Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 29


__ADS_3

Braaakkk...


Terdengar suara pintu di dobrak dengan kencang.


"Angkat tangan!" perintah seseorang yang menggunakan seragam resmi. Di tangannya terdapat pistol yang siap menembak siapa saja yang melanggar perintahnya. Ia seorang polisi. Di belakangnya juga ada beberapa polisi yang ikut memasuki ruangan ini. Dan kulihat yang paling terakhir seseorang yang paling mencolok diantara yang lain. Dia seorang cewek berambut panjang dengan hiasan bando yang terlihat begitu cantik untuknya.


Astaga, Tara. Dia adalah Tara. Aku tercengang, ia terlihat sangat cantik dan manis. Penampilannya jauh berbeda dari biasaya. Aku sendiri sampai pangling melihatnya.


Karena sibuk mengagumi Tara, aku sampai tak sadar bahwa orang-orang jahat itu sudah di tangkap polisi. Kulihat Indira meronta-ronta untuk minta dilepaskan. Salah seorang dari mereka mengangkat tubuh Leo dari tubuhku. Dan menggotong mayat Indrika untuk diautopsi.


Sedangkan Tara membantuku melepaskan tali yang terikat di tanganku.


"Kamu nggak apa-apa, kan?"


Aku menggeleng sambil mengelus-elus pergelangan tanganku yang perih bekas ikatan tali yang terlalu kuat.


Tali sialan, sakit sekali rasanya. Tapi itu nggak penting. Yang terpenting sekarang adalah keadaan Leo dan Bu Ratna yang harus segera dibawa ke rumah sakit. Mereka digotong oleh petugas yang membawa sebuah ambulan.


Tunggu! Aku menghentikan langkah dan berbalik ke arah Tara yang berada di belakangku.


"Kok lo bisa tau gue ada di sini? Trus kok bisa ada polisi?"


Tara tak menjawab.

__ADS_1


"Itu ... aku jelaskan nanti saja. Sekarang yang terpenting adalah keselamatan Leo dan Bu Ratna." Tara melangkah melaluiku.


Yeah, Tara betul. Sekarang yang terpenting adalah keselamatan mereka berdua.


Sebelum aku berbalik melangkah keluar dari pabrik. Aku sempat melihat sosok Indrika yang tersenyum padaku. Dan samar-samar aku mendengar ia berkata 'terimakasih'. Kemudian dirinya perlahan-lahan menghilang.


***


Aku duduk termenung di depan kamar rawat inap. Ada keinginan yang amat sangat untuk memasuki ruangan itu, untuk duduk disamping Leo dan memandanginya hanya untuk meyakinkan diriku bahwa dia bakalan baik-baik saja. Untuk menjadi orang pertama yang dia lihat saat dia membuka mata.


Kurasakan Tara mengenyakkan diri di sampingku.


"Kamu sebenarnya sudah bisa masuk ke dalam sana dari tadi juga," katanya dengan suara rendah.


Aku menggeleng. "Lo belum jawab pertanyaan gue dua hari yang lalu."


Tara tersenyum. Sumpah, senyumannya terlihat sangat manis. Jika saja anak-anak di sekolah melihat dirinya yang seperti sekarang ini. Aku yakin, banyak yang tidak percaya bahwa ia adalah Tara, si cewek paling aneh di sekolah.


"Jadi, kamu masih penasaran sama jawabanku?"


Aku mengangguk, "Ya."


"Kamu lupa? Bukankah aku pernah bilang bahwa aku bisa melihat masa depan?"

__ADS_1


Astaga, aku lupa. Kenapa tidak terpikirkan olehku.


"Tapi, kalau emang lo bisa liat masa depan, kenapa lo nggak ngomong dari awal siapa pelakunya? Terus, kenapa lo biarin Dzihan dan Elmira mati terbunuh? Dan kenapa lo biarin kita hampir mati? Kenapa nggak lo cegah dari awal?" Aku bertanya tanpa cela sedikit pun.


"Semua itu takdir, Via. Aku nggak mau mendahului takdir-Nya. Biar semua berjalan sesuai kehendak-Nya. Kematian Dzihan dan Elmira, mereka sudah ditakdirkan untuk mati dalam keadaan seperti itu. Sementara aku, hanya ini yang bisa aku lakukan. Menyelamatkan orang-orang yang belum waktunya mereka mati."


Jawaban Tara berhasil membuatku bungkam. Aku memandangnya takjub. Cewek yang terkenal aneh ternyata mempunyai kelebihan yang jarang--atau bahkan tidak dimiliki oleh siapa pun.


"Terus kenapa lo datang di saat-saat menegangkan gue?"


"Tapi aku datang tepat waktu, kan?" Ia mengangkat kedua alisnya dan tersenyum.


"Ya, lo benar," ucapku manggut-manggut dengan wajah bete.


"Sekarang masuklah ke dalam. Leo sudah menunggu kamu," ucapnya. Kemudian ia beranjak pergi.


Ya ampun, Tara berhasil membuat hidungku hampir saja terbang jika saja hidung ini hanya di tempeli dengan perekat.


Aku segera memasuki ruang rawat inap itu. Dan membuka pintu dengan hati-hatu.btak ingin menganggu Leo yang sedang beristirahat.


Kupandangi Leo yang sedang tertidur. Cowok itu benar-benar ganteng. Keningnya tertutup beberapa helai perban. Alis yang tebal, dan bulu mata lentik, hidung besar dan mancung, bibir yang pucat namun indah. Sayang, semua keindahan itu tampak memilukan dengan adanya infus dan perban di kepalanya.


Aku duduk di kursi yang terletak di samping ranjang. Setelah ragu sejenak, aku menggenggam tangan Leo. Dan mendekatkan bibir ke telinganya lalu berbisik..

__ADS_1


"Cepat sembuh, ya. Entah kenapa gue sedih liat lo kayak gini. Dan sekarang gue sadar kalau gue ternyata suka sama lo-"


"Benarkah?" Aku terkejut saat Leo merespon ucapanku.


__ADS_2