Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Jangan Lupakan Aku


__ADS_3

Pukul dua belas, ketika Rista dan Dinda sedang asyik mengobrol, Bary tiba-tiba datang dengan wajah muram. Ia kesal dengan Dinda karena setelah mencarinya kemana-mana, Dinda malah sudah berada di rumah Rista tanpa bilang lebih dulu kepadanya. Padahal Dinda sudah pesan kepadanya untuk datang bareng ke rumah Rista.


Hingga pukul sebelas, ia menelpon Dinda. Namun hingga ke sekian kalinya ia menelpon, tak ada yang mengangkat. Ia pergi ke rumah Dinda untuk memastikan kalau Dinda baik-baik saja.


Ia masuk pagar namun pintu rumahnya terkunci. Ia mencoba menelponnya kembali. Suara dering telpon Dinda terdengar dari dalam. Ia mengetok pintu dan berteriak memanggilnya.


Namun hingga tenggorokannya perih, tak ada yang keluar dari rumah Dinda. Ia pun mengintip dari jendela. Handphone Dinda tergeletak di meja tamu. Namun Dinda tak berada di dalam. Pintu rumahnya juga terkunci dari luar.


Bary kemudian mencari hingga ke pasar. Dan lagi, Ia tak menemukan Dinda disana. Ia juga mencarinya ke Taman, namun ia tak juga menemukan Dinda.


Akhirnya Bary mencari peruntungan dengan mendatangi rumah Rista. Ia berharap Dinda berada disana. Dan memang benar dugaannya. Dinda sudah berada di rumah Rista.


Ia menjadi sangat kesal pada Dinda. Padahal ia sangat kecapekan, tapi Dinda malah menghilang tanpa kabar dan tak memberitahukan keberadaannya sama Bary.


" Bary.. Kamu datang? Ku pikir nggak mau datang." tanya Rista.


Bary diam saja dan tak menghiraukan kata-kata dari Rista. Ia hanya duduk disamping Dinda lalu menunduk dan mematung tak mau bicara apapun.


" Ada apa, Bar? Kenapa datang wajahnya muram begitu?" tanya Dinda.


" Masih tanya ada apa, aku mencarimu kemana-mana nggak ketemu. Tapi kamu malah sudah sampai sini. Bukankah kemarin kamu bilang ke rumah Rista bareng, kenapa malah meninggalkanku?"


" Eh.. Apa aku bilang begitu? Kapan?" tanya Dinda.


" Memangnya kamu nggak ingat chat yang kamu kirimkan padaku?"


" Maaf, aku nggak ingat. Aku lupa aku chat apa saja padamu. Soalnya aku selalu hapus chat siapapun setelah aku selesai mengechatnya."


" Apa? Termasuk chat dariku juga?!"


Dinda mengangguk. Bary pun menjadi semakin emosi.


" Dinda.. Kamu pikir aku ini siapa kamu? Kenapa seolah aku ini nggak berbeda dengan orang lain?"


" Bary.. Kita tahu kita ada dimana, jangan bahas tentang hubungan kita disini."


" Tapi kamu itu keterlaluan. Masa sama aku, kamu bisa lupa apa yang kamu janjikan."


" Iya..aku minta maaf. Sudah jangan marah-marah. Kita itu sebentar lagi akan berpisah dengan Rista. Manfaatkan waktu yang sedikit ini untuk mengobrol santai dengan Rista. Jangan sia-siakan keberadaannya. Mumpung Rista belum pergi, Bary."


" Ahh..terserah kamu saja lah.."


" Bary.. Sudah nggak usah marah-marah. Orang namanya lupa itu nggak bisa disalahkan. Mending kamu duduk santai dulu, aku mau ambilkan minum untukmu."


" Nggak usah, Rista. Aku nggak haus."


" Meskipun kamu nggak haus, tapi kamu butuh menenangkan hatimu itu. Agar nggak marah-marah terus."


Bary menghela nafasnya lalu berkata, "Baiklah, kalau ada minuman yang dingin. Aku kepanasan dari tadi."


" Oke.. Aku akan ambilkan teh botol untukmu." ucap Rista lalu segera masuk ke dalam rumah, mengambilkan minuman untuk Bary.


Dinda mendekati Bary yang duduk menjauh darinya.


" Bary.. Aku minta maaf, ya. Aku benar-benar lupa apa yang aku katakan padamu. Tadi kamu mencariku ke rumah?"


