
Istirahat tiba, aku memutuskan untuk menghampiri Tara yang sedang duduk sendiri di kantin tempat biasa dia duduk. Karena sedari tadi selama di kelas kami hanya saling diam. Walapun biasanya memang seperti itulah kegiatan kami dikelas.
Ugh, aku mendengus kesal. Lagi-lagi semua orang memperhatikanku. Memangnya salah jika aku bersama Tara? Ah, masa bodo. Siapa yang peduli.
"Tara, gue mau minta maaf atas sikap Indira tadi pagi," ucapku langsung tanpa basa-basi.
"Nggak apa-apa kok," jawabnya pelan. Kali ini tanpa menjawab dengan anggukan kepala. Karena biasanya Tara hanya menjawab dengan anggukan kepala saja
Tara tampak terkejut ketika aku duduk di sampingnya.
"Kenapa?" tanyaku. "Gue nggak boleh duduk di sini?"
"Bukan itu, hanya saja kenapa kamu tiba-tiba baik sama aku?"
Aku terkekeh. "Emang selama ini lo pikir gue jahat?"
"Bukan begitu, maksudku ...."
"Iya gue tahu kok. Lo merasa aneh 'kan tiba-tiba ada orang yang peduli sama lo. Sori, bukan maksud gue gitu. Tapi gue cuma mau jadi teman lo."
Tara melirik ke arahku, menelengkan kepalanya. Astaga, serem banget, sih, itu anak. Tapi kemudian ia tersenyum.
"Thanks udah mau jadi teman aku."
Aku mengangguk tersenyum. "Hmm, sebenarnya ada sesuatu yang mau gue tanya sama lo. Tapi, lo jangan marah."
"Apa?" jawabnya cepat.
"Sebenarnya kejadian yang di lab itu-" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku. Tara memotongnya.
__ADS_1
“Aku sudah menduganya, pasti itu yang mau kamu tanyakan padaku.” Ia tersenyum kecut sambil memandangi makanannya.
“Lo nggak suka gue tanya soal itu, ya?” kataku hati-hati.
Untuk beberapa saat, Tara hanya diam. Lalu, ia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan.
Ia menoleh padaku, “Kamu benar-benar ingin tahu?”
Dengan cepat kuanggukkan kepalaku.
“Baiklah,” kata Tara menelengkan kepalanya dan menatapku.
Lalu dengan suara berbisik, dia berkata, “Sebenarnya aku bisa melihat masa depan.”
Aku terkejut. “Apa? Elo serius?”
Tara hanya mengangguk pelan.
“Entahlah. Mungkin mereka pikir aku-lah penyebab semua kecelakaan itu. Padahal aku berusaha untuk melindungi mereka.” Ia tertunduk lesu.
“Lalu, kenapa lo diam aja saat lo di cap sebagai jinxed? Kenapa lo nggak ngomong yang sebenarnya?” protesku.
“Kata Ibu, aku nggak boleh memberitahu siapa pun tentang kemampuanku ini.”
“Terus kenapa lo cerita sama gue?”
“Karena kamu orang baik. Aku percaya kamu bisa merahasiakannya.” Ia melemparkan senyumnya padaku.
Aku mengangguk. “Tentu saja. Mulai sekarang gue akan jadi teman lo. Kalau lo butuh sesuatu, jangan sungkan untuk minta bantuan ke gue.”
__ADS_1
“Terimakasih.”
Kulihat wajah Tara penuh kegembiraan. Wajah yang terlihat seram itu, tak seseram saat pertama aku melihatnya.
***
Bel tanda berakhirnya istirahat sudah berbunyi. Aku dan Tara segera memasuki kelas. Sudah kuduga, di sepanjang koridor semua mata murid menatap kami dengan heran, sampai kami berada di depan kelas. Bisik demi bisik di lontarkan oleh murid kelasku.
“Ih, lo ngapain bareng sama anak aneh ini, sih?” ucapnya sinis.
“Iya, tempat dia itu seharusnya bukan di sini. Dia itu cocoknya di kelas D,” kata seorang lagi.
Aku memandang mereka berdua dengan malas. Yeah, mereka adalah Dzihan dan Elmira. Dua orang yang paling sering mem-bully Tara.
Dzihan berambut panjang dan agak riap-riapan, dengan kepang raksasa di sebelah kanan yang jelas-jelas dibuat untuk mempermanis penampilan yang berantakan itu. Mukanya jelas tidak secantik Tara. Namun, penampilannya jauh lebih normal.
“Kalian berdua kenapa, sih. Suka banget bully si Tara?”
“SUSUKI dong, suka-suka kita!” ujar Dzihan dengan nada menyolot.
Aku mencoba untuk menahan amarahku.
“Dengar, ya!” Suaraku tertekan karena menahan marah. “Jangan pernah lo berani menghina Tara lagi, dan juga lo,” tunjukku ke Elmira yang bertubuh tinggi bongsor, dengan rambut sebahu yang tak beraturan, dan rok pendek yang malah hanya menonjolkan kaki besarnya.
Mereka diam tak bersuara. Aku tahu mereka tak berani melawanku. Selain pintar dalam bidang pendidikan, aku juga berbakat dalam bidang olahraga. Khususnya beladiri. Meskipun penampilanku terlihat feminim. Tapi, siapa sangka kalau aku pernah menjuarai pertandingan Karate se-Indonesia. Mereka berdua terlihat ingin melawanku, namun mereka memilih untuk diam dan pergi sambil memandangku dengan sinis.
“Terimakasih,” kata Tara tiba-tiba.
“Lo tenang aja, mereka pasti nggak bakal berani ganggu lo lagi.” Aku merangkul Tara.
__ADS_1
Tara hanya tersenyum memandangku.
Kami segera bergegas menuju meja kami. Aku menengok ke kiri-kanan. Tak ada Indira. Hanya ada Febby, teman sebangkunya. Kemana dia, sudah bel masuk belum datang juga?