Dia Milikku Tetapi Untukmu

Dia Milikku Tetapi Untukmu
Bulan Pertama di Sekolah Putih Abu-Abu


__ADS_3

Dua minggu kemudian, Dinda dan Bary menginjakkan kaki mereka di SMA. Setelah mereka mendaftar sekolah dua minggu yang lalu, mereka akhirnya di terima di Sekolah Negeri terfavorit di Yogya.


Bary dengan nilai tertingginya menempati kelas XA. Sementara Dinda yang sebenarnya hanya selisih nol koma satu, menempati ruang kelas XB. Mereka berdua sekolah di sekolahan yang sama, namun keduanya tak bisa menempati satu ruang kelas yang sama.


Bary menjadi resah. Ia takut Dinda memiliki kekasih lain karena tak bisa satu kelas. Apalagi cowok-cowok kelas XB banyak yang lebih tampan darinya.


" Kenapa Dinda nggak satu kelas denganku? Padahal hanya selisih nol koma satu. Aku harus bagaimana sekarang. Aku nggak bisa melepaskan Dinda begitu saja. Aku khawatir dia akan berpaling dariku. Murid laki-laki di kelasnya, banyak yang tampan. Aku ini tak bisa dibandingkan dengan mereka." gumam Bary dalam hati.


Hingga seminggu Bary bersekolah, pikirannya hanya dipenuhi dengan kekhawatiran tentang Dinda. Ia pernah melihat Dinda saling bercanda dengan teman laki-laki sekelasnya. Ia juga pernah melihat Dinda jalan berdua sampai ke kantin sekolah. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Ia ingin menegur Dinda tapi dia takut Dinda marah dan menjauhinya.


Kini Ia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi pada hubungannya. Sebenarnya ia sangat cemburu melihat Dinda dengan mudahnya, bergaul dengan beberapa teman laki-laki. Padahal selama ini, ia mencoba untuk menjaga jarak dengan teman wanita di kelasnya.


" Ini nggak adil, Dinda. Kenapa kamu mudah sekali bergaul dengan anak laki-laki. Apa kamu nggak memikirkan perasaanku?" gumam Bary lagi dalam hati.


Ia menjadi tak semangat belajar. Setiap hari dia hanya tiduran saja di kelas. Dia pernah dua kali di panggil ke ruang BK, dengan alasan tak mengikuti pelajaran dengan baik.


Ironisnya, Dinda tak tahu masalah Bary. Ia lebih sibuk dengan teman-temannya di kelas. Maklum, dia satu-satunya murid cewek yang paling cantik di kelasnya. Semua murid laki-laki juga banyak yang menyukainya. Tak heran jika banyak dari mereka yang ingin selalu dekat dengan Dinda.


Pukul sembilan pagi, Bary berjalan menuju ruang Kepala sekolah. Ia berjalan merunduk melewati kelas XB. Pintu ruang kelas XB yang terbuka, membuat Dinda tahu Bary berjalan dengan wajah lesu. Dinda bermaksud menemui Bary. Ia kemudian meminta Izin Guru untuk ke kamar kecil walaupun sebenarnya hanya ingin menemui Bary.


Dinda berlari mengejar Bary sebelum masuk ke ruang Kepala Sekolah.


" Bary..." panggil Dinda.


Bary menoleh ke belakang. Setelah tahu kalau Dinda yang memanggilnya, ia lalu kembali berjalan dan tak menghiraukan Dinda.


" Bary.. Tunggu.." panggil Dinda lagi.


" Ada apa, Din?"


" Ada apa? Kamu kenapa? Kenapa wajahmu seperti itu, dan kenapa aku panggil malah tak menghiraukanku?"


" Kamu mau tahu apa jawabanku?"


" Ya iya lah.. Kenapa kamu itu? Kamu mau kemana?"


" Aku mau ke ruang Kepala Sekolah."


" Kenapa? Mau apa?"


" Bukan urusan kamu. Sudahlah, nggak penting juga buatmu. Kembalilah ke kelas."


" Nggak bisa. Aku tanya, kamu itu kenapa?"

__ADS_1


" Cari sendiri jawabannya pada hatimu!"


" Kenapa kamu membentakku? Aku salah apa?"


" Kamu masih belum mengerti? Baiklah..memang kamu itu cewek yang nggak peka."


" Nggak peka bagaimana masudnya? Jawab, dong."


" Aku mau bertemu Kepala Sekolah. Kepala sekolah sudah menungguku. Maafkan aku."


" Bary.. Bary.." Dinda berusaha menahan Bary yang ingin meninggalkannya.


Namun Bary melepaskan genggaman tangan Dinda. Ia lalu berjalan dengan cepat menuju ruang Kepala Sekolah.


Mata Dinda berkaca-kaca. Air matanya perlahan turun membasahi pipinya. Ia lalu duduk di depan ruang Kepala Sekolah untuk menunggu Bary keluar.


Jam pelajaran pun mulai berganti. Bary masih berada di dalam ruang Kepala Sekolah. Dinda pun masih menunggunya.


