Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Maafkan Aku, Ayah


__ADS_3

Esok harinya, Ibu Bary bangun dengan gelagapan. Ia melepas selimut yang ia kenakan dan bergegas berlari keluar kamarnya.


Saat itu Ayah Bary sedang tidur di ruang tamu. Ibu Bary berteriak membangunkan suaminya.


" Yah.. Bangun... Dimana anak kita?" ucap Ibu Bary.


" Hemm.. Ayah tidak tahu." jawab Ayah Bary dengan suara serak dan berat.


" Kok tidak tahu? Dari semalam Bary belum pulang, kemana anak itu?" ucap Ibu Bary lagi.


" Cari di kamarnya, ada atau tidak?"


" Oh, iya." ucap Ibu Bary lalu bergegas berlari menuju kamar Bary.


Namun mendadak tubuh Ibu Bary lemas ketika ia tak menemukan Bary yang berbaring di kamarnya. Sebelumnya ia berharap Bary ada di kamarnya dan masih tertidur. Ia pun kembali menemui suaminya dan memintanya untuk mencari Bary.


" Ibu.. Biarkan saja dia. Mau pulang apa tidak, biarkan saja. Lagi pula dia sudah besar. Sudah bisa mengambil keputusan sendiri."


" Kok Ayah bilang begitu? Bary anak kita satu-satunya, kalau dia kenapa-kenapa, apa kita tak menyesal?"


" Hemmm.. Ibu benar, tapi Ayah sungguh kecewa padanya. Ayah sangat marah kepadanya."


" Memangnya kenapa, apa salah Bary?"


" Kenapa Ibu masih bertanya? jelas saja, dia pulang larut malam dan tidak memberi kabar kepada kita. Apa yang dia lakukan di luar semalaman? Ayah tidak suka kelakuannya sekarang ini, kenapa Bary menjadi semakin berani."


" Mungkin saja ada masalah apa diluar, Ayah. Jangan berpikiran negatif sama anak sendiri. Yang ada, nanti Ayah semakin benci padanya meskipun Bary hanya melakukan kesalahan kecil."


" Ayah ngantuk, Ayah mau tidur dulu. Semalam tidak bisa tidur karena banyak nyamuk di ruang tamu." ucap Ayah Bary lalu dengan langkah santai pergi menuju kamarnya.


" Ya ampun, Ayah.. Baiknya ku cari saja diluar siapa tahu dia sedang di jalan mau pulang." gumam Ibu Bary lalu membuka pintu rumahnya untuk melihat keadaan di luar.


Ibu Bary terkejut setengah mati ketika Ia membuka pintu rumahnya dan menemukan Bary tergeletak di depan pintu. Ia pun berteriak keras.


" Bary!!!" teriak Ibu Bary lalu menangis.

__ADS_1


Ia lalu menarik tubuh Bary dan memeluknya. Air matanya tak kuasa mengalir deras membasahi wajah Bary. Ia juga berteriak memanggil suaminya untuk keluar.


Namun teriakan Ibu Bary membuat Bary terbangun dari tidurnya. Ia lalu berusaha melepaskan pelukan Ibunya yang sangat erat.


" Ibu..Ibu.. Ibu kenapa, lepaskan aku, Bu." pinta Bary.


Namun Ibunya tetap tak menghiraukan suara itu. Ia terus menangis sembari memeluk erat Bary. Ia merasa Bary telah mati dan teriakan Bary seolah hanya arwahnya saja.


Tak lama kemudian, Ayah Bary keluar dan melepaskan pelukan Ibu Bary yang memeluk erat Bary dengan keras.


" Ibu.. Apa yang Ibu lakukan. Lepaskan dia." ucap Ayah Bary.


" Ayah.. Bary telah meninggal. Bagaimana dengan nasib kita, Ayah." ucap Ibu Bary dengan wajah muram yang dibanjiri air mata.


