Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 22


__ADS_3

Suara Pak Ikhsan-lah yang menyadarkanku.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi?"


Belum lama pun di sekelilingku sudah dipenuhi para siswa. Serta-merta mereka menghambur ke dalam ruangan. Namun serentak pula mereka bergeming di depan pintu.


"Jangan sentuh apa pun!" perintah Pak Ikhsan sambil melayangkan pandangan ke semua murid. "Selain saya, tidak ada yang boleh masuk!'


Pak Ikhsan berjalan dengan hati-hati, memeriksa ruangan itu dengan seksama. Saat anak-anak cowok berusaha merangsek masuk, aku bersyukur Pak Ikhsan berhasil menahan mereka, kecuali Leo. Ia masuk dengan paksa. Dan tentu saja Pak Ikhsan mengijinkannya masuk, karena bagaimanapun juga Leo adalah anak Bu Ratna.


Tampak jelas, pernah terjadi baku hantam yang cukup seru di ruangan itu. Jejak hantaman di meja menandakan senjata yang digunakan adalah senjata tajam raksasa sejenis parang. Seketika aku teringat parang yang digunakan algojo itu untuk menyerangku. Apakah pelakunya sama? Seperti algojo yang menyerangku waktu itu? Berbagai pecahan dari barang-barang pajangan, pot, dan lampu hias berserakan di lantai, menciptakan ranjau-ranjau yang tak segan-segan menembus sepatuku kalau terinjak. Tirai-tirai copot. Tapi berhubung jendela-jendela itu menghadap ke arah yang berlawanan dengan pintu masuk, aku tak akan bisa mengetahuinya tanpa masuk ke dalam. Jejak darah di lantai menyebar di antara pecahan barang, membuat semua itu terlihat semakin menakutkan.


Lalu, tentu saja ada bercak-bercak darah yang sangat banyak. Bahkan ada genangan darah di atas meja kerja Bu Ratna. Di tengah-tengah genangan darah itu terdapat secarik kain batik yang tampaknya berasal dari Bu Ratna. Yang tak kalau mengerikan, di bawah meja kerja terdapat kacamata yang sudah rusak.


Ini pertama kalinya aku melihat wajah dingin Leo tampak syok berat. Kemudian ia menatapku dan menghampiriku.


"Apa yang terjadi dengan Ibuku, Via?" tanyanya pelan.


Tunggu! Cowok bete ini tahu namaku? Aku merasa bingung. Bagaimana mungkin dia mengingat namaku. Yang mambuatku terpana, matanya yang selalu tajam kini mendadak lembut. Aku melihat langsung matanya yang lembut itu.


"Jawab pertanyaan gue, Via!" Kini nadanya terdengar sedikit keras.


Aku segera tersadar. "Gue juga nggak tahu. Yang gue tahu tadi gue lewat, gue denger suara gaduh di dalam sini. Dan pas gue buka pintu, ruangannya udah berantakan begini."


Leo terdiam mendengar penjelasanku. Semua siswa terlihat berbisik-bisik menerka apa yang telah terjadi.


Dari arah pintu, terlihat Kak Denis yang tampak memaksa untuk masuk. Dan akhirnya, ia pun berhasil menerobos kerumunan itu.


"Ada apa ini, Leo?" tanyanya seraya memegang pundak Leo.

__ADS_1


"Non lo so. Gue juga nggak tau, Nis. Ada yang mencoba untuk membunuh nyokap gue."


"Sekarang kalian semuanya bubar! Tidak ada yang boleh masuk ke ruangan ini, kecuali saya dan polisi" teriak Pak Ikhsan kembali


Terdengar sorakan dari para siswa yang menandakan mereka tidak terima di usir begitu saja olehnya.


***


Akhirnya Pak Ikhsan memutuskan kami semua, para siswa harus kembali ke kelas masing-masing. Dan tidak ada yang boleh membocorkan kejadian ini kepada orang luar. Termasuk orang tua kami.


"Kita tidak ingin pelakunya mengincar kalian karena merasa kalian tahu terlalu banyak." Begitulah katanya. "Saya tahu kalian semua merasa tegang dan mengkhawatirkan Bu Ratna, tapi tidak banyak yang bisa kita lakukan saat ini. Lebih baik kita berusaha bersikap seperti biasa supaya tidak kelihatan mencolok."


Meski aku tak keberatan menjadi incaran si pelaku, bahkan aku memang sudah diincar olehnya.


