
Sial, kenapa perutku tiba-tiba sakit begini. Kenapa panggilan alam ini datang di saat yang tidak tepat. Aku sudah tak tahan. Aku segera meminta izin pada guru yang sedang mengajar di kelas. Dan langsung bergegas pergi sendiri.
Suasana koridor sampai ke toilet sedikit sepi, karena para siswa sedang belajar. Makan apa, sih, aku tadi pagi sampai sakit perut begini. Yang kuingat hanya tadi aku meminum minuman dari Indira, hanya itu saja.
Karena aku sangat tergesa-gesa, sampai aku tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengikutiku. Aku tak terlalu memikirkannya karena aku sedang sibuk berurusan dengan perutku.
Selama beberapa menit nongkrong. Akhirnya selesai juga. Aku mencuci tangan di westafel. Suasana yang tadinya hening sedikit jadi berisik dengan suara air yang mengalir. Ketika sedang sibuk mencuci tangan, ekor mata kananku menangkap sesosok bayangan yang hendak menyerangku. Spontan aku langsung menghindar ke arah kiri.
Prang!!!
Terdengar benturan bunyi yang keras. Suara sebuah besi yang terbentur dengan keramik westafel. Mataku melotot melihat benda yang sangat tajam itu. Itu sebuah parang dan seorang algojo, ia memakai jubah yang menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya ditutupi topeng yang sangat menyeramkan. Baru kusadari, dia kembali mengayunkan parangnya.
Huft, hampir saja. Aku berhasil menghindarinya sekali lagi. Aku bersyukur bisa mempraktekan hindaran-hindaran yang diajarkan oleh guru karateku. Aku harus cepat-cepat keluar dari toilet. Jika tidak, mungkin aku akan mati di sini. Aku meraih gagang pintu dan langsung berlari tanpa menoleh kebelakang. Sial, jangan-jangan algojo itu pelakunya. Kenapa dia bisa ada di sini? Sesekali aku menengok ke belakang, untunglah dia tak mengejarku. Sesampainya di depan kelas, aku mencoba untuk mengatur napasku yang ngos-ngosan. Aku tidak mungkin masuk kelas dengan keadaan seperti ini. Setelah napasku stabil kembali, aku mengetuk pintu dan langsung masuk ke kelas. Dan duduk dengan tenang.
Istirahat tiba, aku memutuskan untuk berdiam diri di dalam kelas. Aku masih terbayang-bayang dengan sosok algojo itu. Cih, rupanya pembunuh itu tak lain hanya seorang pengecut yang mengumpat di balik jubahnya. Tak berani memperlihatkan siapa dirinya.
"Elo nggak ke kantin?" tanya Indira tiba-tiba duduk di kursi Tara yang masih kosong. Yeah, Tara masih absen dari kelas.
"Gue lagi nggak mood." Aku bersandar ke kursi.
"Kenapa? Lo ada masalah? Cerita sama gue."
__ADS_1
"Tadi waktu gue ke toilet, ada seseorang yang mau menyerang gue," kataku sambil menegakkan posisi dudukku.
"Hah! Siapa?"
"Gue juga nggak tau, soalnya seluruh badannya ditutupi jubah."
"Tapi elo nggak kenapa-kenapa, kan?"
"Iya untungnya gue bisa menghindar. Kalau nggak, mungkin sekarang gue udah jadi mayat."
"Apa mungkin selama ini dia pelaku teror Bu Ratna, pembunuh Dzihan dan Elmira. Atau bahkan mungkin juga pelaku penculik Indrika?" Indira menerka-nerka.
"Bisa jadi semuanya," kataku sambil menggaruk-garuk kepala yang sudah jelas-jelas tidak gatal.
"Eh, Vi. Elo ingat nggak kemaren sebelum kita masuk ke rumah Elmira, kan ada Leo yang baru keluar dari rumah Elmira?"
Astaga, aku baru ingat. Aku memandang Indira dengan serius. Menunggu kelanjutan ucapannya.
"Kira-kira Leo sedang apa, ya, di sana? Atau jangan-jangan dia yang bunuh Elmira," tuduhnya.
"Elo jangan tuduh-tuduh dulu. Kita 'kan belum punya buktinya."
__ADS_1
"Tapi 'kan kematian Elmira pas banget saat Leo keluar dari rumahnya."
Entahlah aku bingung. Kasus ini terlalu rumit bagiku. Belum lagi sekarang, aku pun jadi target si algojo itu.
"Gue bingung, Ra. Kasus ini terlalu rumit buat gue. Atau gue berhenti cari tau aja ya."
"Yah ... nggak bisa gitu dong, Vi. Elo yang mulai jadi elo juga harus selesain. Emang elo nggak kasihan sama gue? Gue pengen banget nemuin jasad sodara kembar gue." Nadanya terdengar ada sedikit kekecewaan.
"Iya, iya. Gue akan bantu elo kok. Jadi nggak usah sedih ya." Aku tersenyum padanya.
Indira membalas senyumanku. "Kita ke kantin yuk!"
"Nggak, deh. Gue mau ke perpus aja. Udah lama nggak pinjam buku."
"Ya udah, deh. Kalau gitu gue duluan, ya." Indira beranjak dari duduknya.
Setelah kepergian Indira, aku segera bergegas menuju perpustakaan. Perpustakaan letaknya tak jauh dari ruang guru BP. Ketika melewati ruangan itu, tiba-tiba aku mendengar kegaduhan dari dalam. Apa yang sedang terjadi di dalam sini? Aku berhenti tepat di depan pintu. Menajamkan pendengaranku. Suasana hening kemudian. Karena penasaran, aku pun membuka pintu.
Tidak ada siapa-siapa.
Atau, setidaknya sekarang tidak ada siapa-siapa.
__ADS_1
Tapi ada bekas-bekas pergulatan yang terjadi di sini. Beberapa barang hancur berantakan, termasuk kursi, meja, bahkan lemari. Astaga, kejadian mengerikan apa yang sudah terjadi di sini. Yang paling mengerikan adalah bercak darah yang menyebar di mana-mana, terutama bekas tubuh diseret di lantai, mengeluarkan bau amis yang rupanya membuatku mual sedari tadi.
Seketika aku menjerit keras, sehingga menyebabkan semua siswa berhamburan dari kelas dan menuju ke arahku. Tubuhku terasa lemas.