" Iya.."


" Maaf, Handphoneku juga ketinggalan. Aku mau chat kamu jadi nggak bisa."

__ADS_1


" Ya sudah..nggak apa-apa, Dinda."


" Kamu mau kan, memaafkanku?"


" Iya.."


" Jangan dingin seperti itu, Bary. Aku jadi nggak nyaman."


" Iya.. Aku nggak dingin. Aku sedang kepanasan."


" Hehe..sini aku kipasin." ucap Dinda lalu mengambil topinya untuk mengipasi Bary.


Rista datang dan melihat Bary dan Dinda sedang duduk saling berdekatan. Ia menjadi malu sendiri. Ia pun mencoba memberi isyarat dengan berdehem.


Dinda dan Bary terkejut lalu mereka saling menjauh kembali.


" Ah..maaf, ya. Aku jadi mengganggu." ucap Rista.


" Eh..enggak, Rista. Aku hanya mengipasi Bary. Katanya dia kepanasan. Makanya aku kipasi biar panasnya hilang, marahnya juga hilang."


" Hehe.. Kalau begitu, dia harus minum air dingin dulu, Dinda. Biar kepalanya juga dingin."


" Ide bagus, Rista. Aku akan buat kepalanya dingin agar nggak marah-marah lagi. Bary.. bawa kemari kepalamu."


" Kepalaku? Mau diapakan?"


" Mau aku beri minum biar nggak kepanasan lagi."


" Bagaimana caranya?"


" Aku mau siram ke kepalamu. Hahaha.."


Dinda dan Rista tertawa lepas. Meskipun beberapa tahun terakhir ini persahabatan mereka renggang, namun kini seakan kembali seperti dulu lagi.


Bary melihat wajah kedua cewek yang sedang tertawa itu. Hatinya sangat lega. Kini kedua cewek yang saling menjauh itu telah kembali dan menjadi sahabat lagi.


Hingga pukul dua siang, rumah Rista kedatangan banyak tamu. Ibu Rista sangat sibuk menemui tamu-tamunya. Sementara Rista juga sibuk dengan teman-teman lainnya yang mulai berdatangan untuk mengucapkan salam perpisahan kepadanya.


" Rista..aku pikir hanya aku dan Bary saja yang datang ke rumahmu. Ternyata semua teman kita juga datang kemari." ucap Dinda.


" Hehe.. Padahal aku nggak menyuruh mereka untuk datang, tapi mereka malah datang sendiri. Maafkan aku, aku jadi sibuk. Kalian berdua gabung sama teman-teman yang lain dulu, ya. Aku mau bantu Ibu menyiapkan minuman untuk tamu."


" Hehe..tenang saja, Rista. Apa aku boleh membantu kamu?"


" Wah.. Aku malah sangat senang, Dinda. Kalau begitu, ayo ikut aku."


" Oke, Rista."


Dinda mengikuti Rista masuk ke rumahnya. Ia ikut membuatkan minum untuk tamu Ibu Rista. Meskipun Ibu Rista sempat berkata yang membuat dirinya tersinggung, namun demi Rista ia akan menepikan masalah itu.


...----------------...


Menjelang maghrib, semua tamu sudah meninggalkan rumah Rista kecuali Bary dan Dinda. Kini mereka berdua sibuk membantu Rista dan Ibunya mencuci piring dan gelas.


Ibu Rista sebenarnya risih dengan adanya Bary dan Dinda. Namun ia sangat terbantu sekali dengan adanya mereka.


Kini ia mau tak mau harus menepikan rasa risihnya dan berpura-pura ramah, sebagai balasan atas bantuan Bary dan Dinda. Tanpa mereka berdua, mungkin ia dan Rista akan sangat kelelahan.


" Bary..Dinda..terima kasih banyak atas bantuannya. Tanpa kalian berdua, Bibi nggak tahu mau diapakan gelas dan piring yang kotor itu. Bibi sudah kelelahan menemui tamu-tamu Bibi. Dari siang sampai sekarang nggak berhenti ngobrol. Apalagi harus mencuci piring dan gelas yang kotor. Membayangkannya saja sudah capek. Kepalanya terasa pening."

__ADS_1


" Sama-sama, Bi. Kami berdua melakukannya semua, demi persahabatan kami. Dan sudah sewajarnya jika kami membantu Bibi dan Rista."


