Dia Pelakunya?

Dia Pelakunya?
BAB 25


__ADS_3

Di luar, hujan sudah mulai turun. Kami pergi ke parkiran untuk mengambil motor. Tumben dia tidak membawa mobilnya yang mahal dan super keren itu. Dan kenapa aku harus menurut untuk mengikutinya. Dan mengiyakan tawarannya untuk mengantarkanku pulang.


"Langit mendung dan hujan. Jalanan pasti sepi, emang lo nggak takut dikejar-kejar lagi. Kita kan nggak tahu jumlah mereka berapa. Gimana kalau di luar sana mereka berkeliaran lebih banyak?" Begitulah katanya.


Sambil memakai helm, aku membayangkannya. Benar katanya. Gimana kalau misalkan ada algojo yang lebih besar dari yang tadi badannya dan jumlahnya lebih banyak. Leo hanya memperhatikanku yang sedang terus berusaha mengaitkan tali helm itu. Mungkin karena aku tak pernah naik motor, aku bahkan tidak tahu cara mengaitkan benda bulat itu bagaimana. Dan entah kenapa tali keparat itu tidak mau kukaitkan.


"Sini gue bantu." Meskipun nada suaranya dingin. Tapi, mengapa terdengar seperti sebuah perhatian kecil yang kuanggap besar.


Aku ini mikir apa, sih?


Badanku membeku sementara Leo membantuku mengaitkan tali helm itu. Astaga, kenapa dia menatapku lekat-lekat seakan bisa membaca pikiranku? Apa dia benar-benar bisa membaca pikiranku? Dia terlihat semakin keren dengan guyuran air hujan yang membasahi wajahnya. Entah mengapa jantungku yang tidak tahu malu ini meloncat-loncat kegirangan saat Leo membantuku duduk di jok belakang. Padahal aku tidak punya perasaan apa-apa padanya.


Kedua tanganku spontan memeluk pinggang Leo erat-erat saat motor melaju meninggalkan sekolah. Aku hanya diam membeku.


"Rumah lo di mana?" tanyanya sekeras mungkin mengatasi deru knalpot motor dan suara hujan.


"Di kompleks sekitar sini."


"Berarti rumah kita lumayan dekat, ya."


Hujan terus turun mengguyur kami sepanjang jalan.


Tiba di depan rumahku, Leo segera memarkirkan motornya di teras untuk berteduh sebentar di rumahku.


Tanpa disangka-sangka cowok bete itu berpaling ke belakang dan mengulurkan tangannya ke bawah daguku. Dalam sekejap tali itu sudah dilepasnya.


Aku mempersilakan Leo untuk masuk. Meskipun terdengar sedikit aneh, aku membawa cowok yang selama ini tak kusukai bahkan kubenci ke rumah?


Ibu terkejut melihatku membawa seorang anak laki-laki. Yeah, Karena baru pertama kali ini aku membawa seorang anak lelaki ke rumah. Mungkin sedikit lucu, cowok yang selama ini kubenci menjadi cowok pertama yang datang ke rumahku.


Ibu membawakan kami handuk kering dan coklat hangat. Untunglah beliau tidak banyak bicara. Hanya mengajukan beberapa pertanyaan. Seperti nama Leo dan sekolah, serta apa hubungannya denganku.


Oke, pertanyaan yang terakhir mungkin tidak terlalu penting.


Untuk sesaat kami saling diam. Sesekali Leo melirikku, begitu pun sebaliknya. Suasana menjadi canggung.


"Ada sesuatu yang mau gue tanyain ke elo," kataku tiba-tiba. Leo melepaskan coklat panas yang di tangannya. Dan beralih ke arahku.


"Cosa?"

__ADS_1


Aku menatapnya dengan serius. "Elo kenal sama Indrika?"


Leo diam sejenak. "indrika?" Matanya bergerak-gerak mencoba untuk mengingat-ingat nama itu.


