Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 11


__ADS_3

Aku berjalan menuju perpustakaan. Menunduk sambil memandang sepatu hitamku. Matahari mulai naik ke atas. Aku mengembuskan napas teringat lagi kejadian saat tadi. Ketika akan membuka pintu perpustakaan, bayangan perempuan di ujung koridor muncul dan tersenyum ke arahku. Aku mengenal wajahnya. Aku pun memejamkan mata dan berkata dalam hati , "Kumohon Indrika. Jangan menggangguku terus. Aku dan Indira berjanji akan mencari tahu penyebab kematianmu." Tapi saat aku tersadar bayangan itu telah hilang.


"Via, kamu kenapa?" tanya salah seorang teman sekelasku yang keluar dari perpustakaan sambil memeluk buku tebal. Dia adalah Febby.


Aku gelagapan saat mengetahui Febby berada di depanku. Aku menggelengkan kepala. Berusaha menghilangkan perasaan aneh dan segera masuk ke dalam perpustakaan.


Pandangan mataku langsung tertuju pada meja yang letaknya berada di dekat pintu. Di sana duduk seorang cowok berambut pirang. Yeah, si cowok bete itu lagi. Kenapa, sih, akhir-akhir ini dia selalu muncul di hadapanku?


Semenjak kejadian di dekat pintu tadi, kakiku lemas dan akhirnya aku duduk di depan meja Leo.


"Sai perché? Wajah lo pucat banget," tanya Leo saat melihatku.


Aku menggeleng lemah. Menoleh ke arah jendela dan bayangan perempuan itu muncul lagi. Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan.


Tubuh dan tanganku gemetar. Otakku langsung berteriak-teriak tak karuan. Tenagaku seperti habis terkuras. Entah mengapa akhir-akhir ini Indrika membayangiku dengan wajah yang menakutkan. Aku menutup kedua telinga sambil meringis ketakutan.

__ADS_1


"Lo kenapa, sih?" tanya si cowok bete itu lgi.


Aku menggelengkan kepala. Mengatur napas dan kuharap dapat membuatku tenang.


Aku beranjak dan bergegas pergi.


"Stai andando?" tanyanya, namun aku tak memperdulikannya. Sejak kapan dia jadi so care begitu padaku.


Ketika hendak membuka keluar pintu perpustakaan, aku berhenti sejenak dan berbalik padanya. Lalu berkata, "Bukan urusan lo."


***


Aku bergegas menuju toilet dengan kecepatan super. Berharap bayangan Indrika tak mengikutiku lagi.


Saat sampai di depan toilet. Aku melihat noda merah di pintu toilet. Karena tak berpikiran aneh-aneh. Aku hanya menganggap noda merah itu sebagai noda cat.

__ADS_1


Aku membuka pintu toilet, mataku terbelalak.


Mulutku terbuka lebar, dan aku langsung menjerit keras, sehingga seisi sekolah berhamburan menuju toilet wanita.


Tubuhku hampir saja terjatuh jika Pak Ikhsan tidak segera menahanku.


"Ada apa, Livia ... astaga," Pak Ikhsan tak melanjutkan kata-katanya setelah ia melihat apa yang tadi kulihat.


Begitu pun para murid yang tercengang dengan apa yang mereka lihat. Sebuah mayat seorang anak perempuan. Sekujur tubuhnya sudah kaku. Mata melotot yang memperlihatkan bahwa ia mengalami ketakutan yang teramat sangat, dengan mulut terbuka lebar. Kuperhatikan wajahnya yang tak asing bagiku. Berambut panjang dengan satu kepang raksasa di sebelah kanan. Astaga ... dia Dzihan. Gadis malang, ia di bunuh dengan 9 tusukan di dada dan di lehernya. Aku semakin terperanjat melihat tulisan merah yang ada di cermin.


INI BARU PERMULAAN. SATU NYAWA BELUM CUKUP UNTUK TRAGEDI SETAHUN YANG LALU...


Apa lagi ini? Tragedi apa yang telah terjadi setahun yang lalu? Bukankah hanya ada kematian saudara Indira yang misterius itu?


Spontan Elmira yang melihat sahabatnya mati secara tragis berteriak histeris. Hingga akhirnya tubuhnya pun tumbang. Ia sangat syok. Beberapa siswa membantu untuk mengantarkannya ke ruang kesehatan sekolah.

__ADS_1


Aku segera keluar dari kerumunan itu dan mencari Indira.


__ADS_2