
Aku betul-betul goblok. Dan payah dalam hal cinta.
Kenapa aku menolak ajakan Kak Denis untuk pergi nonton bersamanya. Malah lebih memilih pergi sendiri ke toko buku. Saat aku menolak ajakan Kak Denis, kupikir ia akan memohon dan merengek padaku agar aku mau pergi dengannya--atau mungkin ia bisa ikut denganku ke toko buku untuk menemaniku. Mungkin bagi sebagian orang pergi ke toko buku itu hal yang membosankan. Tapi, nyatanya ia justru berkata, "Ya, sudah. Mungkin lain waktu aja." Katanya cinta, tapi kok gitu. Aku memang payah.
Dan akhirnya sampailah di toko buku yang letaknya tak jauh dari sekolahku.
Saat sudah berada di dalam, aku langsung mengambil beberapa buku untuk dibeli.
Ketika hendak berbalik, wajahku menabrak dada seorang cowok. Dan alhasil buku yang kupegang pun terjatuh.
"Elo!" sentakku yang setengah kaget karena cowok itu yang tak lain adalah si cowok bete alias Leo.
Aku merunduk, mengambil buku-bukuku yang terjatuh.
"Ngapain lo ada di sini?" tanyaku sewot.
"Tocca a me! ini 'kan tempat umum. Siapa aja boleh datang ke sini," jawabnya datar. Tak lupa memasang wajahnya yang super bete.
Tanganku ingin mencoba untuk mencekiknya, tapi aku berhasil menahannya. "Kenapa, sih. Nggak cukup di sekolah aja gue ketemu sama lo."
__ADS_1
"Emang lo pikir gue juga mau gitu ketemu sama lo? Ogah banget."
Ih, cowok ini benar-benar cowok paling menyebalkan yang pernah aku temui.
Ini hari libur, seharusnya aku senang-senang. Bukan malah ngeladenin cowok bete ini. Aku pun pergi meninggalkannya tanpa mengindahkan perkataannya.
Semuanya belum selesai. Masalah datang lagi ketika aku hendak membayar bukunya ke kasir. Leo dan aku rebutan untuk siapa yang akan bayar duluan, karena kami datang secara bersamaan.
"Minggir dong! Kan gue yang duluan sampai di sini," bentakku.
"Nessun modo! gue yang duluan!" ucapnya tak mau kalah.
"Kalau gue nyebelin emang kenapa? Masalah buat lo?"
"Lo itu, ya ..." Kali ini emosiku meluap.
Aku mengepalkan tangan siap-siap mengeluarkan jurusku dan hendak menonjok Leo, sayangnya itu tak terjadi. Aku segera di cegah oleh Mba-mba kasir.
"Maaf Mba, Mas. Kalau kalian mau berantem silahkan di luar. Karena kalian sudah menghalangi antrian di belakang," tunjuknya.
__ADS_1
Kami menengok ke belakang. Dan benar saja di belakang kami banyak orang-orang yang memasang wajah tak suka dengan tingkah kami. Karena takut dihakimi masa. Kami memutuskan untuk mengalah dan pindah ke antrian paling belakang.
"Ini semua gara-gara lo tau," ucapku kesal.
"Perché mi dai la colpa! Udah jelas-jelas elo yang salah."
Aku hanya bisa mengepalkan tangan menahan marah. Setelah itu kami saling diam. Sesekali aku memandangnya dengan pandangan penuh kejengkelan. Kulihat buku yang di pegang Leo. Aku membaca tulisan yang berada di covernya, 'Kekasih Terbaik'? Tanyaku dalam hati. Aku tertawa dalam hati, ternyata cowok bete ini suka novel romance. Gimana, ya, kalau seisi sekolah tahu?
"Apa lo cengar-cengir. Naksir gue?"
Aku segera bergidik. "Idih, ngapain gue naksir sama cowok kayak elo. Gue ketawa karena nggak nyangka aja gitu cowok super bete kayak elo suka novel romance."
Leo hanya memandangku dengan cuek. Tak memperdulikan ejekanku. Seketika senyumku terhenti. Dasar kurang ajar! Aku di cuekin ....
Akhirnya selesai juga, aku langsung pergi keluar toko. Dari kejauhan aku melihat seseorang yang sepertinya kukenali sedang berada di sebuah restoran yang letaknya berada di seberang jalan.
Dua orang cowok dan satu orang cewek.
"Fadhil, Genta ... dan Febby? Sedang apa mereka di situ?" tanyaku bingung.
__ADS_1