Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 23


__ADS_3

"Wah semuanya terdengar masuk akal, fresco," sindirnya setelah selesai mendengarkan penjelasan-penjelasan dari kami.


Kami bergantian saling pandang satu sama lain, bingung dengan reaksi Leo yang tak terduga. Kok si cowok bete ini nggak marah. Seharusnya sekarang dia sudah mencaci maki kami karena telah menuduhnya sebagai pembunuh.


"Kok elo nggak marah, sih?" tanyaku bingung.


Leo mengangkat sebelah alisnya dengan angkuh. "P**erché dovrei essere arrabiato, sedangkan gue nggak merasa kalau gue yang lakuin, tuh."


"Dan elo, Nis. Elo 'kan sahabat gue. Kenapa elo ikut-ikutan nuduh gue. Harusnya lo tau sejelek apa pun sifat gue. Nggak mungkin gue lakuin hal sekeji itu. E 'stata una cosa stupida ..." tunjuknya ke arah Kak Denis sambil tersenyum kecut.


"Sori, Leo. Gue nggak ada maksud gitu. Soalnya semua bukti-bukti mengarah ke elo."


"Jangan bilang kalau kalian juga nuduh gue yang nyulik nyokap gue," tudingnya.


Kami mengangguk ragu-ragu.

__ADS_1


Leo menghela napas panjang. "Oke, kalau begitu kalian harus ngizinin gue ikut menyelidiki semua kasus itu supaya kalian semua percaya kalau gue bukan pelakunya."


"Tapi ..." Aku coba untuk menolaknya, tetapi Indira menahanku dengan tangannya.


"Oke, elo boleh ikut."


Aku mencoba untuk memprotes. Aku tidak ingin satu group dengan si cowok bete ini. Tapi aku tak bisa apa-apa ketika Kak Denis mengangguk ikut mengiyakan.


Tiba-tiba kami dikejutkan oleh sebuah anak panah yang mengarah ke arah kami. Dan menancap di batang pohon yg letaknya tepat berada di belakang kami duduk.


"Siapa yang berani membidik panah ini ke arah kita," tanya Kak Denis seraya memandang di sekitar, namun tak menemukan seseorang pun yang mencolok.


"Lihat, ada gulungan kertasnya," tunjuk Indira ke arah badan anak panah itu. Seperti ucapannya, terdapat gulungan kertas di badan anak panah itu.


"Provare ad aprire!" Meskipun aku tak mengerti bahasa yang diucapkan Leo, tapi aku paham bahwa ia menyuruh kita untuk membuka gulungan kertas itu.

__ADS_1


Aku pun mengambil, dan membacanya. Isi suratnya adalah ....


Jika kalian ingin selamat, jangan mencampuri urusan kami. Tapi, jika kalian memaksa dan sudah terlibat lebih jauh, temui kami di gedung pabrik besar di sekitar sekolah.


Kami saling berpandangan,


Seperti surat ancaman yang pernah aku dapatkan, tulisan ini juga ditulis dengan crayon merah dengan tulisan cakar ayam. Meski begitu, tampak jelas kecerdasan si pelaku. Dengan kata-kata itu dia mengatakan secara tidak langsung bahwa dia telah mengetahui penyelidikan kami. Dan bahkan dia menantang kami untuk menemuinya.


"Pabrik besar di sekitar sekolah? Di mana itu?" tanyaku memandang mereka satu persatu. Berharap salah satu ada yang mengangkat tangannya dan berkata 'aku tahu'.


"Aku tahu, hanya ada satu pabrik kosong yang lumayan besar. Letaknya juga tak jauh dari sekolah," seru Kak Denis.


"Buono, itu artinya kita akan cepat-cepat tau siapa pelaku sebenarnya. Dan membuktikan kalau gue nggak salah."


"Gue yakin pelakunya berkeliaran di sekolah kita." mata Indira menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Jadi, kita mau ke sana?" tanyaku tiba-tiba ragu. Bukan takut. Aku hanya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada kami. Karena ini semua bukan hal main-main. Dan mereka bersenjata. Senjata yang berbahaya jika digunakan oleh orang-orang jahat.


"Iya!" Mereka menjawab serempak. Aku hanya pasrah dengan keputusan mereka.


__ADS_2