Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 5


__ADS_3

Aku menjerit keras saat sebuah tangan mencengkeram kepalaku. Saat itu aku sedang duduk di meja kantin yang biasa Indira, Genta dan Fadhil nongkrong.


"Nggak usah histeris gituh, deh."


Aku memelototi Indira yang melepaskan tangannya dari kepalaku, lalu duduk di sebelahku sambil meletakkan segelas pop ice berwarna ungu.


"Gimana nggak histeris. Gue 'kan lagi ngelamun. Kalau jantung gue copot gimana?"


"Ya kalau copot tinggal di pasang lagi," seringai Indira, tapi yang menurutku sama sekali nggak lucu. "Emang lo lagi ngelamunin apa, sih?"


Astaga, apa yang harus kukatakan. Nggak mungkin aku bilang bahwa aku bertemu dengan hantu Indira KW.


"Gue mau tanya sama lo, Ra. Kemaren lo ke rumah gue nggak?" tanyaku serius.


Indira kebingungan dengan pertanyaanku. "Lo gila, ya? Gue tahu rumah lo juga nggak. Kenal sama lo aja baru kemaren."


Oh, ya. Benar juga apa yang dikatakan Indira. Kita 'kan baru kenal mana mungkin ia tahu rumahku.


"Emangnya kenapa?" tanyanya.


"Mmmm ... kemaren waktu gue pulang, gue lihat ada seseorang yang mirip banget sama lo. Cuma rambutnya agak berombak. Dia pake gaun-gaun pesta gitu, deh." Sebisa mungkin aku menjelaskan ciri-ciri anak perempuan itu.


Kuperhatikan raut wajah Indira yang tadinya ceria mendadak pucat. "Lo lihat di mana?" terdengar nada suaranya yang sedikit gemetar.


"Di pinggir jalan waktu mau pulang. Terus di rumah gue juga," jawabku.


"Sori, Via. Gue harus pergi. Gue ada urusan mendadak." Indira langsung pergi tanpa menjawab ucapanku.


Aneh, kenapa sikapnya seperti itu. Ada sesuatu yang disembunyikan Indira. Sesuatu yang belum aku ketahui, dan tentu saja membuatku kepo. Ughhh ... bosan juga lama-lama di kantin. aku pun memutuskan untuk jalan-jalan mengitari sekolahan. Saat berada di koridor sekolah, aku bertemu dengan si cowok bete. Shit, kenapa harus bertemu dengannya lagi, sih? Umpatku dalam hati. Wajah kami berpapasan. Cowok bete itu menghalangi jalanku. Aku ke kiri, dia ke kiri. Aku ke kanan, dia ikut ke kanan.

__ADS_1


"Jangan ngalangin jalan gue dong!" bentakku mulai tak senang.


"Stai bloccando la mia strada!" katanya dengan wajah datarnya.


Ya ampun, ini cowok tampangnya bete terus. Memang di rumahnya dia punya masalah apa, sih? Terus, emang nggak ada yang menghibur dia gitu? Tapi sudahlah, untuk apa aku memikirkannya.


"Lo yang ngalangin jalan gue!" ucapnya ulang.


Kurang ajar, udah jelas-jelas dia yang mengahalangi jalanku. Sumpah, baru kali ini aku bertemu dengan cowok seperti ini. Ingin rasanya aku memaki-maki dirinya. Oke, aku menarik napas panjang, aku memilih untuk mengalah dan pergi saja, dari pada harus berurusan dengannya. Dan lagi perasaanku tak enak jika harus menjadi pusat perhatian semua orang. Entah sejak kapan orang-orang yang berada di sekitar koridor memusatkan perhatiannya padaku.


"Aaaaa ..." terdengar sebuah suara teriakan. Semua siswa, termasuk aku langsung menuju ke ruang BP, asal sumber suara itu.


Aku bertemu dengan Indira di keramaian.


"Ada apa, Via?" aku mendengar suara Indira di dekat telingaku.


Aku mengedikkan bahu. "Entahlah. Gue juga nggak tahu."