Wali kelas Dinda yang kebetulan lewat, melihat Dinda duduk dengan mata sembab. Ia pun menegurnya.


" Dinda..apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa matamu merah? Kamu habis menangis?"


" Eh.. Enggak, Pak. Saya hanya mengantuk saja." jawab Dinda.


" Enggak, Pak. Saya benar hanya mengantuk saja." ucap Dinda lagi sembari mengusap kedua matanya dengan tisu yang dia bawa.


" Saya nggak memaksamu untuk bercerita, tapi apa yang kamu lakukan disini? Ini masih jam pelajaran. Kenapa kamu berada diluar?"


" Eh.. Oh, saya kira sudah jam istirahat, Pak. Maafkan saya."


" Kembalilah ke kelasmu. Kalau tidak, kamu bisa mendapatkan sanksi."


" Eh..baik, Pak. Saya akan kembali ke kelas. Maafkan saya, Pak."


Dinda lalu berjalan setengah berlari menuju ruang kelasnya. Sang Wali Kelas, menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Dinda.


" Hehehe..anak jaman sekarang. Pasti masalahnya karena cinta." ucap Wali Kelas Dinda, lalu segera berjalan menyusul Dinda ke ruang kelasnya.


...----------------...


Di Ruang kepala Sekolah, Bary mendapatkan teguran pedas dari Kepala Sekolah. Ketika awal dia di terima di Sekolahnya, ia begitu mengagumi Bary. Tetapi kelakuan Bary akhir-akhir ini membuatnya geleng kepala. Beberapa Guru telah mengadukan dirinya karena tak mengikuti pelajaran dengan baik.


Kini Bary harus berhadapan langsung dengan Kepala Sekolah. Sebab beberapa Guru BK tak mampu menyelesaikan masalah Bary.

__ADS_1


" Bary.."


" Iya, Pak."


" Kamu ada masalah apa?"


" Tidak ada, Pak."


" Lalu kenapa kamu sering tidur di kelas? Apa kamu tak niat bersekolah?"


" Saya tidak tahu, Pak. Saya akhir-akhir ini mudah lelah."


" Apa kamu sakit?"


Bary menggelengkan kepalanya lalu kembali diam.


" Lalu kenapa kamu seperti itu? Bukankah kamu memiliki nilai tertinggi ketika masuk ke sekolah ini? Kamu murid berbakat. Kenapa kamu menjadi seperti ini, semenjak kamu belajar disini. Apa kamu punya masalah dengan orang-orang yang ada di sekolah ini?"


" Maaf, Pak. Saya tidak ada masalah dengan siapapun di sekolah ini."


" Lalu kenapa?"


" Tidak ada apa-apa, Pak. Mungkin saya hanya kelelahan."


" Kelelahan sampai seperti ini? Lebih baik sekarang kamu pulang. Pulihkan kesehatanmu. Kamu boleh masuk setelah kondisimu membaik."


" Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Saya harus tetap datang ke sekolah ini."


" Dengan kondisimu seperti ini? Kamu hanya akan membuat gaduh para Guru. Dan sikapmu itu membuat teman-temanmu yang lain merasa tak nyaman melihatmu seperti itu."


" Lalu saya harus bagaimana, Pak?"


" Kamu dengar? Apa kamu dengar suaramu sendiri? Kamu bicara seperti orang mabuk. Sudahlah.. Lebih baik sekarang kamu pulang dan lebih baik kamu istirahat dirumah. Selesaikan masalahmu dulu, baru kamu bisa sekolah lagi di sekolah ini."


" Tidak ada kata tapi! Dengar, Bary.. Tak ada murid yang berani menentang Kepala Sekolah, kecuali kamu sudah bosan menginjakkan kaki di Sekolah ini! Sekarang, keluar dan pulang!"


Kepala sekolah tak bisa menahan emosinya lagi. Gaya bicara Bary yang seolah sedang mabuk. Dan jawaban yang tak membuatnya puas, membuatnya tak bisa diam saja. Ia berusaha untuk bersabar bicara dengan Bary. Namun lama kelamaan, ia tak mampu karena Bary benar-benar tak bisa di ajak bicara baik-baik.


Akhirnya, Bary keluar dari ruang Kepala Sekolah. Ia berjalan merunduk dengan langkah kaki seolah pincang. Ia pun masuk ke dalam Kelas lalu mengambil tasnya dan kembali keluar. Semua teman sekelasnya bingung dengan sikap Bary. Bahkan saat itu ada Guru yang sedang mengajar di Kelasnya. Namun Ia berlalu begitu saja tanpa pamit pada Gurunya.


Semua temannya menyorakinya. Membuat suasana di kela XA menjadi ramai. Suara itu terdengar hingga ke kelas sebelah. Yaitu kelas Dinda.


Semua Murid kelas XB pun penasaran apa yang terjadi di kelas XA. Dinda pun demikian. Ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Belum selesai ia menduga apa yang terjadi, Ia melihat Bary yang berjalan menenteng tasnya dengan langkah gontai.

__ADS_1


......................


__ADS_2