"Maksud lo sodara kembar temen lo itu?"


Akhirnya dia mengingatnya, tapi mengapa responnya biasa saja seolah-olah Indrika bukan seseorang yang penting dalam hidupnya.


"Perché weve?"


"Elo suka sama dia, kan?" tanyaku pelan.


Dengan santai Leo menjawab. "Suka? Siapa yang bilang? Gue nggak suka sama dia. Bahkan kenal sama dia juga nggak. Gue tau dia dari gosip anak-anak, yang bilang kalau dia tiba-tiba hilang dan sampai sekarang belum ketemu."


Apa? Leo bilang dia nggak suka sama Indrika, kenal juga nggak. Tapi, bagaimana dengan ucapan Indira yang menyatakan bahwa Leo tergila-gila sama Indrika. Lalu siapa yang sebenarnya berkata jujur. Apakah Indira berbohong? Tapi untuk apa. Mungkin juga cowok bete ini yang berbohong. Karena aku belum sepenuhnya percaya padanya.


"Dan sebenarnya, Indrika itu hilang setelah pulang dari acara ulang tahun gue," tuturnya ragu-ragu.


Pesta ulang tahun? Sesuai dugaanku, Indrika meninggal setelah menghadiri sebuah pesta jika dilihat dari gaun yang ia kenakan. Leo kembali sibuk menikmati cokelat hangatnya.


"Menurut elo, Indrika masih hidup atau ..." Aku menghentikan ucapanku.


"Indrika sudah meninggal."


"Tunggu!" sergah Leo cepat. "Kenapa elo bisa ngomong kalau Indrika sudah meninggal? Dari mana elo tau? Atau jangan-jangan elo ...."


Sial, kenapa jadi aku yang dituduh macam-macam. Aku segera menepis perkataan Leo sebelum dia bicara yang tidak-tidak soal diriku.


"Elo jangan salah paham dulu. Jadi begini, waktu itu gue nemuin kalung milik Indrika. Dan semenjak itu gue jadi sering didatangin sama dia. Lalu gue bikin kesimpulan kalau itu arwahnya Indrika yang gentayangan," jelasku, sesekali membenarkan posisi duduk sambil.


"Maka dari itu, gue sama Indira bertekad untuk mengungkap kembali kasus hilangnya Indrika yang sampai sekarang belum terungkap. Bahkan polisi pun menyerah untuk mencarinya. Dan berhubung ketika itu terjadi teror di ruang BP. Dan tulisan ancaman itu menghubung ke tragedi setahun yang lalu. Sedangkan tragedi setahun yang lalu hanya ada kasus menghilangnya Indrika." Aku menjeda ucapanku sebentar. "Lalu kemudian ada kasus pembunuhan Dzihan, setelah itu gue dapat surat dari pelakunya yang menyangkutpautkan tentang semua kasus termasuk kematian Elmira juga. Di surat itu di jelaskan bahwa mereka berdua ada kaitannya dengan kasus Indrika. Dan sekarang nyokap lo juga udah jadi korban. Jadi, intinya semua kasus saling berhubungan dan si pelaku adalah orang-orang yang sama yaitu orang-orang yang selama ini sudah menyembunyikan jasad Indrika," jelasku panjang lebar. Leo hanya melongo mendengarkan semua penjelasanku.


"Orang-orang yang sama? Jadi maksud lo pelakunya lebih dari satu?"


Aku mengangguk. "Begitulah yang diinformasikan dari surat yang gue dapat. Tapi, ada satu yang bikin gue penasaran. Waktu gue dan Indira pergi ke jalan di mana gue nemuin kalung itu, kita lihat elo ngasih duit ke seorang bapak-bapak yang berpakaian kumuh. Bisa elo jelasin apa tujuan lo itu?"


