
"Indira!" ucapku tak percaya dengan apa yang kulihat.
Indira tersenyum miring, senyum yang sama sekali tak kukenal. "Iya, ini gue si pecundang yang lo bilang hanya berani bersembunyi di balik topeng. Kenapa, Via? Lo kaget?"
Aku hanya diam menatapnya.
"Oh, ya. Elo pasti akan lebih kaget lgi kalau tau juga muka si algojo itu," tunjuknya ke arah si algojo yang berada di belakangnya.
Sesaat aku menyadari sesuatu, sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan selama ini. Aku tahu siapa yang ada di balik topeng itu.
Dan benar saja ternyata Kak Denis.
Dadaku rasanya sesak, aku masih tidak bisa mempercayainya. Orang yang selama ini kukagumi, orang yang sangat kusukai ternyata terlibat sebagai pelakunya.
"Kak Denis!" ucapku seakan tak percaya dengan penglihatan mataku.
Ia tersenyum padaku. Senyum yang tidak aku kenali. Senyum yang tak pernah ia tunjukkan padaku.
Mataku seperti tertusuk jarum. Air mata tak terbendung lagi, dan akhirnya mengalir membasahi pipi. Aku tertunduk, menangis. Menyesali perasaanku yang salah mencintai seseorang.
"Kenapa kamu nangis, Sayang?" tanyanya dengan suara lembut yang dibuat-buat sambil berjongkok di depanku dan mengusap air mata di pipiku.
Aku memalingkan wajah, tak sudi kulitku di sentuh oleh seorang iblis sepertinya.
"Kamu nggak mau aku sentuh? Bukannya kamu suka padaku?" seringainya.
Aku menatapnya tajam penuh amarah. "Kenapa Kak Denis melakukan hal sekeji itu?"
Kak Denis tertawa. "Semua ini aku lakukan demi membalaskan dendam Indrika."
"Indrika?" tanyaku bingung.
Apa hubungannya Kak Denis dengan Indrika?
"Kamu lihat di sudut ruangan itu?" tunjuknya pada salah satu sudut ruangan.
Tidak ada apa-apa. Hanya ada kegelapan. Tunggu! Ada sesuatu di sana, semacam peti. Dari sini terlihat ada sesuatu di dalamnya, sebuah patung--mungkin. Bukan, itu bukan patung. Tetapi ... tetapi ....
Astaga, itu mayat Indrika. Tubuhnya terbaring kaku, wajah yang sangat pucat sekali. Mengenakan gaun pesta yang sering kulihat bila ia menghantuiku. Aku menduga bahwa mayatnya telah diawetkan. Karena seharusnya 'kan mayat itu sudah membusuk. "Jadi pelakunya selama ini kalian berdua?"
"Oh, nggak. Bukan cuma kita berdua kok. Tapi mereka juga," tunjuk Indira ke arah pintu.
Dan tampaklah tiga algojo. Yang di tengah terlihat bertubuh paling besar, sepertinya itu algojo yang megejarku kemarin. Di sebelah kanan ada algojo bertubuh lebih kurus dari algojo yang di tengah. Dan ku pastikan itu yang menyerangku di toilet. Benar perkiraanku. Sedangkan yang di sebelah kiri, algojo yang bertubuh paling pendek dan kecil. Dengan masing-masing algojo memegang sebuah senjata tajam yang tak lain adalah sebuah parang.
Mereka melepaskan topengnya satu persatu.
Aku tercengang tak percaya. Ini semua tidak mungkin. Semuanya pasti bohong. Algojo yang berbadan paling besar ternyata adalah Genta, dan yang di sebelah kanannya adalah Fadhil. Dan yang paling membuatku ternganga sosok yang terakhir adalah Febby. Tapi mengapa? Apa maksud semua ini? Kepalaku rasanya pusing.
"Kenapa kalian melakukan semua ini?"
"Seharusnya lo tanya sama Leo dan si Ratna." ucap Indira dengan murka.
