
Bel pulang sudah berbunyi 5 menit yang lalu, dan waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Tetapi masih banyak siswa dan guru-guru yang belum pulang. Mereka sibuk dengan kematian Dzihan. Hari ini pun para guru mengadakan rapat di ruangan khusus di mana materi yang dibahas seputar kematian Dzihan. Mereka tidak mengetahui persis motif apa dibalik pembunuhan yang sangat sadis tersebut. Polisi yang menyelidiki kematian Dzihan hanya berkata bahwa korban sudah di bunuh sejak tadi malam, tapi anehnya jejak pembunuh tidak ditemukan.
Kami--maksudku, aku dan Indira duduk di bangku taman. Untuk sesaat kami hanya duduk diam termenung. Masih belum percaya dengan apa yang telah terjadi.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan sekolah ini?" tanyaku tiba-tiba.
"Mungkin semua kejadian ini saling berhubungan." Indira memain-mainkan pensil yang sengaja dibawanya ke taman.
"Bisa jadi, sih," gumamku. "Tapi dilihat dari kata-kata yang di tulis Si peneror Bu Ratna dan pembunuh Dzihan hampir mirip. Itu berarti peneror Bu Ratna dan pembunuh Dzihan adalah orang yang sama. Mungkinkah semuanya memang saling berhubungan dengan kematian Indrika?"
"Menurut gue, ada orang yang nggak terima dengan kematian Indrika. Secara gitu, saudara kembar gue itu orangnya baik, ramah. Pokoknya sempurna, deh. Sampai gue sendiri iri padanya. Banyak orang yang suka padanya. Nah, siapa tahu orang yang nggak terima dengan kematian Indrika, ia bertekad untuk membalaskan dendam pada orang-orang yang menyebabkan Indrika meninggal." Kita saling berargumentasi.
"Tunggu, tunggu! Jadi, maksud lo orang-orang yang menyebabkan Indrika meninggal itu Bu Ratna dan Dzihan. Tapi masa Bu Ratna bisa melakukan hal itu?"
"Ya, gue juga nggak yakin. Tapi ini pendapat gue yang apa adanya."
__ADS_1
"Jika si peneror dan si pembunuh balas dendam atas kematian Indrika. Itu artinya dalang di balik semua ini yang telah menyembunyikan jasad Indrika, dong?"
Indira menatap kagum dengan pemikiran ku.
"Benar juga apa kata lo. Gue sekarang tahu, kenapa Indrika sering menghantui lo. Karena mungkin dia ingin jasadnya dikubur dengan layak. Kita harus mencari tahu. Tapi kita harus mulai dari mana?" tanya Indira yang terlihat sangat bersemangat. "Tapi bukankah sebelumnya kita memergoki Leo yang sedang berada di tempat kalung itu? Mungkinkah Leo juga benar-benar terlibat?"
Sesaat aku terdiam dan berpikir.
"Gimana kalau nanti kita ke toilet, siapa tahu di sana ada petunjuk," usulnya.
"Tapi gue yakin. Pasti ada bukti di sana. Mungkin para polisi itu kurang teliti. Gue masih penasaran tentang siapa pelaku dibalik semua ini. Pokoknya kita harus kesana untuk mencari bukti," kata Indira keras kepala.
***
Ini aneh!
__ADS_1
Kenapa suasana kelas mendadak jadi hening. Mataku mengeliling menatap mereka satu persatu. Semuanya mengeluarkan aura seram.
Pak Ikhsan yang kebetulan mengajar di kelas kami. Suaranya terdengar seperti alunan musik kematian yang entah tidak jelas apa yang dia ucapkan. Mataku terbelalak seketika menyadari bahwa sosok yang duduk di sampingku bukanlah Tara. Melainkan sosok yang selama ini menghantuiku.
Tiba-tiba ia mencengkeram lenganku. Spontan aku berteriak dan mendapati diriku tengah di pelototi oleh anak-anak yang berada di dalam kelas. Termasuk Pak Ikhsan.
"Kamu kenapa, Livia?" tanyanya.
Aku menatap ke sekeliling ruangan. Semuanya terlihat normal kembali. Malahan kini mereka semuanya memandangku. Wah, sepertinya gelar aneh yang dimiliki Tara akan segera diberikan padaku juga. Karena akhir-akhir ini aku sering bertingkah aneh.
"Ada apa, Vi?" tanya Tara memandangku dengan raut wajah datar. Kemudian ia berbisik padaku "Apa dia menghantuimu lagi?"
Aku memandang aneh padanya. Bagaimana Tara bisa tahu tentang 'makhluk itu' yang selalu menggangguku. Sedangkan selama ini aku belum pernah menceritakannya padanya.
Kulirik Indira. Dia melihatku dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Sepertinya saya harus ke toilet, Pak." Aku pun bergegas pergi tanpa menunggu jawaban Pak Ikhsan.