Cahaya matahari mulai tampak tak terlalu terik. Angin mengurangi kecepatannya berhembus seolah tak ingin mengganggu kami. Burung yang sedang bertengger pada pohon hijau besar di belakang kursi taman terbang hilang menjauh ketika kami menghampiri dan duduk di sana.


Aku menceritakan pengalamanku yang hampir saja diserang oleh si algojo tadi pagi. Tentang pesan masuk itu yang menandakan bahwa si algojo itu menantang kami. Tetapi itu memudahkan kami semua untuk menebak bahwa pelakunya sama yaitu algojo bertopeng.


"Sebenarnya siapa si algojo itu siapa, sih?" tanya Indira sambil berdecak kesal.


"Entahlah, sepertinya memang betul pelaku adalah orang yang sama. Meskipun mereka ada banyak, setidaknya ciri mereka sama. Yaitu, memakai jubah dan topeng."


"Mungkin kita harus membuka dulu satu persatu kasus yang sudah terjadi."


"Pertama, Bu Ratna d teror, dan kejadiannya berkaitan dengan insiden tragedi setahun yang lalu, sedangkan yang terjadi setahun yang lalu adalah hilangnya Indrika yang sampai sekarang masih belum ketemu juga. Ditambah dengan Livia yang selalu di hantui oleh Indrika yang selalu meminta tolong padanya. Dengan itu kami menebak bahwa Indrika sudah meninggal. Lalu yang kedua kematian Dzihan yang mengenaskan. Setahu gue, selama Indrika masih ada, Dzihan selalu berbuat jahat padanya. Di saat itu juga kita menemukan sobekan baju Leo.."


"Tunggu, Ra!" Aku memotong. "Elo bilang waktu itu Leo ngejar-ngejar Indrika, terus Dzihan sering berbuat jahat pada Indrika. Dan saat di tempat kejadian kematian Dzihan kita nemuin sobekan baju Leo. Apa benar-benar Leo yang bunuh Dzihan karena dia nggak terima dengan perbuatan Dzihan pada Indrika selama Indrika masih ada?"


"Itu tadi yang mau gue jelasin ke elo," ujarnya.

__ADS_1


Sekarang semuanya tampak sedikit masuk akal. Kenapa aku tidak menyadarinya. Tapi, entah mengapa ada perasaan yang mengganjal di hatiku, aku merasa menyesal karena sudah menyatakan pendapatku yang secara langsung menuduh bahwa Leo benar-benar pelakunya.


"Dan elo ingat 'kan saat kematian Elmira, sebelumnya kita melihat Leo keluar dari rumah Elmira. Dan setelah itu Ibunya menemukan Elmira sudah mati."


Sedikit demi sedikit kami bisa membuka kasusnya satu persatu. Dan itu semua berhubungan dengan Leo.


"Wow, aku nggak nyangka kalian udah ngurusin kasus ini sejauh ini," sorak Kak Denis terkagum-kagum dengan hasil kerja kami. Aku dan Indira tersenyum bangga.


"Lalu soal teror Bu Ratna, masa iya itu ulah Si Leo juga? Mana mungkin ia bisa melakukan hal itu pada nyokapnya sendiri. Lalu apa hubungannya dengan kasus Indrika?" pernyataanku membuat Indira dan Kak Denis secara bersamaan menatapku.


"Soal itu gue juga nggak tau. Mungkin Bu Ratna juga terlibat dengan kasus menghilangnya Indrika."


"Tapi nggak mungkin Leo ngelakuin itu sama nyokapnya sendiri."


Oke, entah kenapa sekarang aku jadi keras kepala membela cowok yang sudah jelas-jelas terbukti bersalah.


"Nggak ada yang nggak mungkin buat seorang penjahat seperti Leo, Via." Indira menatapku tajam. Kali ini nada suaranya terdengar beda. Tidak seperti biasanya. Aku tidak tahu kalau perkataanku akan membuatnya marah.


"Sori," cicitku.


"Jadi, kalian semua nuduh gue? Wow ..." tiba-tiba sebuah suara menyambar disela-sela pembicaraan kami.


Sontak aku terkejut saat mengetahui asal suara itu dari Leo.


"Leo!" ucap kami bersamaan.


Leo berdiri tepat di sampingku.


"Ada yang bisa jelasin ke gue alasan gue jadi tersangka?" tukas Leo dengan suara tajam.

__ADS_1


__ADS_2