Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 19


__ADS_3

Aku memandang bangku kosong yang berada di sebelahku. Yeah, itu bangku Tara. Bel masuk sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Tapi masih tak ada tanda-tanda kehadirannya. Apakah ia marah dengan ucapanku waktu itu? Karena sejak kejadian itu, beberapa hari ini ia tak masuk sekolah. Seharusnya 'kan yang marah itu aku. Bukan dirinya. Karena dia yang sudah menyinggungku.


"Livia, Tara kemana?" tanya Bu Maryanih Guru Biologi yang kebagian mengajar di kelas kami sekarang.


"Maaf, Bu. Saya nggak tahu. Sudah tiga hari juga Tara nggak masuk sekolah," jawabku seadanya. Meskipun kami tetanggaan. Tapi, akhir-akhir ini aku jarang melihatnya di luar rumah.


Aku memalingkan wajah ke jendela. Karena Tara tidak masuk, aku pindah duduk ke tempat Tara yang berdekatan dengan jendela. Sesekali menengok ke arah bangku di sampingku. Kemana dia, apa dia sakit hati dengan ucapanku? Ah, masa bodo. Perduli setan. Toh, ia sendiri yang memulainya. Kenapa ia bicara begitu padaku. Mengapa dia bilang Indira jahat, terus Kak Denis juga. Memangnya mereka berdua salah apa padanya sampai-sampai menjelek-jelekan mereka begitu. Pandanganku kembali menatap ke jendela.


Bel tanda istirahat berbunyi, aku dan Indira sedang duduk manis di kantin. Menanti makanan yang kami pesan.


Aku menatap Indira yang sedang menyedot minumannya.

__ADS_1


"Ra, menurut gue Leo bukan pelakunya, deh."


"Uhuk ... uhuk ..." Indira tersedak. "Kok elo bisa yakin gitu?"


"Waktu gue ketemu sama dia dan gue tanya-tanya soal sobekan baju dia. Trus dia bilang bukan dia pelakunya. Gue juga lihat wajahnya serius banget. Dan matanya juga mengisyaratkan kalau dia itu beneran berkata jujur."


"Ya ampun, Via. Dimana-mana, tuh, mana ada maling yang ngaku. Lagian 'kan udah jelas buktinya kalau sobekan baju dia ada di tempat kejadian. Belum lagi 'kan dulu si Leo juga ngejar-ngejar Indrika. Mungkin aja dia benar-benar ada hubungannya dengan semua ini."


"Terus sekarang apa yang harus kita lakuin?"


"Gimana kalau pulang sekolah kita ke rumah Elmira? Banyak pertanyaan yang mau gue tanyain ke dia. Karena semenjak insiden Dzihan, dia masih belum masuk sekolah juga."

__ADS_1


Yeah, semenjak kejadian kematian Dzihan. Elmira masih belum juga menunjukkan batang hidungnya di kelas. Mungkin ia masih syok dengan kematian Dzihan. Bagaimana tidak, ia menyaksikan sendiri jasad sahabatnya itu yang sangat memprihatinkan. Jika saja aku berada di posisinya, aku pasti akan mengurung diri di kamar.


"Gue setuju sama usul lo," anggukku.


10 menit lagi bel tanda berakhirnya istirahat akan segera berbunyi. Sebelum ke kelas, aku dan Indira mampir dulu ke toilet. Toilet itu kini sudah bersih. Tak ada noda-noda darah bekas jasad Dzihan. Garis kuning yang dulunya di pasang kini sudah dilepas.


Aku mencuci tangan di westafel, sedangkan Indira sedang buang air kecil. Saat memandang ke cermin, muncul bayangan perempuan. Dia berdiri persis di sampingku. Dan tanganku membeku di bawah kran westafel yang airnya tanpa kusadari aku membiarkannya mengalir terus. Membuatku dengan patah-patah menoleh ke arah samping dan bayangan itu hilang! Saat aku kembali melihat cermin, bayangan itu memang betul-betul tidak ada. Aku mencuci muka dengan gerakan kilat.


Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pundakku. Dan itu sontak membuatku terkejut.


"Indira! Kenapa, sih, elo selalu bikin gue jantungan?" umpatku kesal.

__ADS_1


"Ya, mana gue tau kalau megang pundak lo aja bisa bikin lo kaget sampai segitunya."


Aku menghela napas panjang. "Ayo kita ke kelas!" aku menarik tangan Indira.


__ADS_2