Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 15


__ADS_3

Aku menghampiri dinding itu dan mengusapnya. Aku terus berpikir tentang tulisan tadi yang kulihat. Apa iya itu hanya halusinasi? Tapi, masa bodo. Yang kuinginkan sekarang hanyalah merebahkan diri di kasur yang empuk milikku. Baru saja aku melempar tubuh ini ke kasur yang nyaman, terdengar bunyi langkah kaki seseorang di samping jendela kamarku. Karena tirainya tertutup, jadi hanya memperlihatkan siluetnya saja. Dengan diliputi rasa penasaran, aku pun bangun dan berjalan mendekati jendela dengan hati-hati. Terlihat badannya yang besar, seperti memakai sebuah jubah. Ia melewati jendelaku sambil membawa sesuatu di tangannya. Tunggu! Itu sebuah parang! Napasku tercekat ketika ia berhenti tepat di depan jendela tempatku berdiri. Ia mengangkat parangnya ke atas kemudian hendak diayunkan ke arah jendela. Spontan aku menutup mata dengan kedua tanganku. 1 menit berlalu, tak ada suara dan tidak terjadi apa-apa padaku. Aku masih hidup. Aku membuka mata dan melihat ada sesuatu yang terselip(mungkin sengaja diselipkan) di jendelaku. Aku membuka gorden dan melihat ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Lalu aku membuka kaca jendela dengan hati-hati. Dan mengambil secarik kertas itu.


Aku membuka dan membacanya.


Jangan coba-coba untuk ikut campur urusan kami. Jika kamu ingin selamat!!!


Sebuah surat seperti surat peringatan, sesaat aku terdiam, apa maksudnya surat ini. Lalu kusadari yang di maksud kata 'kami' dalam surat ini adalah mungkin mereka pelakunya. Jadi, mereka lebih dari seorang. Tapi mengapa mereka mengirim surat ini padaku? Mungkinkah mereka sudah tahu penyelidikan kami? Dan kenapa mereka tahu rumahku? Ini gawat ... aku langsung menutup jendela dengan buru-buru. Berharap pagi segera datang agar aku bisa langsung bertemu dengan Indira.


Keesokan harinya dengan terburu-buru aku berjalan menuju kelas hingga kurang memperhatikan jalan. Dan akhirnya menabrak seseorang. Baru kusadari ternyata orang itu Leo si cowok bete.


"Elo bisa nggak, sih, nggak nabrak gue terus?" bentakku.


"Perché mi dai la colpa? Elo kalau jalan nggak pernah santai. Justru elo yang salah," balasnya tak mau kalah.


"Lo tuh, ya, dasar-" ucapanku terhenti ketika aku teringat sobekan baju yang kami temui di tempat Dzihan terbunuh. Aku segera merogoh tas, mencari-cari sobekan baju itu. Dan ketemu.


"Apa benar ini sobekan baju lo?" kataku sambil menunjukkan sobekan baju itu.


Leo hanya mengkerutkan keningnya melihat sobekan baju itu. "Elo dapat baju gue dari mana? Lo ngambil dari tas gue, ya?" tuduhnya sambil menunjukku.


Aku segera menepis tangannya dari hadapanku. "Eh, elo jangan nuduh hal yang nggak akan pernah gue lakuin, ya! Mana mungkin gue nyolong sobekan baju murahan begini."

__ADS_1


"Bilang aja kalau lo itu diam-diam ngefans sama gue. Lo ngambil baju terus elo gunting-gunting dan lo bagi-bagi ke fans gue yang lain, kan?"


Cih, itu bukan diriku banget. Cowok ini benar-benar membuatku darah tinggi.


"Pede banget sih lo jadi cowok. Jangan mentang-mentang lo punya tampang yang lumayan terus lo pikir semua cewek bakal ngejar-ngejar elo gitu?" Nadaku sewot.


Sesaat aku sadar dengan ucapanku yang bilang tampang Leo lumayan. Dengan nggak langsung itu berarti aku bilang cowok itu cakep.


