Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 31


__ADS_3

"Tara!"


Ia sudah berdiri di ambang pintu. Dengan memegang sesuatu di tangannya. Sesuatu yang tajam. Itu sebuah pisau. Astaga, apalagi semua ini?


"Tadi aku nggak sengaja nguping pembicaraan kalian," ucapnya sambil menutup pintu dengan pelan.


"Tara, ngapain lo bawa-bawa pisau?" tanyaku sedikit khawatir.


Leo memegangi tanganku dengan erat. "Jangan takut, ada gue di sini."


"Oh, pisau ini?" tunjuknya. "Ini buat main-main sama kamu. Kita main yuk!" ajaknya disertai tawa datar.


"Apa yang lo mau?" tanya Leo.


"Yang aku mau?" Ia berpikir sejenak. "Ya, kamu Leo."


"Cepat lo pergi dari sini!" perintah Leo. Ia bangun dan menghalangi tubuhku dengan tubuhnya.


"Kamu usir aku? Jahatnya. Harusnya kamu berterima kasih sama aku. Karena aku udah selamatin kamu sama Livia. Walaupun sebenarnya yang aku tolong cuma kamu. Aku nggak rela jika Livia mati di tangan mereka. Aku ingin Livia mati di tanganku sendiri. Untungnya mereka juga sudah menyingkirkan Dzihan dan Elmira. Jadi, aku nggak perlu pake tanganku sendiri untuk melenyapkan mereka. Kamu tahu kan, Via. Dzihan dan Elmira itu sering banget bully aku, apalagi mereka berdua juga ngejar-ngejar Leo terus. Tapi, aku sabar. Karena aku tahu, pada akhirnya mereka berdua juga akan mati dibunuh. Aku tak sengaja mendengar percakapan Indira sama Denis waktu mereka ngobrol berdua di taman. Dan kamu datang menghampiri mereka." Perlahan-lahan Tara melangkah mendekat.


"Gue nggak nyangka. Ternyata lo sama piciknya dengan mereka," teriakku.


Tanpa disangka-sangka Tara mendorong Leo ke samping. Dengan kondisi yang masih lemah, alhasil Leo pun berhasil terjungkal ke kasur. Tangannya berdarah karena jarum infus yang menempel di pergelangan tangannya terlepas. Leo meringis kesakitan. Bersamaan dengan itu Tara menarikku sampai mendekatinya.


"Ini semua gara-gara kamu. Kalau aku nggak bisa dapetin Leo. Maka nggak ada satu pun cewek yang boleh dapetin Leo." Tara siap mengayunkan pisaunya.


Namun, aku berhasil menendang perutnya. Ia meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, aku segera membantu Leo berdiri. Dan berlari sebisa mungkin ke arah pintu. Dengan terpincang-pincang karena betisku masih sedikit terasa sakit bekas sayatan parang. Tapi, tak disangka pintu terkunci.


"Mau kabur ke mana, Via." Tara tersenyum sambil melambai-lambaikan kunci yang dipegangnya.


"Sekarang kamu tidak bisa lari ke mana-mana." Tara mengayunkan pisaunya ke arahku.


Loe berhasil menahan dengan memegang pisau yang sangat tajam itu. Kemudian darah menetes dari telapak tangannya.


"Leo!"

__ADS_1


Aku kembali menendang perutnya. Tara meringis kesakitan lagi. "Beraninya kamu, Via." Lagi-lagi ia berhasil membanting Leo. Ia pun sudah siap menerjangku. Tapi aku berhasil menghindar. Aku berlari ke sudut ruangan.


"Cepat kamu keluar lewat jendela," kata Leo.


"Tapi, lo gimana?" tanyaku cemas. Aku tidak mungkin meninggalkannya di saat seperti ini.


"Tara nggak akan melukaiku. Aku nggak apa-apa. Cepat pergi. Aku akan halangi dia." Leo bangun dan menghampiri Tara. Ia berusaha menahan Tara.


"Lepasin aku Leo!" Tara berusaha memberontak.


Aku berlari ke arah jendela. Dan berusaha membuka jendela dengan buru-buru. Sial, kenapa jendela ini susah terbuka. Akhirnya aku berhasil membukanya. Tapi, dari belakang tiba-tiba Tara berhasil melepaskan diri dari Leo. Dan siap menyerangku. Ia mengarahkan pisaunya padaku. Dan ....


