Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Bary Ngambek


__ADS_3

Kejadian ketika dirumah Dinda pada waktu lalu membuat Bary marah. Ia tak habis pikir dengan Dinda. Ia sangat menyukai Dinda, mungkin saja dia bisa mencintainya. Namun bukannya Dinda membalas, tetapi Dinda malah menyuruhnya untuk dekat dengan Rista.


Hingga tiba waktu ke sekolah, Bary lebih memilih banyak diam. Ketika teman yang lainnya mengajaknya bicara, ia tak merespon dan malah meninggalkannya.


Banyak dari temannya yang bilang kalau Bary sudah mulai sombong. Dan mereka mengatakannya di depan Bary. Namun Bary tak menghiraukan kata-kata mereka. Ia tak ingin menambah masalah dalam dirinya.


Dinda melihat perilaku Bary yang tiba-tiba berubah lagi. Sekarang Bary menjadi seorang pendiam dan cuek. Ia mencoba memanggilnya,namun Bary memilih untuk diam dan tak melihat ke arah Dinda.


" Ihhh..kenapa lagi, itu anak. Kenapa labil banget. Padahal kemarin kan, dia itu ku pikir sudah berubah. Tetapi kenapa dia balik ke yang dulu lagi. Cuek lagi." gumam Dinda.


" Ada apa, Dinda?" tanya Rista yang duduk di bagku sebelahnya.


" Lihat itu.. Bary ku panggil cuma diam saja. Apa dia marah padaku?"


" Aku juga nggak tahu. Sama yang lain saja, dia cuek."


" Apa ini gara-gara kemarin, ya? Sebelumnya, dia nggak seperti ini."


" Nanti biar aku saja yang bicara sama Bary. Kamu tenang dulu, Dinda."


" Iya..aku nggak apa-apa kok, Rista. Tapi aku heran saja padanya. Dia itu sifatnya kembali seperti awal-awal aku bertemu dengannya. Cuek, dingin, dan yang pasti sangat menyebalkan."


" Hahaha.. Kamu baru kenal dia saja sudah bilang menyebalkan. Apalagi aku yang sudah mengenalnya sedari kecil."


" Tapi aku kagum padanya. Saat dia membantu orang tuanya saat sakit. Dia rela berjualan demi menggantikan Ayahnya. Padahal jarang ada anak seusia dia mau berjualan di pasar."


" Aku juga kagum.. Meskipun dia sering membuatku jengkel, tapi dia itu punya hati yang baik."


" Baik? Kemarin saja dia bilang kalau dia nggak mau sama kamu. Dimana baiknya, coba? Hahaha.."


" Ihhh... Itu beda. Nggak ada hubungannya dengan itu. Pokoknya selain tentang itu, dia sangat baik."


" Hehehe..ku pikir kamu akan marah jika teringat peristiwa kemarin."


" Dinda...jangan ingatkan itu padaku. Aku nggak mau mengingatnya. Aku malu.."


" Iya..iya..maaf. Nggak akan lagi, Rista." ucap Dinda sembari menggenggam kedua tangan Rista dengan kedua tangannya.


...----------------...


Pukul tujuh pagi, bel tanda masuk berbunyi. Bary masuk ke dalam kelas diikuti Dinda dan Rista di belakangnya. Rista mencoba iseng-iseng menaboknya. Berharap Bary menoleh dan membalasnya. Namun berbeda dari biasanya, Bary lebih memilih diam dan tak menghiraukan Rista.

__ADS_1


" Bary..kamu kenapa?" tanya Dinda yang menjadi jengkel karena Bary tak menghirauka Rista.


Bary hanya diam dan tak menoleh sedikitpun ke arah Dinda. Ia lalu duduk di kursinya seolah tak ada yang berbicara dengannya.


" Sudah..biarkan saja, Dinda. Biarkan dia tenang dulu." ucap Rista lalu mengajak Dinda segera pergi ke tempat duduknya.


Tak berapa lama Sang Guru Budi datang. Semua murid terdiam. Bary Sang Ketua Kelas, memimpin doa sebelum pelajaran di mulai.


Usai berdoa, Budi mengumumkan pada muridnya jika hari ini tak ada pelajaran. Semua murid di pulangkan karena ada berita lelayu, dari salah satu Guru yang mengajar di sekolahnya.


Semua murid berteriak senang, mereka segera berkemas dan bersiap untuk pulang. Berbeda dengan temannya yang lain, Bary terlihat tak berekspresi apapun. Dia memasang mode patung. Hingga Budi menegur dirinya.


" Bary.."


Bary diam dan hanya merunduk. Pikirannya melayang-layang seolah dia berada ditempat lain. Budi kembali menegurnya hingga tiga kali. Namun Bary tetap tak merespon. Budi pun mendatanginya dan menepuknya.