"Jadi bener ini baju punya elo?" tanyaku kembali serius. Dan mengalihkan pembicaraan sebelum si cowok bete ini menyadari kata-kataku.


Leo mengangguk. "Ya."


"Oh, jadi benar ternyata elo yang udah bunuh Dzihan?" tunjukku.


"Pake nanya kenapa. Udah jelas-jelas sobekan baju lo ini ada di toilet cewek."


Wajah Leo terlihat bingung. "Sumpah, gue nggak pernah masuk ke toilet cewek. Dan gue juga nggak merasa udah bunuh orang. È falsamente accusato la gente!"


"Tapi buktinya ada kok kalau elo itu pelakunya. Dan ini buktinya sobekan baju lo ada di tempat kejadian."


"Kalau lo nggak percaya sama gue. Lo tatap mata gue. Apakah gue bohong," ucapnya sambil melangkah lebih dekat ke arahku. Ia menundukan kepalanya. Yeah karena sudah jelas tinggiku jauh di bawah dia.

__ADS_1


Entah mengapa aku menurutinya begitu saja. Aku pun menatap matanya. Sorot matanya yang tajam menatapku. Di situ terlihat jelas bahwa dia serius dan memang berkata jujur. Jujur, entah mengapa tiba-tiba jantungku berdetak begitu cepat seperti ini. Padahal hampir setiap hari aku biasa membalas tatapan matanya Leo. Tapi tidak pernah sedekat ini. Tatapannya mampu menembus hatiku. Ternyata cowok ini memang lumayan juga. Astaga, kenapa aku jadi baper begini. Aku segera mengalihkan pandanganku sebelum aku terjerumus terlalu dalam.


"Oke, gue percaya elo ngomong jujur," kataku sembari mengambil napas sebanyak-banyaknya, tapi tetap kelihatan tenang. Karena sedari tadi aku hampir saja kehabisan oksigen. Dengan jarak wajah yang sebegitu dekatnya membuat oksigen di sekitarku terhirup semua oleh hidungnya yang mancung.


"Oke, Kalau gitu gue pergi dulu. Ada urusan yang lebih penting dari pada tatap-tatapan sama lo."


Aku segera melangkahkan kaki untuk pergi. Tapi, entah mengapa dan apa yang membuatku tiba-tiba tersandung sesuatu layaknya seorang balita yang baru saja belajar berjalan.


Dan sialnya, tubuhku berhasil di tangkap oleh Leo.


"Non avete niente?" tanyanya sambil memegangi lingkar perutku yang lebih tepatnya terlihat seperti memelukku dari belakang. Aroma parfumnya yang melekat di tubuhnya begitu harum di sudut hidungnya. Seketika aku langsung teringat film Titanic.


Aku segera menjauhkan tangan Leo dari tubuhku. Aku menengok kiri-kanan. Untung saja sekolahan masih sedikit sepi. Jika tidak, mungkin aku akan mendapat tatapan sinis lagi dari para siswi lain.


"Gue nggak papa kok. Thanks," ucapku dingin.


Setelah berkata begitu aku langsung pergi.


Sial, di sepanjang koridor aku terus memikirkan kejadian tadi. Matanya yang mampu menembus hatiku. Aroma tubuhnya yang wangi. Kenapa aku jadi begini, wajahnya yang tampan.


Arrgghh...

__ADS_1


Dia benar-benar tampan.


Lalu mengapa dia tadi menahan tubuhku? Seharusnya dia membiarkanku terjatuh. Bukankah dari awal dia memang tidak menyukaiku. Dia bahkan mencelaku. Tapi dia benar-benar membuat jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Perasaan macam apa ini. Bukankah aku membencinya? Aku tidak boleh menyukainya hanya karena sorot matanya yang mampu menembus jantungku. Lagi pula dia itu orang jahat! Dia seorang pembunuh. Tapi entah mengapa hatiku berkata lain. Hatiku berbeda dengan pikiranku. Otakku berkata bahwa Leo pelaku pembunuhan itu, tapi hatiku mengatakan bukan. Apakah aku harus mengikuti hatiku ataukah otakku. Ini semua membuatku gila.


__ADS_2