Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 6


__ADS_3

Kami duduk di depan teras kelas. Indira memandangku dengan serius, wajahnya penuh selidik.


"Jadi, lo benar-benar lihat gue yang lain?" Ia memulai bicara setelah beberapa menit terdiam memandangiku.


Aku mengangguk mantap untuk meyakinkan bahwa aku tidak berbohong.


"Oke, gue akan cerita sama lo, apa yang terjadi setahun yang lalu."


"Kejadian setahun yang lalu?" tanyaku seraya mengangkat sebelah alis.


"Sebenarnya gue punya sodara kembar." Matanya menerawang seakan mengenang kembali masa lalunya.


Aku membelalak. "Sodara kembar?"


Indira mengangguk pelan. Kemudian ia melanjutkan bercerita. "Namanya Indrika, Indrika Gemini. Dia orangnya ramah, baik, sopan. Banyak orang menyukainya. Tapi suatu hari, dia tiba-tiba saja menghilang. Tidak ada yang tahu dia pergi kemana. Orang tua kami sudah mencarinya kemana-mana. Tapi tak ada hasilnya. Bahkan polisi juga nggak berhasil menemukannya ... keluarga gue udah putus asa. Termasuk gue juga. Gue nggak tahu dia masih hidup atau ..." Indira tak melanjutkan ucapanya. Air mata jatuh membasahi pipinya.


Aku turut merasakan kesedihan yang di alaminya. Sesaat aku teringat sesuatu. Kalung!!! aku mengeluarkan kalung itu dari balik bajuku, karena setelah dibersihkan kemarin kalungnya langsung kupakai.


"Apa kalung ini milik Indrika?" tanyaku menunjukkan kalung itu.


Sejenak Indira memandangi kalung tersebut. "Iya betul. Itu memang punya Indrika. Lihat ini! Kalung kami couple-an." Indira mengeluarkan kalung miliknya.


Memang benar-benar sama persis. Pantas saja aku merasa pernah melihat kalung itu. Ternyata Indira yang memakainya.


"Elo nemu kalung ini di mana?"


Kulihat mata Indira berbinar-binar. Ada secercah harapan dalam matanya untuk menemukan saudara kembarnya kembali.

__ADS_1


"Di pinggir jalan, waktu gue mau pulang."


"Nanti pulang sekolah tolong antar gue kesana, ya," pintanya.


Aku hanya mengangguk, kalau dipikir-pikir menurutku Indrika sudah meninggal--mungkin.


"Ra, kalau menurut gue sih, Indrika masih hidup itu kemungkinannya sangat kecil." Aku mengutarakan apa yang ada di dalam pikiranku.


"Maksud lo?" Indira masih belum paham apa maksudku.


"Jadi gini, Ra. Selama ini Indrika selalu menghantui gue. Makanya gue pikir Indrika udah meninggal. Dan kalau menurut gue, mungkin itu arwahnya, mungkin ada hal yang ingin dia sampaikan."


Kupikir Indira akan marah atas ucapanku. Tapi, ia hanya menundukkan kepalanya dengan lesu. "Lo benar, Via. Lagi pula kejadian itu udah setahun yang lalu. Mungkin ini saatnya. Gue harus menyelidiki kasus Indrika kembali." Lalu ia mendongak. "Lo mau ikut bantu gue?"


Tentu saja aku mau. Aku suka sekali dengan bau misteri. Akan terlihat seperti seorang detektif. Pasti seru! Indira tersenyum melihat anggukanku.


 


 


Ruang laboratorium Kimia dipenuhi oleh murid-murud kelas A1. Yeap, kami berada di ruangan ini karena kami akan melakukan prektek: klasifikasi reaksi nyala logam alkali dan alkali tanah. Awalnya kegiatan kami berjalan dengan baik dan lancar, sampai tiba-tiba Tara si cewek aneh itu berteriak-teriak kesakitan. Entah apa penyebabnya.


"Semuanya cepat kita harus keluar dari lab ini!" teriaknya sambil memegangi kepala seperti orang kesurupan. Matanya merah.


Semua murid panik dan berhamburan keluar. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi ledakan dari dalam lab. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu dengan mulut terbuka. Termasuk diriku. Sungguh, aku melihat semuanya dengan mataku sendiri. Ternyata gosip yang diceritakan Indira memang benar. Semua murid mengalihkan pandangannya ke Tara. Saling berbisik dan memandangnya dengan sinis. Kulihat gadis itu menunduk ketakutan. Takut disalahkan--mungkin. Seharusnya mereka semua berterima kasih, karena bagaimana pun juga Tara sudah menyelamatkan nyawa kami semua. Muncul berbagai pertanyaan tentang Tara dalam benakku.


Guru kimia kami menyimpulkan bahwa ledakan terjadi disebabkan oleh salah satu larutan kimia yang tumpah dan bersatu dengan larutan lain yang jika disatukan akan menyebabkan gas. Untunglah tidak sampai terjadi percikan api. Jika begitu, mungkin ruang lab ini sudah dilahap api. Dan untunglah kami cepat-cepat keluar. Jika tidak, mungkin kami semua akan masuk ke rumah sakit karena menghirup gas beracun yang bisa membahayakan nyawa kami.

__ADS_1


"Eh, guys lihat deh ada jinxed lewat," ejek Dzihan kepada teman sebangkunya yang kuketahui bernama Elmira, yang duduk di atas meja saat Tara lewat di depannya.


Tetapi Tara tak menghiraukan ucapannya dan terus berjalan menuju kursinya yang berada di sampingku.


Tiba-tiba Dzihan dan Elmira menghampiri Tara, dan menggebrak meja kami. Sehingga membuatku terlonjak kaget.


"Kalau orang ngomong 'tuh dengerin! Jangan main asal lewat aja!" bentaknya dengan mata melotot.


Kulihat Tara hanya diam dan menunduk. Ia sama sekali tak merespon apa-apa. Aku merasa iba melihatnya terus di bully seperti itu.


"Lo budeg atau bisu, sih?" tanya Dzihan lantang.


"Atau jangan-jangan lo ..." sahut Elmira.


Sebelum mereka melanjutkan makiannya. Aku segera menghentikannya. "Cukup, sudah! Kalian bisa nggak, sih, nggak bully Tara? Emang Tara punya salah apa sama kalian?"


"Dengar, ya, anak baru! Kita nggak ada urusan sama lo," kata Dzihan dengan lancang.


Sontak saja semua itu membuat para murid dikelasku mengalihkan pandangannya ke arah kami.


Sebelum aku hendak menjawab, tiba-tiba Pak Ikhsan masuk.


"Selamat siang, anak-anak," ucapnya saat masuk kelas.


Anak-anak berlarian ke tempat duduknya masing-masing, termasuk Dzihan dan Elmira yang belum menyelesaikan persoalannya denganku.


Aku terduduk lesu, memikirkan kembali kejadian tadi yang sempat membuatku pusing.

__ADS_1


__ADS_2