Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 8


__ADS_3

Sebuah tangan mencengkeram tanganku, aku tak tahu tangan siapa itu, mataku ditutupi oleh kegelapan. Kemudian ada cahaya yang muncul dari atas, seperti celah. Menampakkan seorang anak perempuan yang mirip dengan Indira. Yeap, dia adalah Indrika, saudara kembar Indira. Kulitnya yang diterangi cahaya terlihat sangat pucat, sangat dingin menyentuh kulitku. Kuamati sekeliling, hanya ada aku dan kegelapan yang tiada ujungnya. Lagi-lagi tempat ini.


"Tolong aku," ucapnya lirih, membuat siapapun yang mendengarnya bergidik.


Sebelum aku sempat bertanya, tiba-tiba sebuah cahaya menelanku kembali. Saat itu juga aku membuka mata. Kudapati diriku sudah berada di kamar kembali. Sesaat kutoleh jam wecker di sebelah kasurku menunjukkan pukul 06.00. aku meregangkan badan dan menguap lebar.


Lalu bangun untuk menyibakkan tirai, menatap mentari pagi yang bersinar terang. Di bawah sana orang-orang sudah lalu lalang, anak-anak sekolah di temani orang tua atau pengasuh mereka. Pekerja kantoran agak tergesa-gesa, seolah sepagi ini mereka sudah terlambat. Ibu-ibu mengerumuni tukang sayur yang membawa bayam, daun singkong, serai, telur, tahu, tempe, bahkan daging (terkadang). Kesibukan yang sudah biasa di hari biasa.


Setelah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, aku keluar dari kamar dan pamit ke Ibu, karena Ayah sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Aku bergabung bersama kerumunan pagi hari. Kepul asap kendaraan bermotor mulai memenuhi kompleks, mencekik panas.


Yeah, aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Lagi pula letak sekolahku tak jauh dari kompleks. Di perjalanan terdengar langkah kaki di belakang yang selalu mengikuti irama kakiku melangkah, aku mulai merinding. Langkah kaki itu semakin dekat. Sial, mana jalanannya sepi, tak ada orang yang lewat. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika itu orang jahat. Aku pun memberanikan diri untuk menoleh. Dan ternyata ... oh, shitt. Ternyata itu Tara, ia berjalan dengan santai ke arahku. Tentu saja sedari tadi ia mengikutiku. Sekolah kami 'kan sama. Wajah kami berpapasan, tetapi ia tak menyapaku sama sekali. Ia melewatiku begitu saja. Seolah-olah aku ini sebuah patung yang tidak bergerak.


"Tara, tunggu!" panggilku. Tara pun berhenti.


"Kita berangkat bareng, ya?" Aku nyengir. Berusaha seakrab mungkin dengannya. Aku ini mikir apa, sih, kenapa tiba-tiba aku so dekat sama Tara.


Ia hanya mengangguk, tak bicara sepatah kata pun. Anak ini benar-benar membuatku penasaran. Aku jadi ingin mengetahui lebih dalam tentang dirinya.


Sesampainya di sekolah, semua orang menatapku dengan aneh. Wajar saja karena sekarang ini aku sedang bersama dengan anak yang paling aneh di sekolah.


Indira memandangiku dengan melongo, kemudian ia menghampiriku.


"Via, lo nggak salah jalan bareng anak aneh itu?" bisiknya.


"Ssttt ... lo nggak boleh ngomong gitu. Nanti kalau orangnya dengar gimana?" Aku memprotes.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok. Kalian benar, aku emang anak aneh," sahutnya sambil tersenyum kecut, lalu pergi meninggalkan kami.


Aku jadi merasa bersalah, "Lo sih, ah. Pake ngomong dia aneh. Marah 'kan dia." Aku memukul pelan pundak Indira.


"Lah, dia 'kan emang aneh," ujarnya polos.


"Iya sih. Tapi 'kan lo juga harus jaga perasaan dia. Tara pasti sakit hati banget," cetusku kesal.


"Emang kenapa sih? Kok elo tiba-tiba jadi peduli sama tuh anak?" Indira memandangku aneh.


"Gue tertarik aja sama dia."


"Apa? Tertarik? Jangan bilang kalau elo-"


"Itu nggak seperti yang lo pikirin." Aku cepat-cepat menyela ucapan Indira sebelum dia menuduh macam-macam.


"Gue yakin kalau si Tara tuh nggak aneh. Tapi dia punya satu rahasia yang nggak semua orang tahu," jelasku seraya pergi menuju kelas.


"Apa yang membuat lo berpikiran begitu?"


Aku menatap Indira, lalu membisikan sebuah kata "kepo lo." Setelah itu aku berlari.


"Eh, tungguin gue!" Indira ikut berlari mengejarku.


"Tangkap gue kalau lo mau tahu," ucapku sambil terus berlari, sekali-kali menengok ke belakang.

__ADS_1


"Awas lo, ya!"


Kami berlari sambil tertawa ria seperti seorang anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran. Tak menghiraukan ocehan-ocehan para siswa yang berada di koridor yang merasa terganggu dengan kelakuan kami. Namun, tiba-tiba ....


Bukkk ....


Aku menabrak seseorang dan hampir saja terjatuh jika orang yang kutabrak itu tidak segera merangkulku.


Astaga, Kak Denis. Orang yang tak sengaja kutabrak itu adalah Kak Denis. Orang yang sekarang sedang merangkul pinggangku. Tangannya yang kekar serasa melingkar di pinggangku. Mata kami saling bertemu. Untuk beberapa saat aku terhanyut dalam dekapannya.


"ekhemm ..." Indira menyadarkanku. Aku segera melepaskan tangan Kak Denis dari pinggangku.


"Maaf, Kak. Aku nggak sengaja," ucapku malu-malu.


"Iya, nggak apa-apa. Lain kali hati-hati kalau lari jangan lihat ke belakang terus. Lihat ke depan juga," katanya dengan senyum yang membuat hatiku tertembak panah asmara.


Aku tersenyum malu-malu. Tapi senyumanku hilang seketika setelah melihat cowok berambut kepirangan yang berdiri di sampingnya. Yeah, si cowok bete itu.


"Kalau mau main kejar-kejaran 'tuh di jalanan sana. Jangan di sini. Ini 'kan sekolah buat belajar. Bukan buat bermain!" ucapnya dengan nada menyentak.


"Emang kenapa? Masalah buat lo? Emang ini sekolah punya kakek buyut lo?"


"Lo tuh, ya," geramnya.


"Udah, udah, Leo. Ngapain, sih, lo marah-marah? Lagi pula mereka 'kan nggak ganggu lo." Kak Denis mencoba melerai kami.

__ADS_1


"Dengerin 'tuh apa kata temen lo. Jadi orang 'tuh jangan suka marah-marah. Nanti cepat tua, baru tahu rasa lo," ejekku sambil menjulurkan lidah. Ia mendengus kesal.


Tapi, masa bodo. Aku pun pegi meninggalkannya. Disusul dengan Indira.


__ADS_2