Leo menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan pelan. "Asal lo tau, ya. Itu duit sumbangan yang akan gue kasih ke mereka. Gue nitip uang itu ke salah seorang pemulung yang udah gue kenal dan percaya untuk membagikan uangnya," jelasnya santai.


Aku tercengang mendengarnya.

__ADS_1


Cowok yang selama ini kupikir sombong, cuek dan dingin--nyebelin pastinya. Ternyata memiliki jiwa sosial juga.


"Astaga, gue pikir lo di sana lagi kasih duit buat tutup mulut."


"Tutup mulut apa?" tanyanya kebingungan.


"Tentu saja tentang kematian Indrika."


Leo membulatkan matanya. "Perbacco, sampai segitunya lo nuduh gue?"


"Ya soalnya Indira juga bilang kalau lo ngejar-ngejar Indrika. Jadi gue pikir elo pelakunya. Terus sebelum kematian Elmira, gue juga sempet liat lo baru keluar dari rumahnya. Setelah itu Ibunya Elmira nemuin Elmira sudah terbunuh. Elo nggak ngebunuh Elmira, kan?"


"Temen lo itu salah. Gue nggak habis pikir apa yang ada dipikiran kalian. Asal lo tau, ya. Waktu itu gue dapat sms dari Elmira kalau gue disuruh ke rumahnya. Karena sangat penting. Dan gue ke rumah Elmira, tapi Elmira bilang dia nggak merasa sms ke gue. Bahkan hp-nya pun hilang entah di mana. Makanya gue langsung cabut lagi. Awalnya Elmira nggak ngebolehin gue balik. Apa lo udah puas sama penjelasan gue?" tanyanya dengan nada suara yang mulai meninggi. Sepertinya si cowok bete ini kumat lagi dengan sifatnya yang dulu. Padahal sebelumnya dia bisa berbicara lembut.


"Kalian nuduh gue yang ngelakuin semuanya. Seburuk itukah gue di mata kalian, terutama elo?" lanjutnya.


Untuk kata-kata yang terakhir wajah Leo terlihat sedih. Ia memang tak memperlihatkannya, tapi aku dapat merasakan dari tatapan matanya.


Oke, sekarang aku merasa bersalah dan tak enak hati dengan semua tuduhan yang aku berikan padanya.


"Habisnya, semua bukti-bukti mengarah ke elo tau," cibirku. "Lalu sobekan baju lo yang ada di tempat kematian Dzihan."


"Kalau itu gue juga nggak tau, sumpah! Mungkin ada orang yang nggak suka sama gue terus manfaatin situasi itu untuk jatuhin gue."


Aku mengangguk patah-patah. Benar juga apa yang dikatakannya. Bisa jadi ada orang yang memanfaatkan situasi itu untuk menjatuhkan Leo. Siapa, sih yang suka pada cowok sombong, bete, nyebelin. Pasti kalian juga akan membencinya bila bertemu dengan cowok yang seperti itu.


"Percaya sama gue, Via. Gue nggak sejahat itu."


"Oke, gue percaya. By the way, elo kenapa tadi belum pulang?"


"Gue tadi lagi periksa ruangan nyokap gue, siapa tau gue nemuin bukti-bukti yang lain tentang siapa pelaku keparat itu."


"Oh, gitu ... satu lagi, lo kok bisa hafal nama gue? Gue pikir walaupun temen-temen gue manggil nama gue seribu kali juga elo nggak akan ingat. Karena dari awal kita ketemu juga lo udah keliatan benci sama gue"


Kulihat Leo sedikit gugup, matanya bergerak-gerak seolah sedang mencari jawaban yang tepat. Ia garuk-garuk kepalanya.


Kemudian ia melihat ke jendela. "Eh, hujannya udah mulai reda. Gue pulang dulu, ya. Bilang ke nyokap lo makasih coklat panasnya," ucapnya sambil berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dariku.


Aku hanya memandang kepergiannya dengan perasaan aneh bercampur penasaran.

__ADS_1


__ADS_2