Aku langsung melihat ke arah Leo dan Bu Ratna. Leo mulai tersadar, dan menyadari apa yang sudah terjadi padanya.
__ADS_1
"Denis ... jadi elo ... kalian semua juga?" tanha Leo ketika menyadari bahwa mereka semua pelakunya.
"Kenapa, Leo? Elo kaget?"
"Gue nggak nyangka ternyata elo pelakunya."
Kak Denis berjongkok di depan Leo, ia mengangkat sebelah alisnya. "Gue pelakunya? Harusnya elo sadar elo sendiri dan nyokap lo juga pelakunya. Malah kalian yang udah bikin semuanya jadi gini."
Aku semakin dibuat bingung dengan ucapan Kak Denis.
"Gue sama nyokap gue?" tanya Leo bingung.
"Ya ampun, Leo. Elo masih belum sadar juga? Yang udah bikin Indrika mati itu nyokap lo dan elo!"
Indira berdiri. "Oke, gue akan cerita semua kejadiannya. Harap kalian semua diam dan duduk manis," katanya sambil tersenyum miring. "Sebenarnya Indrika meninggal karena ditabrak oleh Bu Ratna. Dan Bu Ratna kabur gitu aja tanpa mempertanggung jawabkan perbuatannya," tunjuk Indrika sesekali menggunakan tongkat baseball yang dipegangnya ke arah Bu Ratna. Entah dari mana ia mendapatkan tongkat itu. Tahu-tahu ia sudah memegangnya.
"T-tapi i-itu hanyalah ke-kecelakaan ... s-saya ti-tidak sengaja ... menabraknya," sela Bu Ratna diikuti isak tangis, dari suaranya ia terdengar menahan rasa sakit.
"Tapi Ibu udah biarin Indrika menderita," bentak Indira, matanya memerah penuh amarah. "Coba aja kalau Ibu menolongnya, mungkin Indrika masih bisa diselamatin." Ia memelankan suaranya.
Indira menatap lurus ke depan, pandangan matanya tajam. "Malam itu, malam saat Leo ulang tahun. Indrika memberinya sebuah Kado. Kado yang dia beli pakai hasil uang tabungannya sendiri. Tapi Indrika nggak sengaja melihat kado yang ia berikan pada Leo ternyata ada di tempat sampah."
"Tapi gue nggak ngerasa ngebuang kado dari sodara kembar lo itu." Leo membela diri.
"Iya, gue tahu. Karena yang buang kado itu adalah Dzihan sama Elmira. Karena, mereka nggak suka Indrika dekat-dekat sama lo. Mereka takut tersaingi oleh Indrika. Sebelum-sebelumnya juga mereka sering bully Indrika. Indrika emang nggak pernah cerita apa pun sama gue. Tapi gue tahu sendiri kalau dia sering di bully." Indira menoleh ke arah Leo. "Dan itu semua gara-gara Indrika suka sama lo. Jadi, Dzihan dan Elmira mengancam Indrika kalau masih saja berani deketin lo."
Kini aku tersadar dengan ucapan Elmira dan Dzihan tempo hari yang berkata bahwa siapa pun yang dekat-dekat dengan Leo akan bernasib sama dengan yang lain. Termasuk Indrika.
"Waktu itu gue tau gimana sakitnya perasaan Indrika melihat pemberiannya ada di tempat sampah." Indira meneteskan air matanya. "Dan kita berniat untuk membalaskan dendam Indrika dengan membunuh Dzihan dan Elmira. Lalu Denis yang merencanakan semuanya. Termasuk menaruh sobekan baju Leo di toilet. Sesaat sebelum kita memeriksa tempat itu, agar elo nuduh Leo sebagai pelakunya. Sehingga mudah bagi kita untuk menjalankan rencana berikutnya."
