
Bel pulang sudah berbunyi 30 menit yang lalu. Sebagian siswa sudah pulang, kecuali diriku. Memang aku sempat balik lagi ke sekolah untuk mengambil buku milikku yang tertinggal. Padahal jelas aku ingat bahwa aku sudah memeriksa kolong meja dan kosong, tak ada yang tertinggal. Suasana sekolah sangat mencekam, karena sore itu langit memang terlihat mendung. Sehingga membuat sekolah terlihat sedikit gelap.
Jika saja tugas kimia itu tidak penting, aku tak akan mau mengambilnya. Habis, keadaan sekolah benar-benar menakutkan. Ditambah sepi karena cuaca seperti ini anak-anak tidak ada yang ikut kegiatan ekskul.
Sesampainya didalam kelas, aku buru-buru memeriksa kolong meja dan mengambil buku itu. Dan sesegera mungkin pergi keluar. Awalnya tidak ada yang ganjil, namun ketika melewati koridor sekolah.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara langkah kaki. Mendengar suara langkah kaki tersebut membuat napasku tertekan. Butiran-butiran keringat kecil mulai membasahi dahiku dan pikiran-pikiran negatif pun mulai terlintas di benakku. Apa mungkin itu si algojo yang waktu itu menyerangku? Tenang, Via. Mungkin ini cuma perasaanmu saja--atau ada anak lain yang masih di sekolah dan belum pulang. Aku mencoba menenangkan diri. Aku menutup mata, berusaha mengumpulkan keberanian untuk melihat ke belakang. Dan ternyata tidak ada siapa pun di sana. Aku menarik napas lega. Syukurlah mungkin memang cuma perasaanku saja.
Namun, saat akan menuruni tangga, kusadari ada siluet seseorang berbadan besar tengah berdiri di belakangku. Napasku tercekat, aku memberanikan diri untuk menengok.
GLEEGAAARR...
Suara petir diikuti kilat yang hebat mengagetkanku dan menambah suasana semakin menakutkan. Kulihat makhluk itu berdiri hanya beberapa senti dariku. Ya, dia si algojo yang tengah siap melayangkan parangnya ke arahku.
__ADS_1
Mataku terbelalak melihatnya, spontan aku menjerit dan lari. Dapat kurasakan bahwa algojo itu mengejarku. Bunyi langkah kakinya yang besar terdengar olehku. Bukannya aku tak ingin melawan, hanya saja algojo yang satu ini tubuhnya lebih besar di bandingkan algojo yang sebelumnya. Aku tak mungkin menang melawannya, belum lagi ia menggunakan senjata parang yang lebih besar ukurannya. Sekarang aku benar-benar yakin, algojo itu lebih dari satu.
Sial, kenapa sekolahan ini sangat sepi. Tidak adakah yang masih berada di sekolah, aku terus berlari sampai akhirnya aku terjatuh gara-gara menginjak tali sepatuku yang terlepas dari ikatannya.
Oh, Tuhan. Kenapa harus disaat-saat seperti ini, aku terduduk lemas. Tak berani menoleh ke belakang meskipun langkah kaki itu tak secepat tadi, karena aku menduga dia berjalan santai ke arahku. Aku pasrah, kakiku membeku dan tak bisa digerakkan.
Mendengar suara langkah tersebut yang semakin dekat, aku hanya diam mematung sambil menahan tangis. Kenapa aku jadi cengeng begini. Kemudian suara langkah kaki itu berhenti tepat di belakangku. Tak lama kemudian sebuah tangan mencengkeram pundakku. Aku menjerit keras.
Aku menoleh, "Leo!"
Aku bernapas lega, syukurlah meskipun yang kutemui hanya si cowok bete itu.
"Apa yang terjadi sama lo?" tanyanya ulang.
__ADS_1
"Gue ... gue ... tadi dikejar-kejar sama algojo."
Sial, sepertinya nada suaraku sedikit gemetar. Aku tidak mau dicap sebagai penakut.
Ia mengkerutkan keningnya. "Agojo?"
"Ya," jawabku sederhana.
Kemudian matanya membulat. "Mungkinkah itu pelaku yang kalian cari-cari?"
"Sepertinya begitu." Aku mengusap keringat yang ada di dahiku.
"Lebih baik sekarang kita pergi sebelum algojo itu datang lagi. Kalau hanya satu, sih, nggak apa-apa. Gimana kalau mereka banyak?" katanya sembari membantuku berdiri. Tangannya begitu lembut menyentuh tanganku.
__ADS_1