
Saat itu matahari baru saja terbit dari timur. Kubah langit berwarna keemasan. Burung-burung memperdengarkan kicauan mereka yang riang. Embun tipis menyelubungi rerumputan di taman sekolah.
Aku terduduk lesu. Semalam aku nggak bisa tidur, karena Indrika saudara kembar Indira datang ke dalam mimpiku. Ia terus meminta tolong padaku. Kurangnya tidur menyebabkan daerah kantong mataku menghitam. Mungkin sekarang julukan yang cocok padaku adalah si mata panda--sungguh, hanya saja panda yang ini tidak gendut. Tapi tetap kelihatan imut dan lucu.
Indira menatapku heran. "Elo kenapa, Via?"
Aku menghela napas dan menggeleng, entah mengapa kali ini aku tidak ingin menceritakannya pada Indira.
Indira hanya diam, lalu ia mengajakku pergi ke kantin.
"Dari pada lo pusing mikirin itu terus. Mending sekarang kita ke kantin, yuk," ajaknya.
Aku mengangguk tanda 'iya'.
Suasana di kantin sudah sedikit ramai, kulihat Fadhil dan Genta sedang duduk di tempat biasa mereka nongkrong. Mereka berdua melambaikan tangan pada kami.
"Kalian kemana aja baru nongol?" tanyaku seraya duduk.
"Biasa urusan anak lelaki," ujar Genta.
Aku hanya manggut-manggut, kemudian aku teringat kemarin, aku masih penasaran apa yang mereka lakukan di restoran itu.
__ADS_1
"Oh ya, kemaren gue lihat kalian berdua di restoran. Lagi apa? Sama Febby lagi. Kalian 'kan beda kelas kok bisa sama-sama?"
Tiba-tiba genta tersedak. Ia langsung mengembat minuman Indira yang baru saja sampai di hadapannya.
"Hei, itu minuman gue," protesnya.
"Sori, air gue abis. Dari pada gue mati. Kan nggak keren kalau gue mati gara-gara kesedak."
Indira hanya cemberut.
"Kalian berdua belum jawab pertanyaan gue."
"Elo nggak tau, ya. Kalau Febby itu sepupunya Genta?"
Pandanganku kini beralih ke Indira. Lalu kembali ke Genta.
"Iya, Febby itu sepupu gue. Kemaren kita ke restoran buat makan biasa," jelas Genta.
"Oh jadi kalian makan di restoran nggak ngajak-ngajak gue gitu? Oke fine." Indira berdecak kesal.
"Rugi gue kalau harus ngajak lo. Elo 'kan rakus makannya," ejek Genta.
__ADS_1
Indira hanya memasang tampang bete. Dengan tangan dilipat di dadanya.
Aku hanya tertawa geli. Lucu juga kalau mereka berantem. Aku juga, sih, yang salah. Harusnya aku tidak menanyakan hal itu. Tentu saja orang-orang pergi ke restoran untuk makan.
Susu cokelatku sudah datang. Udara yang masih dingin begini cocoknya minum yang hangat-hangat.
Terdengar bunyi handphone dari saku Fadhil. Sebenarnya di sekolahku tidak membolehkan para muridnya untuk membawa handphone ke sekolah. Tapi masih banyak para siswa yang mengabaikan peraturan tersebut. Termasuk Genta. Boleh, sih, bawa hp. Tapi, dilarang digunakan di sekolah. Hanya boleh dipakai kalau sudah berada di luar sekolah.
Genta membaca pesan masuk dari hp-nya dengan serius.
Aku perhatikan gerak-gerik mata mereka sangat mencurigakan. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kalian kenapa, sih?" tanyaku sesekali sambil meminum susu coklat hangatku.
"Nggak apa-apa. Kita harus cabut dulu. Ada urusan yang harus kita selesaikan. Yuk, Dhil!" Genta bangkit dan beranjak pergi dari duduknya, disusul dengan Fadhil.
"Dah," pamit Fadhil.
Aku menatap kepergian mereka. "Mereka mau kemana, sih? Kok aneh!"
Indira mengangkat bahu. "Mana gue tahu Mungkin emang ada urusan pribadi, yang hanya boleh diketahui para cowok."
__ADS_1