Indira melanjutkan bercerita. "Indrika menangis dan berlari tanpa memperhatikan jalan. Dia tidak menyadari kalau dia sudah berlari terlalu jauh. Sampai di tengah jalan tiba-tiba ia tertabrak mobil. Dan tak disangka ternyata itu adalah mobil Bu Ratna. Karena tahu yang ditabrak ternyata adalah salah satu murid di sekolahnya. Bu Ratna terlihat panik, lalu ia melarikan diri begitu saja. Untunglah Denis mengikuti Indrika, sehingga ia tahu kejadiannya. Tapi, itu semua terlambat karena, nyawa Indrika sudah nggak ada."
Semuanya terdengar seperti dongeng bagiku, dongeng yang sangat menyeramkan. Wow, aku nggak pernah berpikir bisa ikut terlibat kasus balas dendam begini.
"Dan elo, Leo. Lo tau 'kan sodara gue itu suka sama lo. Tapi, kenapa lo nggak ngasih dia kesempatan buat dekat sama lo."
"Gue nggak tau kalau ternyata Indrika suka sama gue."
"Oh, ya. Gue lupa. Cowok sombong kayak lo mana bisa bedain mana fans lo dan mana yang benar-benar sayang sama lo," ujarnya dengan tersenyum sinis.
"Sori," sesal Leo.
"Denis yang melihat kejadian itu nggak terima kalau Indrika harus mati dengan cara seperti itu. Maka ia kasih tau gue. Gue juga nggak terima sodara gue mati mengenaskan seperti itu. Dan kita pun bekerja sama untuk balas dendam sama orang-orang yang terlibat."
"Tapi kenapa Kak Denis begitu pedulinya pada Indrika? Lalu, mengapa kalian juga berkomplomi dengan mereka? Lalu Febby," pertanyaan itu keluar bertubi-tubi dari mulutku.
Kini Indira mengahampiriku dan tersenyum manis. "Itu karena Denis sangat menyayangi Indrika. Hanya, Indrika lebih memilih mengejar Leo yang jelas-jelas tidak pernah peduli sama perasaannya. Kalau Genta sama Fadhil, mereka adalah sahabat gue sama Indrika. Mereka juga nggak rela Indrika mati dengan cara seperti itu. Karena kesetiaan kawan mereka. Mereka mau membantu kita untuk membalaskan dendam Indrika. Apa lagi mereka juga nggak begitu suka dengan Leo, karena sifatnya yang sombong itu. Sedangkan Febby, dia adalah anak dari saingan bisnis bokapnya Leo. Keluarga Leo-lah yang sudah membuat bisnis keluarga Febby hancur dan bangkrut. Dan mereka juga yang sudah membuat Ayah Febby stress hingga akhirnya bunuh diri. Dan sekarang Febby harus hidup susah. Bahkan ia harus mati-matian untuk mendapatkan beasiswa agar ia tidak di keluarkan dari sekolah. Makanya ia sering berada di perpustakaan untuk belajar." Pandangan Indira beralih ke arah Febby. Wajah Febby terlihat sedih jika harus membayangkan masa lalu Ayahnya. "Maka, ia pun setuju untuk membantu kami sekaligus membalaskan dendam Ayahnya."
Aku benar-benar tak habis pikir. Ternyata orang-orang yang selama ini yang berada di dekatku-lah pelakunya. Kak Denis, orang yang selama ini kukagumi. Aku cintai. Ternyata jahat. Dan yang tadinya aku anggap sebagai sahabat baruku ternyata sama jahatnya. Kini semua terlihat jelas. Semuanya jawaban terjawab sudah.
Kelopak mataku tak sanggup lagi menahan luapan air mata yang semakin memaksa keluar. Aku mulai menangis.
"Jangan bilang cermin-cermin yang pecah karena di lempari batu itu ulah elo, Ra?" tanyaku ketika menyadari kecelakaan yang menimpaku waktu itu.
__ADS_1
"Itu bukan ulah gue, kok. Itu ulah Kak Denis sendiri yang mau celakai lo. Tapi, sialnya si Leo berhasil selamatin lo. Coba aja dia nggak ada. Mungkin sekarang lo udah ada di rumah sakit."
