
"Via, lihat," bisik Indira menghentikan langkahku.
Yeah, sepulang sekolah kami langsung berangkat menuju rumah Elmira. Namun, tiba-tiba Indira menghentikan langkahku ketika kami berada di jarak beberapa meter dari rumah Elmira.
"Ada apa, Ra?"
"Lo lihat mobil itu. Bukankah itu mobil Leo?" ia menunjuk ke depan rumah Indira. Di sana terparkir sebuah mobil. Yang kukenali sebagai mobil Leo. Aku tahu mobilnya waktu aku dan Indira tidak sengaja memergoki Leo yang sedang memberi uang pada seorang pengemis.
Kami bersembunyi di balik pohon yang lumayan besar. Beberapa menit kemudian keluar seorang cowok yang sangat kukenali. Ia menaiki mobilnya dan melaju pergi dari rumah Elmira.
"Ngapain si Leo ada di sini?" tanya Indira menatapku. Berharap aku tahu jawabannya.
Aku mengangkat kedua bahuku. "Nggak tahu."
Setelah kepergian Leo, kami segera memasuki teras rumah Elmira.
Aku dan Indira saling tatap, lalu Indira menyahut dengan anggukan. Aku tahu apa yang dia pikirkan. Dia menyuruhku mengetuk pintunya. Dan keluarlah seorang wanita paruh baya, rambutnya di sanggul--anggun sekali.
"Cari siapa?" tanyanya.
"Kita teman Elmira, Tante. Kita boleh ketemu sama dia, kan? Kita khawatir soalnya udah beberapa hari ini Elmira absen terus dari kelas," jelas Indira dengan manis. Aku tahu cewek ini berbohong. Dia tidak benar-benar khawatir dengan Elmira. Tentu saja, sebenarnya Indira tidak menyukai sifat Elmira yang angkuh dan sombong. Tapi dia harus berkata-kata manis untuk meyakinkan Ibunya Elmira.
"Oh, tentu. Silahkan masuk." Ia mempersilahkan kami masuk.
"Maaf, ya. Elmira masih syok karena dia harus kehilangan sahabatnya. Jadi, untuk sementara dia libur sekolah dulu." Ia berjalan di depan kami sambil terus bercerita bahwa putri semata wayangnya itu sangat sedih bahkan Elmira tak mau keluar kamar. Sebagai seorang Ibu, ia pun ikut turut sedih dengan kondisi anaknya.
"Kalian tunggu di sini, ya. Tante akan panggilkan Elmira dulu." Setelah berkata begitu, ia langsung menaiki anak tangga menuju lantai atas.
Aku dan Indira memandang ke sekeliling ruangan. Rumahnya lumayan besar, dengan tembok bercat hijau di hiasi ukiran-ukiran bermotif klasik.
"Aaaaaa ..." Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari lantai atas, lebih tepatnya dari arah kamar Elmira. Itu suara Ibunya.
__ADS_1
Aku dan Indira langsung bergegas menuju anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Ada apa, Tante?" tanyaku ketika berada di sampingnya.
"Via, lihat!" tunjuk Indira ke dalam kamar Elmira.
Mataku membelalak menyaksikan apa yang berada di depan mataku. Sebuah kaki menggantung, aku menatapnya dari bawah ke atas. Kulihat tubuh Elmira sedang menggantung. Matanya melotot, dan lidahnya menjulur keluar. Yang lebih menyeramkan, perutnya bolong sehingga terlihat jelas ususnya yang sedikit muncul keluar.
Ibunya seketika ambruk. Pingsan.
Aku dan Indira sangat panik, kami langsung menghubungi polisi.
Suasana rumah Elmira menjadi ramai, garis polisi melintang di sekitar rumahnya. Aku dan Indira sempat ditanyai beberapa hal. Kulihat Ibu Elmira tak henti-hentinya menangis. Ia sedang dipeluk oleh seorang pria yang tak lain adalah suaminya. Suaminya terus berusaha untuk menenangkannya. Seperti insiden pembunuhan Dzihan, tidak ditemukan bukti apa pun. Pelakunya sangat cerdik. Mengapa mereka yang di bunuh? Apa semua ini ada kaitannya?
Aku dan Indira memutuskan untuk pulang. Rencana untuk menginterogasi Elmira gagal total. Tidak disangka-sangka bahwa Elmira ikut jadi sasaran si pelaku. Indira pulang dengan wajah kecewa. Kami memutuskan untuk membicarakannya besok di sekolah. Karena sekarang matahari sudah mulai condong ke barat. Langit sudah berwarna kejinggaan.
Aku tidak tahu mengapa aku ditakdirkan melihat jenazah teman-temanku yang mati karena di bunuh. Saat kematian Dzihan, tujuh hari aku selalu mengingat detail wajahnya. Dan sekarang Elmira.
Aku ragu-ragu melangkahkan kaki ke rumahnya.
"Tara," panggilku.
Tara menengok ke arahku. Wajahnya terlihat pucat tanpa ekspresi.
"Elo kemana aja nggak pernah masuk sekolah? Elo marah sama perkataan gue yang waktu itu, ya?" tanyaku.
Tara menggeleng pelan. "Aku nggak marah. Justru aku minta maaf seharusnya aku nggak bersikap begitu sama kamu." Pandangannya beralih padaku.
Aku sedikit tak menyangka bahwa Tara akan berkata begitu. Akhirnya dia mengakui kesalahannya.
"Nggak papa kok. Terus elo kenapa nggak pernah masuk sekolah?"
__ADS_1
"Aku sedang sakit."
"Apa? Sakit? Elo sakit apa?"
Tara hanya diam tak menjawab.
"Kok elo malah diem?"
"Maaf, aku nggak bisa kasih tahu. Tapi aku baik-baik aja kok," ucapnya sambil tersenyum.
"Oh, ya udah nggak apa-apa kalau elo nggak mau cerita. Oh, ya. Gue ke sini juga mau ngasih kabar soal Elmira. Dia-" Belum selesai aku bicara, Tara memotongnya.
"Elmira mati di bunuh," ucapnya datar.
"Elo kok tahu?" tanyaku tak percaya. Bagaimana bisa Tara tahu. Yang tahu kejadian itu kan cuma aku dan Indira yang tahu.
Sesaat aku teringat perkataan Tara bahwa ia bisa melihat masa depan.
"Sudah sore, aku harus segera masuk ke dalam." Ia bangun dari kursinya dan beranjak pergi. Ketika sampai di depan pintu, ia berbalik padaku.
"Terima kasih karena kamu masih peduli sama aku, walaupun aku udah berkata kasar sama kamu," senyumnya.
Aku membalas senyuman Tara. Setelah itu dia masuk ke dalam.
Aku pun bergegas pulang ke rumah.
Tiba-tiba ponselku bergetar, tanda pesan masuk. Kulihat nomornya tak di kenal.
Sekarang dua orang yang terlibat sudah lenyap, apa yang akan kalian lakukan??
Aku tercengang dan bertanya-tanya, apa maksud dari pesan ini? Nomor siapakah ini? Atau jangan-jangan nomor si pembunuh. Itu artinya Dzihan dan Elmira ikut terlibat atas hilangnya Indrika.
__ADS_1
Tapi, dari mana penjahat itu tahu nomorku?