Jlebb!


Pisau itu menancap perut Leo. Darah segar mengalir dari perutnya. Leo berhasil melindungiku--lagi.


Aku menjerit, "Leo!"


Aku membungkuk dan memeluknya, aku lihat Leo tersenyum padaku untuk yang terakhir kalinya.


"A-apa yang sudah aku lakukan? Aku membunuh Leo?" tanya Tara pada dirinya sendiri. Tak percaya bahwa ia sudah membunuh orang yang dia cintai.


"Lo jahat Tara!" bentakku.


Kini aku tak bisa menahan diri. Aku bangkit dan menghampiri Tara. Aku mencekik leher Tara. Entah setan apa yang merasukiku. Tara tak mau kalah. Ia balas mencekikku. Napasku hampir terputus. Ternyata tenaga Tara jauh di luar dugaanku. Aku berhasil terdorong olehnya hingga ke daun jendela.


"Gimana pun caranya kamu harus mati, Via!" Ia menjulurkan kepalaku ke luar jendela. Rupanya ia ingin menjatuhkanku. Aku melihat ke bawah. Meskipun ini hanya di lantai tiga, tetapi tidak menutup kemungkinan jika aku terjatuh, maka aku akan mati.


Ketika Tara terus mendorongku. Dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk membalikkan posisi kami. Dan aku berhasil. Aku mendorong Tara kuat-kuat hingga akhirnya, ia pun terjatuh.


Aku melihat ke bawah, darah segar menggenangi kepalanya.


Sesaat aku tersadar dan menutup mulut dengan kedua tangan.


Astaga, apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku melakukan semua ini. Kenapa aku menjadi sama seperti mereka. Kenapa aku jadi sekeji mereka?

__ADS_1


Lalu aku berbalik ke arah Leo yang sudah terkapar tak bergerak.


"Leo," lirihku.


Aku menangis sejadi-jadinya. Aku berusaha mencabut pisau yang masih tertancap di perutnya.


Bersamaan dengan itu, pintu didobrak. Seorang dokter dan perawat masuk. Mereka terkejut dengan keadaan kamar rawat inap itu yang sangat berantakan. Mereka tambah syok melihat pisau yang kupegang bersimbah darah.


"Kau ... kau sudah membunuh pasien kami," tuduh seorang suster.


Apa? Tidak ... bukan aku, aku tidak membunuhnya.


"Kau harus dilaporkan pada polisi," sahut sang dokter.


Aku bangkit. "Tidak, kalian salah paham bukan aku pembunuhnya. Aku tidak membunuhnya," ujarku seraya berjalan mundur.


"Kau pembunuh!" teriak suster itu.


Tidak, aku tidak membunuhnya. Bukan aku pelakunya. Aku terus berjalan mundur. Sehingga, tanpa aku sadari aku berada di jendela. Dan tanpa diduga-duga kakiku terpeleset sampai aku pun terjatuh.


Aku merasakan tubuhku bagai melayang di udara dengan slow motion. Apakah aku akan berakhir seperti ini? Apakah aku akan mati begini? Apakah akhirnya akan seperti ini?


Dan akhirnya tubuhku pun membentur tanah dengan keras. Sakit sekali rasanya. Apa lagi kepalaku yang terasa pecah. Sesaat darah segar membanjiriku. Aku memejamkan mata dan terbayang wajah Ayah dan Ibu.


Ayah, Ibu aku menyayangi kalian. Aku menatap Tara yang berada tepat di sampingku.


Aku dapat merasakan banyak orang yang mulai mengerubungi kami.


Lalu semuanya berubah menjadi gelap total.


#season 2 udah update ya. kenapa tidak update d sini? karena d sini udah terlanjur klik tamat. kata admin NT kalau d ubah lagi lanjut d sini bisa nurunin kualitas yg awal. jadi d bikin beda buku ya guys


*makasih buat pembaca yang udah mau meluangkan waktunya untuk membaca ceritaku. Maaf kalau masih banyak kekurangan. Semoga ke depannya bisa belajar bikin cerita yang lebih seru dan menarik lagi.


Salam sayang untuk semuanya 🤗🤗**

__ADS_1


__ADS_2