" Dia belum mati. Dia hanya tidur, dan saat ini sudah bangun. Jangan berteriak-teriak yang membuat tetangga pada dengar." ucap Ayah Bary.


" Ha!!! Bary... Kamu masih hidup, Nak? Syukurlah kalau begitu. Ibu khawatit sekali dengan kamu." ucap Ibu Bary.


" Iya, Bu. Bary hanya ketiduran saja. Jangan menangis."ucap Bary menenangkan Ibunya.


" Lalu kenapa kamu tidur disini? Kenapa tak masuk ke dalam rumah?"


" Ayah yang menyuruhnya. Salah siapa pergi dan pulang larut malam. Selama ini Ayah tak pernah melakukan hal yang seperti itu. Ayah juga tak pernah mengajarkanmu untuk pergi dan pulang hingga selarut itu."


" Jadi, Ayah yang menyuruhnya? Kenapa Ayah setega itu sama anak sendiri?! Kasihan, kan."


" Biar saja, Bu. Jangan di bela. Dia melakukan hal yang tidak benar, jangan dibela. Anggap saja itu hukuman untuknya biar dia tidak melakukan kesalahan itu lagi."


" Jangan begitu, Ayah. Kalau mau menghukum anak Kita, Ibu harus tahu dulu apa kesalahannya. Bary tak pernah pergi dan pulang larut malam. Baru kali ini saja dia melakukannya. Pasti ada sebab kenapa Bary melakukannya, Ayah."


" Pokoknya Ayah tak mau tahu penjelasannya, Ibu. Bagi Ayah, dia sudah melampaui batas."


" Maafkan Aku, Ayah. Aku benar-benar tak bermaksud pulang malam. Ayah dengarkan dulu penjelasanku." ucap Bary karena melihat Ibunya tak bisa membuat Ayahnya berubah pikiran.


" Ayah tak mau mendengar penjelasanmu. Sudahlah.. Sebaiknya kamu mandi, masuk kamar dan renungkan kesalahanmu." ucap Ayah Bary.

__ADS_1


" Ayah.. Ayah itu kenapa? Berikan kesempatan Bary untuk menjelaskan pada kita."


" Hemm..baiklah kalau Ibu terus membelanya. Sekali ini saja, Ayah akan mendengarkan alasannya. Ayo katakan, Bary."


" Baiklah, Ayah. Sebenarnya, aku tidak mengajak pergi Dinda ke Taman dekat biasanya. Awalnya aku memang berniat pergi kesana. Tapi aku berubah pikiran. Aku mengajak Dinda jalan-jalan ke Taman Bukit Selatan. Disana ramai dan terang.


Kami sampai melupakan waktu. Untungnya Dinda menanyakan jam kepadaku. Saat itu sudah hampir jam sebelas malam. Aku mau langsung pulang, tapi tiba-tiba hujan sangat deras disertai petir yang menyambar-nyambar. Kami pun terpaksa turun sebelum hujan semakin deras. Tiba di tempat parkir, dan membuka jok motor, tak ada jas hujan di dalamnya. Dan kami pun mengurungkan niat untuk pulang. Aku juga berusaha meminta izin Ayah. Aku hubungi Ayah, tapi Dinda menyuruhku mematikan ponselku. Dia tak ingin petir menyambar ke arah kami karena bermain ponsel.


Makanya aku mematikan ponselku, Ayah. Dan kami pulang setelah hujan mulai reda beberapa jam kemudian."


" Tapi intinya, kamu tetap pulang malam kan, Bar." ucap Ayah Bary lagi.


" Iya, Ayah. Maafkan aku. Aku janji tak akan mengulanginya."


" Ayah..maafkan Bary. Dia sudah meminta maaf. Ayah jangan pasang wajah marah begitu." ucap Ibu Bary.


