Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 27


__ADS_3

Tanpa sempat berpikir lagi, aku langsung mengelak.


Parang itu menghantam tepat di tempat aku tadi sempat berlutut. Napasku tersentak saat merasakan ujung parang yang sempat merobek kulit betisku. Perasaanku berkecamuk antara sakit, bingung sekaligus panik.


Setelah beberapa lama menghindar dan kabur dari si algojo dengan susah payah, aku mulai terbiasa menghadapinya. Tetapi yang membuatku heran, mengapa si algojo hanya mengincarku. Tanpa kusadari, aku lengah dan berhasil di tendang olehnya. Sehingga tubuhku terpelanting ke tanah. Bersamaan dengan itu si algojo mencengkeram Indira yang sedari tadi hanya bersembunyi. Indira dipukul dengan ujung gagang parang, sehingga membuatnya pingsan. Aku ingin sekali menolong Indira, namun dengan cepatnya algojo itu membawa masuk Indira ke dalam pabrik.


Leo yang melihatku jatuh tersungkur, langsung memukul si algojo yang saat itu juga terjatuh. Dan menghampiriku.


"Lo nggak apa-apa?" tanyanya sambil memeriksaku.


Aku hanya menggeleng sambil meringis saat Leo tak sengaja memegang betisku yang terluka.


"Leo!" terdengar teriakan dari Kak Denis.


Baru kami sadari, Kak Denis telah berhasil dilumpuhkan dan dibawa masuk ke dalam gedung oleh dua algojo itu. Leo berusaha untuk mengejar, namun ia berhasil dipukul oleh algojo yang berbadan besar itu.


Kedua algojo itu menghilang di dalam pabrik yang memang terlihat sangat gelap. Gerbangnya tidak ditutup seolah-olah menantang kami untuk masuk.


Aku menghampiri Leo dengan kaki pincang.


"Elo nggak apa-apa?" tanyaku sambil membungkuk.

__ADS_1


"Gue nggak apa-apa."


Leo berusaha untuk bangkit.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


Sejenak Leo memandangi pabrik itu, lalu mengalihkan pandangannya padaku. "Kalau elo nggak kuat, kita pulang aja. Mereka terlalu banyak buat kita. Kita juga nggak tahu berapa jumlah algojo di dalam sana. Mungkin lebih banyak dari yang barusan."


"Nggak! Kita nggak boleh pergi! Kita harus selamatkan orang-orang yang berada di dalam sana. Bukankah nyokap lo juga ada di dalam? Emang lo mau biarin nyokap lo mati?" sergahku cepat.


Leo hanya memandangku.


"Lagi pula gue nggak mau orang yang gue sayang kenapa-kenapa di dalam sana." Aku menghapus air mataku yang tak terasa menetes.


"Tentu saja Kak Denis," bentakku.


Oke, mungkin aku keterlaluan membentaknya di saat situasi seperti ini.


Leo terdiam. Kemudian dia mengulurkan tangannya. "Ayo kita lawan mereka."


Bersamaan dengan itu hujan turun, aku mendongak menatap langit. Memejamkan mata.

__ADS_1


Kuraih uluran tangannya. "Ayo!" ucapku mantap.


Suasana di dalam sangat gelap total. Hanya ada sedikit cahaya di celah-celah pentilasi. Itu pun tak membantu penglihatan kami. Suara hujan yang menimpa atap bangunan terdengar seperti alunan lagu. Bau basah tercium dan aku memegang erat tangan Leo. Tangannya yang berotot terasa aneh di pegang oleh tanganku yang ukurannya jauh lebih kecil. Kami terus berjalan pelan dan siaga.


Lalu kami menaiki sebuah tangga. Aku mengekor di belakang.


Saat sampai di anak tangga yang ketiga, tiba-tiba sesuatu yang keras mengenai kepala Leo. Spontan aku berteriak, Leo pingsan. Lalu ada sesuatu yang memukul pundakku. Sakit rasanya, sakit sekali. Kemudian semua menjadi sangat gelap, semakin gelap. Tubuhku pun terjatuh di lantai.


***


"Gimana kalau ujung parang ini aku goresin ke wajah Bu Ratna." Sebuah suara samar-samar terdengar olehku. Kemudian menghilang bersamaan dengan bunyi pintu ditutup.


Intonasinya terdengar lembut namun mematikan.


Aku mengerjap-ngerjap, merasa heran dengan keadaan sekelilingku, mengapa semuanya gelap? Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padaku.


Baru kuingat, tadi kami diserang oleh beberapa algojo. Dan dua diantaranya berhasil menangkap Kak Denis dan Indira.


Kulihat sekeliling ruangan ini, hanya ada sedikit cahaya dari celah-celah pentilasi udara. Itu pun masih terlihat remang-remang. Aku melihat sosok tubuh yang sedang terduduk lemas di lantai yang jaraknya tak jauh dariku. Astaga, itu Leo. Jadi, selama ini dia benar-benar tak bersalah. Dan selama ini tuduhanku padanya juga salah. Aku sangat menyesal sudah menuduhnya.


Dan kusadari ada orang lain yang juga tergeletak di lantai. Yang tak lain adalah Bu Ratna. Kusimpulkan keadaan Bu Ratna sekarat, terdengar dari bunyi napasnya yang cepat dan tak beraturan. Lalu di mana Indira dan Kak Denis? Mengapa mereka tak ada? Apa yang terjadi pada mereka? Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Di ambang pintu berdiri dua orang makhluk mengerikan. Cahaya yang berasal dari celah pintu membuat mereka terlihat seperti siluet. Salah satu diantara mereka menghampiriku, dan berjongkok tepat di depanku. Tunggu! Mengapa topeng yang digunakan dua algojo ini berbeda dari tiga algojo yang sebelumnya. Apakah mereka berdua algojo yang lain?

__ADS_1


"Si ... siapa lo?" tanyaku dengan suara parau menahan rasa perih di betisku.


Algojo itu melepaskan topengnya. Aku terkejut bukan main setelah tahu siapa orang di balik topeng itu. Wajah yang selama ini selalu bersamaku. Yang tak lain adalah Indira. Sahabatku.


__ADS_2