Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 13


__ADS_3

Pulang sekolah. Aku duduk sendiri termenung di taman sekolah menunggu kedatangan Indira. Sebagian murid sudah pulang. Sebagian lagi masih di sekolah untuk mengikuti kegiatan ekskul.


Yeah, tadi dia sempat berkata padaku kalau dia ada urusan sebentar dengan Genta dan Fadhil. Awalnya aku merengek minta ikut dengannya. Tapi, dia malah melarangku.


Aku menundukkan kepala dan memandangi jari-jari tangan.


"Sori, ya gue lama." Indira menepuk pundakku. Dan itu tentu saja membuatku kaget setengah mati.


"IN-Di-RA, lo bisa nggak, sih. Nggak usah ngagetin gue terus?" gerutuku kesal sambil menekankan setiap huruf namanya.


"Hahaha ... gimana dong, itu udah jadi hobi gue sekarang."


"Bikin orang jantungan itu yang lo bilang hobi?" kataku mencemooh.


"Udah, ah. Ayo kita ke TKP!" Ia merangkul tanganku.


Ketika kami hendak pergi. Saat itu juga datang Kak Denis menghampiri kami. Ia berjalan dengan santai. Dengan gaya seperti itu membuatnya terlihat semakin cool.


"Hai," sapanya. Ia menoleh padaku dan tersenyum manis.


Ya ampun, senyum cowok ini benar-benar maut. Aku berusaha menyembunyikan perasaan girangku karena disapa oleh cowok yang kucintai. Tunggu! Aku cinta sama Kak Denis? Tentu saja, kalau bukan cinta apa lagi namanya.


"Kok, kalian belum pulang? Atau kalian ikut kegiatan sekolah?" Ia menyipitkan mata.


"A-" aku hampir saja keceplosan bicara tentang tujuan kami. Meskipun aku menyukai Kak Denis, tapi apakah dia berhak tahu. Lagi pula misi ini hanya kami berdua yang tahu.


"A ... apa?" tanyanya bingung.


Aku menatap Indira dengan pikiran apakah aku harus memberitahukan semuanya?


"Udah, Vi. Nggak apa-apa kok kalau Denis tahu. Lagi pula dia 'kan orangnya baik. Pasti bisa jaga rahasia kita. Dan siapa tau dia bisa bantu," ucapnya seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan.

__ADS_1


Awalnya aku sedikit ragu. Meskipun dia baik, bagaimana jika Kak Denis malah menertawakan kami. Seolah-olah kami hanyalah seorang siswa biasa yang berharap bisa jadi seorang detektif yang nggak banget, deh.


Melihatku yang hanya diam, Indira angkat bicara. "Begini, Nis," ucapnya dengan cablak yang menurutku nggak sopan karena memanggil Kak Denis dengan menyebut namanya seperti itu. Karena bagaimana pun Kak Denis 'kan Kakak kelas kami dan umurnya juga lebih tua dari kami. "Kita mau menyelidiki kasus kematian Dzihan yang nggak wajar itu. Dan siapa tau ada hubungannya sama kasus sodara kembar gue yang hilang setahun yang lalu." Nadanya terdengar seperti mereka sangat akrab sejak lama.


"Maksudnya ... Indrika?"


"Kak Denis juga tau soal Indrika?" tanyaku.


"Gimana nggak. Kasusnya waktu itu bikin seisi sekolah heboh banget. Tapi itu 'kan udah setahun yang lalu? Bagaimana mungkin sekarang kasus itu balik lagi?"


"Itu karena ..." Indira memandangku. Dan sesekali menoleh ke arahku. "Indrika selalu menghantui Livia."


Kak Denis terlihat sedikit terkejut. "Jadi, Indrika sodara kembar kamu itu sudah meninggal?"


Kami mengangguk pelan.


Tiba-tiba angin aneh menyentuh pipiku. Membuat semua daun di pepohonan bergoyang-goyang. Dan di situlah aku melihat sosok Indrika kembali. Aku langsung memalingkan muka. Berpura-pura tidak melihat apa-apa. Sebentar lagi kami akan mengungkap kasusmu. Jadi tolong jangan terus menghantuiku. Kemudian bayangan itu menghilang.


Aku dan Indira saling pandang. Lalu, Indira mengangguk. Kemudian disusul olehku.


Dari kejauhan aku melihat si cowok bete Leo yang memperhatikan kami dengan raut wajah datar. Aku mendengus kesal. Kenapa cowok itu masih ada di sekolah. Kenapa dia tidak pulang aja dan nggak usah balik lagi ke sekolah ini.


Tanpa kusadari, Kak Denis memperhatikanku dan melihat arah mataku memandang. Kemudian ia pamit pergi dan menghampiri Leo. Kupandangi dari jauh mereka terlihat seperti sedang berantem kecil-kecilan. Entah apa yang mereka bicarakan. Dari raut wajah si cowok bete itu marah-marah sama Kak Denis. Kak Denis berusaha untuk menenangkannya. Tapi itu tak membuatnya lebih baik. Ia justru pergi meninggalkan Kak Denis sendirian.


"Mereka kenapa, ya?" tanyaku pada Indira.


Indira mengangkat bahunya. "Entahlah. Kita ke sana, yuk!"


Kami pun menghampirinya.


"Ada apa, Kak? Kok kayaknya si cowok bete itu marah banget?" tanyaku ketika berada di samping Kak Denis.

__ADS_1


"Biasa, urusan anak cowok"


"Oh ...."


"Ngomong-ngomong kok kamu manggil dia aneh banget?"


"Aneh gimana? Memang tampang dia selalu datar dan bete. Aku nggak salah 'kan manggil dia si cowok bete?" jawabku polos.


"Kamu ini ada-ada aja, ya," ujarnya geli dan tertawa kecil. Yang menurutku tawa itu membuatnya terlihat dermawan.


Aku ikut tertawa. Dan dunia serasa milikku.


"Ekhmmm ..." Indira berdehem, aku hampir saja melupakannya. " jadi, mari kita langsung pergi ke TKP."


Toilet itu masih dibatasi dengan garis kuning, dan tentu saja tidak ada yang boleh datang ke sini. Sampai kasus ini selesai. Kami pun pergi ke toilet dengan sembunyi-sembunyi. Karena jika ketahuan penjaga sekolah maka kami akan dilaporkan pada Kepala Sekolah.


Aku, Indira dan Kak Denis sibuk memeriksa setiap sudut toilet. Walaupun aku sedikit ragu, karena dari hasil penyelidikan polisi. Tidak ada bukti apa pun yang ditinggalkan pelaku. Polisi yang sudah berpengalaman saja tidak berhasil. Apa lagi kami, Itu-lah yang membuatku ragu. Beberapa menit kami mencari, tapi hasilnya nihil.


"Aku nggak menemukan apa-apa, Kak"


"Gue juga nggak" timpal Indira.


"Aku juga nggak"


Saat kami tengah berpikir apa yang harus kami lakukan. Aku melihat sebuah sobekan baju yang berada di dekat jendela toilet. Sepertinya tersobek karena tersangkut di paku. Aku menajamkan penglihatanku dan perlahan mendekati jendela.


"Eh, eh, coba lihat ini." Aku menunjuk sobekan baju itu. Kak Denis dan Indira menghampiriku.


"Ini sobekan baju siapa?"


Kak Denis langsung mengambil sobekan baju itu dariku. Dan memeriksanya dengan teliti. Lalu dengan mata melotot, ia berkata, "Ini sobekan baju Leo."

__ADS_1


__ADS_2