
"Via!" senggol Indira yang membuatku tersadar dari lamunanku.
Memang sedari tadi aku melamun. Melamunkan seseorang yang semalaman aku pikirkan. Kali ini bukanlah Kak Denis, melainkan Leo. Semenjak kejadian kemarin, aku jadi sering memikirkannya. Aduh aku ini kenapa,sih? Sebenarnya aku menyukai Kak Denis atau Leo? Tunggu! Aku suka sama Leo? Tidak, itu tidak mungkin. Aku mengacak-acak wajahku yang kusut.
Indira hanya melongo melihatku yang seperti orang gila.
"Lo kenapa, Via? Apa Indrika menghantui elo lagi?" tanya Indira.
"Bukan, bukan itu," jawabku pelan.
Karena memang sudah beberapa hari ini Indrika tidak muncul dihadapanku. Mungkin ia sudah sedikit tenang karena kasusnya sudah hampir bisa kami pecahkan.
"Lalu apa?"
Aku menatap Indira yang duduk di samping kananku. Kami duduk di teras depan kelas.
Kualihkan kembali pandangan ke depan, tak menjawab pertanyaan Indira. Bukannya tidak mau, aku hanya malu dan tak tahu harus bagaimana mengatakannya.
"Oke, kalau elo nggak mau cerita. Nggak apa-apa."
"Oh, ya. Pulang sekolah nanti kita jadi 'kan pergi ke tempat yang ditunjuk si algojo keparat itu?" lanjutnya
"Tentu, gue pengen cepat-cepat menyelesaikan kasus ini." Aku manggut-manggut dengan wajah semangat.
"Emangnya elo nggak takut, tuh, sama algojo itu? Mereka 'kan pakai senjata. Tajam-tajam pula."
__ADS_1
Aku bangun, kini posisiku berada tepat dihadapan Indira. "Kenapa harus takut? Bukankah sebenarnya mereka juga manusia? Hanya saja mereka para pecundang yang bersembunyi di balik topeng dan hanya berani menyerang di tempat yang sepi."
Indira menatapku. "Yeah, lo benar mereka cuma seorang pecundang," sambil tersenyum kecut.
"Lagi pula kita nggak cuma berdua kok, ada Kak Denis dan L-Leo." Suaraku terdengar ragu-ragu saat mengucapkan nama Leo.
"Apa? Leo? Elo yakin mau ajak dia?"
Aku mengangguk mantap. "Tentu saja. Kasus ini 'kan juga menyangkut nyokapnya."
"Elo benar. Oke, gue setuju. Gue juga udah nggak sabar pengen tahu siapa orang yang sudah menyembunyikan sodara kembar gue." Indira bangun dan memandangku. "Kalau begitu mari kita selesaikan kasus ini." Ia mengulurkan tangannya dan mengajakku untuk melakukan gerakan high five.
Aku pun menepukkan telapak tanganku pada telapak tangannya. Kemudian kami tersenyum bersama.
***
Kami pun berangkat menuju pabrik yang di maksud si algojo itu. Aku membonceng di belakang jok motor Leo, entah mengapa saat ditawari oleh Leo, aku mengiyakan saja. Padahal otakku menginginkan Kak Denis yang menawariku.
Ternyata yang dikatakan Kak Denis memang benar, pabrik tersebut letaknya tak jauh dari sekolah. Hanya saja jalanan yangbkami lalui sangatlah sepi, tak ada satu pun kendaraan, atau bahkan orang lewat. Algojo itu benar-benar pintar memilih tempat.
Kak Denis dan Leo mematikan mesin motornya. Mereka terdiam sejenak memandangi bangunan yang ada di depan kami. Sepertinya ini daerah Industri, karena dipenuhi banyak pabrik. Mungkin aku belum mengetahui sepenuhnya tentang daerah-daerah di dekat kompleks baruku.
Ada beberapa pabrik kosong yang kami temui. Akhirnya di salah satu ujung jalan, kami menemukan pabrik yang paling besar diantara pabrik yang lain dan kemungkinan pabrik yang kami cari. Letaknya agak jauh dari pabrik-pabrik lain. Dan pabrik-pabrik terdekatnya juga sudah kosong, terlihat dari lapangan parkir yang kosong melompong--dengan taman yang sudah berubah menjadi hutan belantara saking terbelangkainya. Kami segera mendekati pabrik itu. Yang paling mencurigakan dari pabrik itu adalah jendela-jendelanya yang ditutupi terpal, seolah-olah ada kegiatan rahasia yang terjadi di dalam pabrik itu.
Kami berempat turun dari motor. Suasana terlihat sepi dan mencekam ditambah dengan langit yang mendung.
__ADS_1
"Kalian siap?" tanya Kak Denis menatap kami.
Kami saling pandang, kemudian mengangguk. Sebelum kami melangkahkan kaki. Kami sudah dihadang oleh dua orang algojo yang berperawakan besar. Mereka membawa masing-masing satu parang di dua lengannya.
Kami melangkah mundur.
"Kalian berdua cepat menjauh dari sini," ucap Kak Denis dengan awas sambil memandang tajam algojo itu.
Kak Denis dan Leo sudah mengambil kuda-kuda. Bersamaan dengan itu, mereka langsung menyerang dua algojo itu. Sementara aku dan Indira bersembunyi di balik motor. Kedua algojo itu bertubuh besar, ditutupi beberapa lapis baju rombeng berwarna kusam yang menimbulkan kesan kotor dan bau, menutupi hingga ke ujung kaki.
Yang tak kalah mengerikan adalah parang yang anehnya tampak kecil banget dibandingkan bayanganku, tapi kecil bukan berarti tidak mematikan.
Salah satu lawan Leo menerjang maju sambil mengayunkan parang yang dibawanya. Leo berkelit seraya menangkap tangan yang menyerangnya. Tangan lawannya yang lain mengayunkan parang ke arah perut Leo, tapi untunglah Leo bisa menghindari dan menangkisnya.
Sementara Kak Denis, ia terkena sayatan dari parang si algojo yang di lawannya. Ujung parang yang berwarna merah menandakan bahwa ia berhasil mengenai Kak Denis.
Aku sangat mencemaskan mereka berdua, terlebih Kak Denis yang sudah terluka.
"Apa yang harus kita lakukan, Ra?" tanyaku panik.
Tak kuduga-duga, Indira malah menjerit. "Via, di belakang lo!"
Kusadari matanya yang berkilat dalam mendung memandang ngeri ke arah belakangku. Aku ikut memandang ke belakang. Dan melihat kilatan parang mengayun ke arahku.
Astaga, ternyata ada algojo ketiga!
__ADS_1
*sekali lagi jgn lupa like+vote+coment ya guys 😉😉