
Bel pun berdering pertanda waktunya pulang. Aku pun dengan sigap merapikan tas. Sesaat aku terdiam memandangi sobekan kain baju yang kami temukan kemarin. Aku masih belum percaya, benarkah si cowok bete itu yang melakukannya. Mengapa ia begitu kejam. Lebih kejam dari yang kupikirkan. Bagaimana ia bisa melakukan hal sekeji itu. Meskipun aku membencinya. Tapi entah mengapa hatiku tak ingin mempercayainya.
Aku langsung tersadar saat menyadari bahwa Tara tak ada di sampingku lagi. Ia sudah keluar dari kelas.
"Tara, tunggu!" teriakku saat melihatnya yang tak jauh dariku jaraknya. Ia pun menghentikan langkahnya. Aku berlari kecil menghampirinya.
"Kita pulang bareng, ya," ucapku setelah berada di sampingnya.
Tara hanya merespon ucapanku dengan anggukan.
Di sepanjang jalan, aku terus berusaha untuk mengajaknya bicara. Topik demi topik aku bicarakan. Berharap Tara merespon ucapanku. Gadis ini benar-benar pelit bicara. Sampailah pada topik kematian Dzihan.
"Menurut elo, kira-kira siapa orang yang tega bunuh Dzihan, Ya?" tanyaku sembari mengusap-usap muka.
Diam. Dan hanya itu yang Tara lakukan. Pandangannya terus lurus ke depan. Lama-lama aku emosi juga. Sedari tadi aku hanya ngoceh sendiri sampai mulut berbusa juga Tara tak mengucapkan satu kata pun.
"Elo kok dari tadi diem terus. Jawab apa kek."
"Apa yang harus aku katakan?"
__ADS_1
Ya ampun, orang ini benar-benar bikin badmood banget. Kenapa sikapnya berubah-ubah. Dulu sudah mulai bersikap baik padaku, mengapa sekarang jadi begini lagi semenjak insiden cermin yang pecah itu. Jika saja orang lain yang bicara padanya. Mungkin mereka akan beranggapan bahwa Tara anak yang abnormal.
"Gue, Indira sama Kak Denis akan menyelidiki kasus itu. Lo mau ikut nggak?"
Tara hanya menggeleng sekali.
"Ya udah kalau begitu."
"Sebaiknya kamu berhati-hati dengan mereka berdua. Jangan terlalu percaya dengan ucapan mereka," katanya tiba-tiba setelah beberapa menit kami terdiam. Aku memandangnya heran. Mengapa ia bicara seolah Indira dan Kak Denis orang jahat.
"Maksud ucapan lo apa bilang gitu?"
"Mereka bukan orang baik."
Namun, lagi-lagi Tara hanya diam menanggapinya.
Arghh ... menyebalkan. Aku seperti menyentak sebuah patung yang tak akan pernah merespon emosiku.
"Elo itu emang nggak tau terimakasih, ya. Masih untung gue mau jadi teman lo-"
__ADS_1
"Aku nggak butuh teman."
Ucapannya benar-benar membuatku marah. Dasar cewek nggak tahu diuntung. Tanpa rasa bersalah ia langsung masuk ke dalam ketika sampai di depan rumahnya. Aku menatapnya dengan kesal.
Aku mendorong pintu rumah dan berjalan menuju kamarku sambil terus menggerutu, "Dia pikir dia siapa? Bisa-bisanya bicara begitu. Gue nggak butuh teman kayak begitu!". Ketika aku membuka pintu kamar, mataku terbelalak melihat tulisan merah besar di dinding.
Tolong Aku!!!
Aku berteriak histeris sampai teriakanku terdengar oleh Ibu. Beliau menghampiriku dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa, Via? Kenapa kamu berteriak?"
"I-itu, Bu!" tunjukku ke arah dinding, tapi ketika aku menoleh kembali ke dinding. Dinding itu kosong. Tak ada coretan sedikit pun.
"Itu apa, Sayang?" Ibu bingung melihat ke arah yang kutunjuk tapi tidak ada apa-apa di sana.
Aku terdiam menatap dinding. Kenapa dindingnya bersih? Apakah tadi hanya halusinasiku saja?
"Kamu kenapa, sih?"
__ADS_1
"Ah, nggak, Bu. Anu ... tadi ada kecoak terbang."
"Kamu bikin Ibu kaget aja. Ibu kira ada sesuatu. Ya sudah, Ibu harus kembali lagi ke dapur. Memasak makan malam untuk kita." Ibu langsung bergegas pergi.