Aku tak habis, orang yang selama ini aku kasihi ingin mencelakaiku.
"Lalu, kenapa lo libatin gue, Ra. Emang apa salah gue?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutku.
Indira tertawa, tawa yang begitu menakutkan. Tawa yang tidak pernah ia tunjukkan padaku. "Via, Via. Lo itu beneran bodoh dalam hal cinta, ya. Lo nggak sadar kalau si Leo suka sama lo?"
Apa? Si cowok bete suka padaku? Aku tercengang tak percaya. Ini semua nggak mungkin. Semuanya pasti bohong. Aku melirik ke arah Leo. Ia memalingkan muka.
"Karena lo orang yang Leo sayang. Gue sengaja nyuruh Denis supaya bikin lo suka sama dia. Dan kita bisa gunain lo sebagai senjata untuk jatuhin Leo. Selain itu, lagi pula lo orangnya kepo. Pake segala pengen menyelidiki kasus-kasus yang terjadi di sekolah. Padahal kita udah kasih lo peringatan. Tapi lo ngeyel, sih. Dan karena kesalahan lo sendiri, kita pun menjadikan lo target juga."
Setelah Indira berbicara seperti itu, Kak Denis mengambil tongkat baseball dari tangan Indira. Jantungku berdetak kencang, apa yang akan dilakukannya.
Ia berdiri tepat di hadapan Leo. Leo mendongak menatap tajam sahabat yang kini ternyata musuhnya.
"Gue punya pilihan buat lo." Sambil memain-mainkan tongkat baseballnya.
"Lo pilih siapa yang mau gue siksa dulu? Nyokap lo yang udah mengandung dan melahirkan lo ... atau orang yang elo sayang?"
"Elo mau apa dengan tongkat itu?" tanyanya dengan tajam. Ia memandang Kak Denis seolah-olah ingin segera menerkamnya jika saja tangannya tak diikat ke belakang.
"Karena lo nggak jawab. Jadi, gue aja yang putuskan. Gue pilih ...."
Bughhh...
Tiba-tiba Kak Denis melesat ke arah Bu Ratna dan memukulnya. Seketika tubuh Bu Ratna terkulai lemas di atas lantai. Tak bergerak.
Aku menjerit.
"Madre!" teriak Leo. Aku melihat air matanya tumpah. "Elo benar-benar brengsek, Nis."
"Thanks," senyumnya. Setelah itu ia menghampiriku. Napasku langsung tertahan. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Sekarang giliran elo, Via," ucapnya dengan senyum menakutkan. Sebelum ia melakukannya, ia menatapku terlebih dahulu. "Kenapa kamu terlihat ketakutan? Indira bilang kamu nggak takut pada kami si pecundang. Dan sekarang bersiaplah menerima amarah dari si pecundang ini."
Ia pun mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan siap mengayunkannya padaku. Aku hanya bisa menutup mata. Menanti apa yang akan terjadi.
***
Bughhh...
Terdengar bunyi pukulan keras, tetapi aku tidak merasakan sakit sama sekali, aneh. Apa aku sudah mati? Lalu, kuberanikan diri untuk membuka mata. Dan aku melihat wajah Leo yang tersenyum lembut padaku. Ternyata yang terkena pukulan tadi adalah Leo. Ia telah melindungiku.
Darah segar mengalir di pelipisnya.
"Leo," panggilku terbata-bata.
Tapi Leo tidak mendengar ucapanku lagi. Pandangan mata yang biasanya tajam mulai membuyar, lalu seluruh tubuhnya ambruk menimpaku.
"Sial, kenapa si ******** ini malah menghalangi?" geram Kak Denis.
"Apa? Sadar diri, dong! Elo yang ********. Dasar brengsek!" teriakku sambil berusaha menahan tubuh Leo dengan tangan terikat.
__ADS_1
Wajah Kak Denis memerah karena marah. "Beraninya lo bilang gitu ke gue." Kemudian ia melayangkan tongkatnya ke arahku. Spontan aku menjerit sekeras-kerasnya.