"Che cosa é questo? Apa yang terjadi, Madre?" kudengar nada kekhawatiran dari suara Leo.


"Madre?" tanyaku heran. Sepertinya aku tahu arti kata yang satu ini. Apa, ya? Aku memutar-mutar jari di pelipisku. Oh, ya aku ingat. Madre itu berarti adalah Ibu?


Oke, meskipun ada yang mendengar pertanyaanku.


Tak ada satu pun yang menjawab. Mereka terlalu sibuk dengan tontonan yang ada di depan mata.


"Iya, Leo itu anaknya guru BP, Bu Ratna " sahut Indira. Seolah-olah ia bisa membaca pikiranku yang aku apresiasikan lewat raut wajahku yang kebingungan.


Sungguh, aku tidak percaya kalau si cowok bete itu anak Bu Ratna. Kudengar dari anak-anak bahwa Bu Ratna orangnya ramah, sopan. Sifat mereka sangat berbanding terbalik. Meskipun murid baru di sekolah ini. Aku sudah dapat menyimpulkan bahwa yang lebih cocok menjadi anak Bu Ratna, ya Kak Denis. Dan baru kuketahui bahwa si cowok bete itu memang blasteran Italia-Indonesia. Suami Bu Ratna-lah yang berkebangsaan Italia.

__ADS_1


Aku melihat wajah Bu Ratna yang shock ketika melihat tulisan berwarna merah di dinding ruangan,


Tragedi setahun yang lalu, darah dibalas dengan darah. Bu Ratna harus mati!!!


Sekilas tampak seperti tulisan yang sering tampil di film-film horror.


Baru kusadari, tulisan itu mengeluarkan bau amis yang membuatku mual. Tulisan itu ditulis dengan darah.


Aku bergidik. Siapa orang gila yang mampu melakukan perbuatan itu.


Leo membalikkan badan dan memandang kami semua. Terlihat wajahnya yang penuh dengan amarah. Bagaikan gunung berapi yang siap menyemburkan laharnya.


"Siapa yang sudah ngelakuin ini ke nyokap gue?" Suaranya menggelegar. Tak ada yang berani menjawab. Hanya keheningan yang didapatinya.


Astaga, cowok bete ini kalau marah serem banget. Matanya menyorot tajam ke arah kami semua. Bagai serigala yang siap menerkam mangsanya.


Tak ada yang berani menjawab. Semuanya terdiam, termasuk aku. Sampai Kepala Sekolah datang. Dan di sampingnya berdiri sosok yang kukenali. Dia adalah Pak Ikhsan.


Sepintas Kepala Sekolah memandang kami semua. "Untuk apa kalian ada di sini? Cepat bubar, kembali ke kelas kalian masing-masing!" teriaknya.


Spontan semua siswa langsung berlarian menuju kelasnya masing-masing, termasuk aku dan Indira.


Aku menghentikan langkah kakiku saat tahu Indira tidak ada di belakangku. Aku menengok kiri dan kanan, tidak ada. Justru yang kulihat seorang anak perempuan dengan mengenakan gaun berenda itu membuatnya mencolok. Awalnya aku merasa canggung memandangnya, karena dia sedari tadi memperhatikanku. Karena rasa penasaranku muncul, dan entah mengapa rasanya kakiku bergerak melangkah sendiri seperti ada sesuatu yang menariknya untuk mendekati gadis itu. Maka kuberanikan diri untuk menghampirinya.


Saat akan melangkahkan kaki, ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku terkejut, ternyata Indira.


"Elo mau kemana, Via?" tanyanya.


"Anu ... gue lihat dia lagi. Cewek yang mirip sama lo. Itu di sa-" Aku menunjuk ke arah anak perempuan itu berada. Namun tidak ada siapa-siapa di sana.

__ADS_1


"Loh, kemana anak itu?" Bukannya menjawab pertanyaanku, Indira hanya diam memandangku. Wajahnya terlihat pucat.


"Kita harus bicara." Dia menarik tanganku. Membawaku pergi dari keramaian.


__ADS_2