Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 7


__ADS_3

Kejadian hari ini benar-benar membuatku pusing. Guru BP di teror, tragedi setahun yang lalu, darah di balas dengan darah, Bu Ratna harus mati. Apa arti semua ini? Memangnya Bu Ratna salah apa sampai ada orang yang ingin membunuhnya? Masa, sih, orang seperti Bu Ratna melakukan sesuatu yang menyebabkan seseorang ingin membalas dendam padanya, kecuali … kecuali si cowok bete itu, dia 'kan anaknya Bu Ratna. Mungkin saja dia melakukan suatu hal sampai-sampai Bu Ratna yang kena getahnya.


Lalu, Indira bilang punya saudara kembar. Tapi dia dan keluarganya nggak tahu di mana sekarang saudara kembarnya itu berada. Meskipun mungkin jasadnya sudah menjadi mayat, apakah mungkin semua ini saling berhubungan? Aku dan Indira harus menyelidiki kasus ini.


Pulang sekolah, seperti yang dimintai Indira. Aku mengantarkannya ke tempat dimana aku menemukan kalung itu.


“Disini, Ra,” bisikku sambil menunjuk ke tanah.


Indira berjongkok. Menyapu-nyapu dedaunan di sekitar tanah itu dengan tangannya. “Gue harap ada petunjuk lain di sekitar sini. Meskipun itu mustahil karena kejadiannya 'kan udah setahun yang lalu. Mungkin jejaknya juga udah hilang. Tapi kita nggak boleh menyerah."


Aku ikut membantunya dengan senang hati. Karena ini-lah yang aku inginkan, menjadi seorang detektif. Yeah, walaupun bukan detektif asli.


Beberapa menit kami melakukan pekerjaan itu. Pekerjaan yang hanya membuat tangan kami kotor saja. Karena hasilnya nihil. Kami tak menemukan apa pun.


“Sial, kenapa kita nggak menemukan apa-apa sih?” umpat Indira.


“Sabar, Ra. Namanya juga usaha. Lagi pula kejadian itu 'kan udah setahun yang lalu. Emang kecil kemungkinan buat kita untuk mendapatkan petunjuk.”


Indira terduduk lesu, terpancar dari raut wajahnya penuh kekecewaan.

__ADS_1


Napasku tersentak ketika melihat sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat kami. Kulihat seorang pria berambut agak kepirang-pirangan dan memakai seragam sekolah persis seperti kami turun dari mobil, yang tak asing lagi bagiku.


Aku menepuk-nepuk pundak Indira. “Ra, lihat, tuh! Bukannya itu si cowok bete? Ngapain dia ada di sini?”


“Benar, itu Leo. Kenapa dia ada di sini? Setahu gue rumahnya bukan di daerah sini, deh.”


Kami terus memperhatikan gerak-gerik Leo yang mencurigakan. Tak berapa lama datang seorang Bapak-bapak menghampirinya, pakaiannya kumuh. Mereka seperti membicarakan suatu hal yang sangat penting. Aku tak bisa mendengar pembicaraan mereka, karena suara mereka sangat kecil seperti sengaja supaya tidak ada orang yang mendengarnya. Kulihat si cowok bete itu mengeluarkan beberapa lembar uang.


“Menurut lo, mereka lagi bicarain apa?” tanya Indira tiba-tiba.


Aku mengangkat bahu. “Mana gue tahu.”


“Aneh nggak, sih. Kenapa dia bisa datang ke tempat yang kebetulan di temukannya kalung milik Indrika?”


Aku menatap Indira bingung. “Maksud lo, lo nuduh Leo yang-” Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, sudah dipotong Indira.


“Bukan gitu maksud gue. Ya, gue Cuma nebak aja. Soalnya 'kan dulu Leo ngejar-ngejar Indrika. Tapi selalu di tolak. Siapa tau mungkin karena itu Leo jadi nekat nyulik Indrika.”


Aku mengernyit mendengar penjelasan Indira. "Jadi, menurut lo Leo beneran pelakunya yang udah sembunyikan Indrika selama ini?”

__ADS_1


“Kan gue pernah bilang ke lo kalau Indrika itu baik, cantik, ramah. Banyak yang menyukainya. Tidak menutup kemungkinan kalau itu bisa aja terjadi sama Leo. Bisa aja 'kan dia yang melakukan itu.”


Aku mengangguk. “Tapi kita nggak boleh langsung nuduh orang dulu. Kita harus menemukan bukti-bukti yang lain.”


“Iya, lo benar.”


“Udah sore nih. Lebih baik sekarang kita pulang.”


Meskipun belum puas dengan apa yang kami dapatkan, walaupun sebenarnya tidak ada. Tapi Indira mengiyakan ucapanku.


“Kita lanjutkan besok, bye,” ucapnya sembari pergi.


Ketika aku hendak melangkahkan kaki, mataku menangkap sosok anak pperempuan yang selama ini membuatku penasaran, siapa lagi jika bukan Tara. Dia hanya diam berdiri beberapa meter dariku. Untuk sesaat aku menatapnya tajam. Perlahan ia berjalan ke arahku sambil menunduk.


Ketika ia melewatiku, aku segera menghentikannya.


"Tara, tunggu!" Aku menahan pundaknya. "Kita pulang bareng."


Tara hanya mengangguk. Dan pada akhirnya baru pertama ini aku jalan bersama anak paling aneh di sekolah. Di sepanjang jalan, ia tak mengucapkan satu kata pun.

__ADS_1


__ADS_2