Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 10


__ADS_3

Bel pulang sudah berbunyi, lagi-lagi Tara sudah bergegas duluan meninggalkanku. Belum jauh dari gerbang sekolah, di kejauhan aku melihat Tara.


"Tara!" teriakku.


Tara menoleh ke arahku, namun tiba-tiba...


"Via, awas!"


Prang ...


Terdengar suara kaca pecah tepat di sampingku.


Aku merasakan seseorang menarik lenganku, untung saja. Jika tidak, aku bisa celaka terkena pecahan cermin-cermin itu.


"Non avete niente?" tanya seseorang yang suaranya sangat aku kenali.


Aku sadar bahwa yang menyelamatkanku adalah si cowok bete itu. Aku segera melepaskan pegangannya.


"Lepasin tangan gue!" bentakku.


"Lo, tuh, ya. Nggak tahu diri. Udah di tolong, bukannya bilang terimakasih."


"Thanks," ucapku dengan malas.


Ternyata sumber suara itu berasal dari mobil pick up yang berada di sampingku. mobil itu sedang mengangkut beberapa cermin. Entah bagaimana cermin tersebut bisa pecah.


"Via!" panggil Indira dari kejauhan.


"Apa yang terjadi?" tanya Indira setelah berada di dekatku.


Aku menggeleng lesuh. "Entahlah, Ra. Tiba-tiba cermin itu pecah."

__ADS_1


"Jangan-jangan ini perbuatan lo, ya?" tunjuk Indira ke Leo.


"Eh, lo jangan sembarangan nuduh orang, ya!" Leo membela dirinya. "Gue itu nggak tau apa-apa. Waktu gue lewat tiba-tiba cerminnya pecah gitu aja."


"Iya, Ra. Justru Leo yang udah selamatin gue," jelasku.


"Oh, sori. Untung aja lo nggak terluka."


Aku hanya tersenyum melihat guratan kekhawatiran di wajah Indira.


Sesaat aku menoleh ke arah Tara. Tapi, dia tidak ada di sana. Kemana dia?


"Hei lihat!" Leo menunjuk ke arah sesuatu. Di sana tergeletak sebuah batu yang ukurannya cukup besar. Yang mampu memecahkan kaca jika dilempar ke arah cermin-cermin itu.


"Pasti ada seseorang yang sengaja melemparkan batu ini" ucap Leo. " Dan orang itu ada niat buat lo celaka."


"Tapi siapa yang tega ngelakuin ini ke gue? Emang salah gue apa?" tanyaku bingung.


***


Aku duduk termenung. Suasana kelas yang ramai seolah sepi menurutku. Sejak kemarin aku memikirkan kejadian itu. Siapa kira-kira yang tega melakukan hal itu padaku.


Siapa orang yang ingin mencelakaiku?


Ketika itu juga datang Dzihan dan Elmira menghampiriku.


"LIVIA VIRGO!" ucapnya dengan nada di tekan. "Kita ingetin ya ke elo, jadi cewek 'tuh jangan kecentilan."


Aku menatap mereka dengan bingung. "Maksud lo apa? Gue nggak ngerti!"


"Alah ... lo nggak usah pura-pura nggak tahu," kata Dzihan dengan mengibaskan tangannya. " Lo jangan pernah berani dekatin pangeran kita!"

__ADS_1


"Pangeran? Maksud lo?" tanyaku makin bingung.


"Ya, siapa lagi kalau bukan Leo," cetus Elmira.


Sesaat kemudian aku tertawa. "Cowok kayak begitu kalian bilang pangeran? Kalian udah buta ya. Hahah ..." Sesekali aku menyeka air mataku yang keluar dari ujung mata.


"Woy, kita serius! Kemarin lo pegang-pegang tangan Leo 'kan di depan sekolah?" bentak Dzihan.


"Gue juga serius. Kalian tenang aja kali. Leo itu bukan tipe cowok gue. Lagian yang kemarin itu Leo cuma nolongin gue doang kok. Supaya gue nggak kena pecahan kaca. Soalnya kemarin cermin yang di angkut sama mobil yang di deket gue tiba-tiba aja pecah."


"Oke, kita pegang omongan lo. Awas aja kalau lo berani deketin Leo. Nasib lo akan sama kayak cewek-cewek lain yang ngejar-ngejar Leo."


Aku terdiam mendengar ucapannya. Bukan karena takut diancam. Hanya saja aku merasa ada yang aneh dengan kata-kata terakhir mereka. Apa maksudnya?


Kulirik bangku kosong milik Tara. Kemana dia? Jam segini belum datang. Padahal sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Pikirku dalam hati.


Tiba-tiba bayangan perempuan itu muncul di jendela. Dengan senyum misteriusnya ia memperhatikanku. Menghilang kembali dan beberapa detik kemudian ada di samping meja guru. Hilang. Beberapa detik kemudian muncul di depan mataku. Jantungku seperti berhenti, seluruh napas seakan diserap olehnya. Rasa terkejut membuat badanku melemah. Dan membuatku tak sadarkan diri.


"Vi ... Via! Sadar, Vi!" suara lembut seseorang memanggil namaku.


Pelan-pelan kubuka mata ini. Dan aku sudah berada dalam ruangan yang di penuhi dengan lemari berbagai macam obat dan alat-alat medis lainnya.


Indira tersenyum lega melihatku sudah sadarkan diri.


"Gue dimana, Ra?" tanyaku lemah.


"Lo di UKS, Vi. Tadi tiba-tiba aja lo pingsan."


Seketika aku tersadar dengan kejadian tadi. "Indrika, Ra. Dia tadi muncul di hadapan gue."


Indira terdiam sebentar memandangku. Hening. Hanya ada cahaya mentari yang masuk melalui pentilasi udara.

__ADS_1


__ADS_2