Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 30


__ADS_3

Oh, sial. Dia sudah bangun rupanya. Spontan aku menarik tanganku dan berdiri, siap untuk kabur dengan kecepatan penuh. Lalu membereskan baju-bajuku ke dalam koper dan pergi ke luar negeri. Dan tidak kembali lagi kesini. Oke, mungkin terlalu berlebihan.


Tapi, tanganku keburu ditangkap oleh Leo. Aku membetot tanganku, namun dia tidak melepaskannya. Malahan, cengkeramannya cukup kuat untuk orang yang sempat terkapar tak sadarkan diri selama dua hari.


"Sembri sorpreso. Ehm, apa ada yang aneh dengan muka gue? Soalnya lo keliatan kaget banget."


Astaga, baru kusadari mulutku sedang ternganga lebar bagaikan kuda nil yang sedang menguap dan di pause. Buru-buru aku mengatupnya.


"L-lo jangan kepedean, deh," ucapku tergagap.


Ya ampun, kenapa aku tidak bisa bersikap santai. Terlihat sekali bahwa aku sedang gugup.


"Onesto, gue malah seneng banget kalau ternyata cinta gue nggak bertepuk sebelah tangan," katanya lembut.


Tanpa ragu-ragu lagi aku mengakuinya. "Iya, gue sadar kalau gue juga ternyata suka sama lo."


Leo tersenyum, "Grazie."


"Bisa nggak ngomongnya nggak usah pake bahasa asli lo? Gue nggak ngarti," pintaku.


Leo tertawa geli. "Oke."


Aku ikut tertawa, lalu mendadak aku menyadari sesuatu.


"Tapi, gue bingung. Gimana bisa elo suka sama gue? Ketemu sama gue aja lo marah-marah mulu."


Leo terkekeh. "Gue juga nggak tau. Mungkin karena cuma elo satu-satunya cewek yang berani nyentak dan maki-maki gue." Ia nyengir.


"Biasanya cewek yang ketemu sama gue selalu bicara manis di depan gue. Tapi lo beda. Jadi, gue penasaran sama lo. Tanpa lo sadari, gue selalu memperhatikan lo dari jauh. Dan gue sadar kalau gue ternyata jatuh cinta sama lo."

__ADS_1


Aku terdiam, kemudian tertawa terbahak-bahak.


Leo memandangku bingung. "Apa ada yang lucu?"


Aku menyeka air mata yang keluar dari ekor mataku. "Habis, lo aneh. Cowok lain suka sama cewek karena fisik atau hatinya. Atau kagum sama cewek itu. Nah, elo suka sama gue gara-gara gue suka maki-maki lo. Kan aneh. Nggak ada romantis-romantisnya."


Tidak di sangka-sangka Leo mencium punggung tanganku. Aku terbelalak, tawaku pun berhenti.


"Jujur, elo cewek pertama yang gue suka. Jadi, jangan kecewain gue, ya?"


Aku tersenyum. Dan mengangguk.


 


\*


 


Tiba-tiba handphone-ku berdering tanda panggilan masuk. Aku melihat nomor tak dikenal di layar mungil itu.


"Halo, ini siapa?" tanyaku setelah menjawab teleponnya.


"Halo, ini Via, kan? Ini Tante. Ibunya Tara"


"Eh, Tante. Ada apa, Tan?" Aku duduk kembali di kursi samping Leo. Leo diam mendengarkan percakapanku.


"Apa Tara sedang sama kamu?"


"Iya, Tante. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Kamu harus segera menjauhi Tara, Via. Kamu dalam bahaya." Terdengar nada cemas dari suara Tante Ira.


"Bahaya?" Aku menatap bingung ke arah Leo. "Bahaya apa, Tan?"


"Kondisi Tara masih sakit. Dia belum sembuh."


"Maksud Tante, Tante khawatir aku ketularan penyakit Tara? Emang Tara sakit apa, sih, Tan."


"Bukan! Bukan itu maksud Tante! Tara sebenarnya tidak sakit types ... tapi..." Suara Tante Ira terdengar sedikit ragu-ragu.


"Sebenarnya Tara punya penyakit jiwa."


"Apa?" ucapku tak percaya


Hening sejenak. Leo menatapku, dari tatapannya seolah ia bertanya 'apa yang terjadi'.


"Iya, barusan Tante masuk ke kamarnya. Dan ternyata di dinding kamar mandinya ada beberapa photo kamu dan cowok bule berambut agak kekuning-kuningan. Siapa namanya, ya. Tante lupa."


Sesaat aku memandangi Leo dan mengucapkan namanya ke Tante Ira.


"Maksud Tante Leo?"


Leo hendak membuka mulut dan bertanya kenapa namanya disebut-sebut. Tapi aku segera mencegahnya.


"Iya Leo. Di situ tertulis bahwa Tara menyukai cowok itu. Dan di photo kamu Tara menulis kamu harus mati. Karena tidak ada siapa pun yang boleh memiliki cowok itu kecuali Tara. Jika Tara tidak bisa memilikinya. Maka dia harus menyingkirkan wanita-wanita yang mendekati cowok itu. Makanya Tante mengurungnya di rumah. Tapi, tadi Tara tidak ada di kamar. Dia kabur. Kamu harus segera menjauhi Tara, Nak." Dari kata-katanya Tante Ira memang terdengar sangat serius.


Aku sempat tak percaya dengan apa yang aku dengar. Tapi, Tante Ira juga tidak mungkin berbohong tentang anaknya.


"Ibuku sudah bicara apa saja tentangku?" tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku sehingga tanpa disadari aku menjatuhkan handphone-ku.

__ADS_1


__ADS_2