" Bary.. Seharusnya kamu tak disini. Seharusnya kamu sudah di luar negeri bersama Rista. Ayah tahu, bukan karena Ayah kan, alasan kamu untuk tetap tinggal dan menyiakan peluang kamu?"


Bary terdiam mendengar ucapan Ayahnya. Ia juga tak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan yang diberikan Ayahnya. Sejujurnya, Ayahnya bukan satu-satunya yang menyebabkan Bary tetap tinggal. Tetapi ia sangat mencintai Dinda. Ia mulai tak bisa menjauh dari Dinda. Dan pada akhirnya, ia lebih memilih menggugurkan mimpinya daripada berpisah dengan Dinda.


" Ayah..kenapa bicara begitu?! Memangnya apa yang salah dengan Bary. Dia sudah selama ini membantu kita. Apa itu semua belum cukup membuktikan alasan Bary tetap tinggal disini?" ucap Ibu Bary dengan sedikit emosi.


" Ibu... Ayah merasa, Bary mengalami kemunduran saat dekat dengan Dinda. Ayah yakin, Bary itu sangat menyukai Dinda. Makanya dia tak ingin pisah dengan Dinda. Itu yang Ayah tidak suka darinya."


Melihat Ibu dan Ayahnya mulai tegang. Bary menyela perdebatan kedua orang tuanya. Ia pun mulai berterus terang.


" Ayah.. Ibu.. Hentikan.. Kenapa kalian menjadi bertengkar karena aku? Ini semua salahku. Aku yang bertanggung jawab. Aku hanya ingin kalian mendukungku. Menerima apa yang sudah aku putuskan.


Ibu.. Ayah memang benar. Dinda adalah alasanku untuk tetap tinggal disini. Aku sangat mencintainya. Dia lah yang selama ini memberiku semangat untuk belajar. Apakah aku salah jika aku memiliki seorang kekasih? Aku tak akan mengecewakan kalian dengan apa yang telah menjadi keputusanku. Aku akan tetap berusaha membuat kalian bangga kepadaku. Percayalah kepadaku, Ibu.."


" Apa Ibu dengar? Apa yang keluar dari mulut anakmu ini? Ayah tahu apa yang Bary sembunyikan dari kita. Ayah tahu, kita bukan satu-satunya alasan Bary tetap berada disini. Di tengah-tengah kita." ucap Ayah Bary sembari duduk rebahan di lantai.


" Ayah salah..kenapa aku masih disini dan menghilangkan impianku bisa belajar ke luar negeri. Itu bukan hanya karena Dinda. Ayah ingat, waktu Ayah sakit. Siapa yang menggantikan Ayah mencari uang? Sementara Ibu menemani Ayah di rumah sakit. Itu juga menjadi perhitunganku. Dinda memang alasanku berada disini, tapi karena aku juga tak ingin jauh dari orang tuaku. Apa aku salah?" Ungkap Bary dengan penuh rasa emosi.


" Kamu tak salah, Bary. Ibu bisa memaklumi itu. Ibu mengerti perasaanmu. Ayahmu saja yang tak menyadari. Kamu itu sangat dibutuhkan dirumah ini. Jika salah satu diantara kami kenapa-kenapa, siapa yang akan dimintai pertolongan. Sudahlah, jangan hiraukan Ayahmu. Pastinya Dia bisa berpikir." ucap Ibu Bary sembari menepuk-nepuk dengan lembut lengan anaknya.

__ADS_1


Sementara itu, Ayah Bary yang sebenarnya kecewa berat dengan keputusan Bary hanya bisa menghela nafas panjang. Namun ia juga telah menyadari, selama ini Bary sangat banyak membantu. Namun karena kekecewaannya, apapun yang dilakukan Bary tak pernah membuatnya bangga. Terkadang ia membiarkan Bary melakukan apapun yang Bary suka. Namun terkadang Ia juga mencari-cari kesalahan Bary ketika kekecewaannya akan Bary kembali teringat.


......................


__ADS_2