" Yah... Bibi mengerti. Bibi harap persahabatan kalian akan tetap terjaga sampai tua nanti."


" Iya, Bi. Kami akan berusaha menjaganya."


" Baiklah, karena ini sudah mau maghrib, sebaiknya kalian pulang dulu. Mandi lalu shalat. Maaf Bibi ada yang kelupaan belum Bibi bereskan. Bibi tinggal dulu, ya."


" Eh..baik, Bi."


" Bary.. Dinda.. Selamat, ya." ucap Rista dengan tiba-tiba.


" Selamat apa, Rista?"


" Selamat atas hubungan kalian. Aku kan, belum memberikan selamat untuk kalian."


" Ah, Rista. Sudah...nggak perlu diberi ucapan selamat. Lagipula kita baru pacaran. Kalau sudah menikah, baru boleh kasih ucapan selamat." ucap Dinda sambil tersenyum.


" Hehe.. Baiklah. Besok kalau kalian menikah, aku pasti akan datang. Asal jangan lupa undang aku."


" Rista..kita saja masih sekolah. Belum ingin membahas sampai ke situ. Yang terpenting bagiku adalah belajar dulu. Nikahnya pikirkan nanti kalau sudah tamat sekolah."


" Setidaknya kalian punya rencana yang indah. Hubungan kalian nggak hanya sebatas sampai pacaran. Tetapi sampai pada pernikahan. Itu akan sangat indah sekali."


" Rista.. Sudah jangan membahas tentang hubungan kami. Yang ada nanti kamu menangis lagi." ucap Bary.


Dinda memukul punggung Bary dengan lumayan keras. Bary mengaduh kesakitan.


" Aww..Dinda, sakit. Asal main pukul saja kamu itu."


" Salah sendiri kenapa bilang begitu pada Rista."


" Aku cuma bilang begitu lalu aku salah?"


" Iya..."


" Ya sudah, aku nggak akan bilang lagi."


" Hehe.. Kalian berdua itu kenapa berdebat lagi. Sudah.. nggak baik baru pacaran saja sudah banyak perdebatan. Dinda.. Aku nggak apa-apa Bary bilang seperti yang barusan Dia katakan. Dan Bary.. Aku nggak akan menangis hanya dengan membahas kedekatan kalian. Aku sudah melupakan itu semua. Kini aku relakan kalian untuk bersama."


" Rista.. Terima kasih banyak. Terima kasih atas pengertianmu. Aku doakan kamu agar kamu menemukan lagi sosok yang menyenangkan, yang akan menjadi pendamping hidupmu selamanya." ucap Dinda sembari memeluk Rista.


" Sama-sama, Dinda. Aku harap kalian akan terus seperti ini. Jangan sampai tecerai berai. Aku mohon pada kalian."


" Iya, Rista. Kami akan berusaha mempertahankan hubungan kami."


" Aku senang mendengarnya, Dinda. Terima kasih ."


Ketika Rista dan Dinda masih mengobrol, suara adzan mulai berkumandang. Dinda dan Bary meminta izin untuk pulang. Mereka tak ingin berlama-lama lagi di rumah Rista, karena esok hari Rista dan Ibunya akan segera pergi ke Jakarta.


" Rista, kami minta izin pulang dulu. Besok jika kamu sudah akan berangkat, jangan lupa berdoa dulu. Aku doakan kamu menjadi cewek yang sukses. Tapi jangan lupakan Aku. Jangan lupakan sahabat-sahabatmu disini. Kami pasti akan sangat merindukanmu, Rista." ucap Dinda sembari menjabat tangan Rista dengan erat.


" Iya, Dinda. Aku nggak akan pernah lupa berdoa. Aku juga nggak akan pernah melupakan kalian dan semua teman-temanku."


" Terima kasih, Rista. Sampai bertemu lagi di lain waktu." ucap Dinda lalu mengambil sepedanya yang terparkir di samping rumah Rista.


Bary pun dengan segera meminta izin pulang juga. Ia berniat untuk mengantarkan Dinda pulang sampai ke rumahnya.


Kini rumah Rista kembali sepi. Tak ada siapapun yang tersisa kecuali Ia dan Ibunya. Namun esok pagi, mereka akan pergi ke Jakarta untuk menghadiri pesta pernikahan anak pamannya. Dan Rumah Rista akan di jual untuk bekal selama mereka berada di jerman.

__ADS_1


......................


__ADS_2