begitu?"


" Kalau dia sampai memperdayaimu bagaimana? Maksudnya kalau dia menaruh obat tidur dalam minumanmu, atau menaruh obat perangsang di dalam minumanmu bagaimana?"


" Hahaha.. Bary.. Bary.. Kenapa pikiranmu itu terlalu jauh? Mana mungkin temanku melakukan yang seperti itu padaku?"


" Dinda.. Aku hanya mengkhawatirkanmu saja. Aku nggak ingin terjadi apa-apa denganmu. Apa kamu masih meragukanku?"


" Uhhh... Jadi kamu mengkhawatirkanku? Terima kasih ya sudah mengkhawatirkanku. Tapi aku memang masih meragukanmu. Maaf, ya."


Bary telah kehabisan kata-kata. Ia tak tahu harus bicara apalagi dengan Dinda. Ia pun terdiam sembari berpikir apalagi yang ingin dia katakan.


" Kenapa diam? Sudah cukup bicaranya? Kalau sudah, mendingan kamu pulang saja."


" Baiklah..aku akan memaafkanmu. Pulanglah."


" Serius?"


" Ya.."


" Aku pulang?"


" Iya.."


" Kenapa?"


" Ihh..ini sudah hampir maghrib. Cepat pulang."


" Hemm..baiklah."


" Bary..."


" Apa?"


" Jangan lupa, ya."


" Lupa apanya?"


" Jangan lupa hati-hati dijalan. Hehe.." ucap Dinda sembari tersenyum.

__ADS_1


Bary melihat senyuman itu. Ia tampak senang sekali. Kekhawatirannya kini mulai berkurang. Dinda telah memaafkannya dan mereka pun telah berbaikan lagi.


Selepas Bary meninggalkan rumahnya, Dinda kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia pun mulai merenung.


" Bary..hampir saja aku salah melangkah. Kalau saja kamu nggak datang dan meminta maaf padaku, mungkin besok aku akan katakan putus padamu. Tapi hari ini kamu datang, dan menjelaskan semuanya.


Sebenarnya aku nggak pernah khawatir kamu mau dekat sama cewek manapun. Karena aku merasa, cowok di dunia ini bukan kamu satu-satunya. Jadi aku nggak akan khawatir. Tapi aku sadar, dari banyak teman cowok yang ada, kamu lah yang selalu ada untuk aku. Kapanpun aku butuh, tak diminta pun kamu tiba-tiba datang dan menolongku.


Bary...terima kasih sudah menemani kesendirianku selama ini. Aku tak akan pernah melepaskanmu sampai kapanpun."


...----------------...


Tiba di rumah, Bary langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Ia merasa lega sekali setelah sebelumnya merasa tegang karena menghadapi Dinda yang marah besar kepadanya.


" Ahh..terima kasih Tuhan, Engkau telah menolongku. Menolongku dari kandasnya cintaku. Sungguh, aku tak ingin kehilangan Dinda. Dia lah yang selama ini membuatku bersemangat. Apapun akan ku lakukan untuk Dia, Tuhan. Tolonglah..persatukan kami hingga ke jenjang pernikahan. Aku akan berusaha keras untuk mewujudkannya." ucap Bary.


Ucapan Bary yang lumayan keras, terdengar oleh Ibunya. Apalagi pintu kamarnya dia biarkan terbuka. Ibunya pun masuk sembari meledeknya.


" Siapa yang kamu sebutkan dalam doamu itu Bary?"


" Eh...Ibu mengagetkanku saja. Hemm..pasti Ibu tahu orangnya. Aku nggak akan mengatakannya lagi pada Ibu."


" Dinda maksud kamu?"


" Iya, Bu..kenapa? Ada yang salah?"


" Enggak.. Menurut Ibu, Dinda itu anak yang baik. Dia cantik, juga punya sopan santun pada orang tua. Ibu juga berharap memiliki menantu seperti dia. Tapi.."


" Tapi apa, Bu?" Bary terkejut.


" Apa kamu sudah mengenal keluarganya? Bagaimana pendapat keluarganya tentang hubungan kalian?"


" Oh, itu.. Kalau itu aku belum mengenalnya, Bu. Orang tuanya kan, tinggal di luar negeri. Aku belum pernah bertemu dengan mereka."


" Apa Dinda pernah membicarakan hubungan kalian pada orang tuanya?"


" Aku tidak tahu, Bu. Mungkin saja belum. Dia nggak begitu akur dengan keluarganya."


" Maksudnya nggak terlalu dekat? Itu wajar karena jarak mereka jauh."


" Bukan itu maksudnya, Bu. Tapi Dinda kurang begitu suka dengan orang tuanya. Jadi mungkin Dia jarang sekali menghubungi orang tuanya. Orang tuanya juga mungkin terlalu sibuk bekerja. Jadi, jarang juga menghubungi Dinda."


" Ibu mengerti..mungkin saja waktu mereka yang tak sama membuat komunikasi mereka terganggu."


" Iya, Bu. Tapi bukan itu saja masalahnya."


" Lalu apa?"


" Dinda itu kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Jadi Dinda nggak suka dengan mereka. Katanya, saat masih di luar negeri, ia sering diabaikan. Orang tuanya bekerja dari pagi sampai malam. Dinda sendiri di asuh oleh baby sitter. Setelah kelas tiga SD, ia mulai nggak betah tinggal bersama orang tuanya. Ia pun meminta untuk pulang ke Indonesia."


" Oh, jadi begitu. Wah..hubungan keluarga yang nggak harmonis. Bary, apa kamu yakin dengan pilihanmu?"


" Ibu bicara apa? Tentu saja yakinlah..aku akan berjuang demi Dia, Bu."


" Hemm..sepertinya tekadmu sudah tak bisa diganggu gugat. Baiklah, ibu nggak akan ikut campur. Tapi kalau ada apa-apa, bilang sama Ibu."


" Iya..Bu. Sudah, Bary mau mandi dulu. Badannya sudah gatal."


Bary meninggalkan Ibunya yang masih tersenyum-senyum. Sementara Ibunya terus memandanginya tak henti-henti.

__ADS_1


" Anakku memang sudah tumbuh dewasa. Semoga kelak kamu bisa mewujudkan mimpimu itu, Bary."


......................


__ADS_2