" Bar.. Bary..."


Semua mata tertuju ke arah Bary. Mereka semua, penasaran dengan apa yang ingin di lakukan oleh Budi. Sementara Bary masih tetap tertunduk.


" Kamu habis makan kecubung, ya? Ditanya diam saja. Apa kamu kerasukan?" tanya Budi.


Sontak saja membuat seisi ruangan menjadi ramai. Mereka tertawa karena pertanyaan dari wali kelas mereka untuk Bary.


" Kurang tidur? Apa kamu semalam begadang?"


" Iya, Pak."


" Kenapa kamu begadang? Banyak PR?"


" Tidak, Pak."


" Lalu kenapa kamu begadang? Mejeng di jalan?"


" Enggak, Pak."


" Lalu apa jawaban kamu?"


" Saya hanya nggak bisa tidur saja, Pak."


" Kenapa nggak bisa tidur?"

__ADS_1


" Lagi ada masalah, Pak."


" Semua orang punya masalah. Apa masalahmu, katakan padaku."


" Maaf, Pak. Saya nggak bisa menceritakannya."


" Baik..kalau kamu nggak mau cerita. Sekarang pimpin doa. Kita akhiri perjumpaan kita hari ini."


" Baik, Pak."


...----------------...


Usai keluar dari kelas, Bary bergegas meninggalkan sekolah. Ia ingin sekali segera bisa pulang lalu untuk memejamkan matanya. Pikirannya tentang kemarin masih membekas di benaknya. Ia ingin sekali segera pergi agar tak bertemu Dinda dan Rista lagi.


Namun saat ia tiba di gerbang sekolah, Rista menarik tangannya dan membawa Bary masuk ke dalam kelas lagi. Ia ingin menanyakan tentang kenapa Bary bisa cuek sama siapa saja yang mengaaknya bicara.


" Bary.."


Bary hanya diam dan tak menghiraukan Rista lagi. Cewek putri dari salah satu pengajar di sekolah itu menjadi sangat jengkel.


" Kamu itu kenapa, sih? Kalau memang masalah kemarin. Aku minta maaf. Aku tak seharusnya bilang suka padamu. Kalau kamu nggak suka sama aku, ya sudah. Jangan kaya gitu. Semua orang kamu diemin, kamu itu dikira sombong sekarang ini."


" Aku mau pulang."


" Bary! Kamu itu dengar aku bicara, nggak? Nyebelin banget!"


" Rista.. awalnya aku dan Dinda itu baik-baik saja. Tapi karena kamu, aku dan Dinda hubungannya jadi renggang. Aku suka sama dia, dia juga suka sama aku. Tapi kami memang nggak pacaran. Masih sebatas teman. Dan kamu bisa-bisanya datang dan bilang padanya kalau kamu suka aku. Dia jadi menyuruhku menerimamu. Dia mengalah demi kamu. Tapi aku ingin berkata jujur padamu, aku itu.."


" Aku tahu kamu tak suka sama aku, kan?"


" Rista, kita itu dari dulu sahabat. Aku nggak mau jika kita punya hubungan lebih dari sahabat, malah akan membuat persahabatan kita hancur. Kamu mengerti maksudku, kan? Lagipula, kita ini masih kelas VII. Kita baru saja menyelesaikan pendidikan kita di Sekolah Dasar."


" Aku tahu kok, Bary. Kamu tenang saja. Semalam aku sudah melupakan kejadian kemarin. Aku juga sudah melupakan tentang perasaanku padamu. Sekarang, kembalilah menjadi dirimu yang seperti dulu lagi. Yang ceria, yang disukai banyak orang. Yang selalu perhatian pada orang-orang disekitarmu. Aku tak ingin masalah kemarin akan menjadi semakin panjang. Aku tahu kamu kalau punya masalah, selalu begini. Aku tak ingin semua orang mengataimu sombong. Aku mohon, Bary."


" Rista, maafkan aku. Aku sungguh tak bisa bohongi perasaanku. Aku tak ingin jika menuruti kata Dinda dan menerimamu, aku malah akan menyakitimu."


" Iya.. Nggak apa, kok. Ya sudah, aku mau pulang dulu. Mumpung hari ini pulang cepet, aku mau selesaikan pekerjaan rumahku."


" Baiklah, aku akan menyusul. Aku mau ke kamar kecil dulu." ucap Bary lalu segera pergi ke kamar kecil di sudut sekolah.


Rista pun pergi meninggalkan kelas, ia berjalan cepat karena ingin segera pulang sampai rumah dan membereskan semua pekerjaan rumahnya.

__ADS_1


Di gerbang sekolah, Dinda terlihat sedang menunggu Rista. Ia penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Rista pada Bary. Ia pun menghentikan langkah Rista dan berniat ingin menanyakan langsung padanya.


......................


__ADS_2