
Setelah mendapat izin dari Karim.
Ayah Widya segera masuk dan menelusuri setiap sudut Kos-kosan SURGA.
Rian pun ikut membantunya, karena ia juga sangat yakin jika Widya benar-benar hilang di sana, di tambah lagi dengan rekaman CCTV yang ia peroleh dari Gang sempit, membuatku semakin yakin.
Baik Rian ataupun Tio, mereka tidak menunjukkan rekaman CCTV di gang sempit pada mereka.
Ke 2 lelaki itu sepakat untuk merahasiakan rekaman CCTV, dan baru akan ditunjukkan kepada Harun.
Setelah 1 jam lamanya, Ayah Widya dan Rian mengitari Kos-kosan,
mulai dari Kamarnya Widya hingga ke Rooftop bahkan di Ruang bawah tanah pun sudah mereka cari.
Namun mereka tidak menemukan jejak-jejak Widya di sana.
Ketika memasuki Kamar Widya, Pria Tua itu berlama-lama di sana.
Ia melihat semua barang-barang pribadi milik Widya yang benar-benar tidak bisa di tinggalkan ketika putrinya pergi.
Itu membuat Ayah Widya sangat yakin jika putrinya benar-benar diculik.
☠️☠️
Pria Tua itu pergi dengan tangan kosong tak menemukan jejak apapun, saat ini ia hanya bisa bergantung pada Polisi, dan berharap polisi bisa menemukan keberadaan Widya.
☠️☠️☠️
Selepas kepergian Ayah Widya.
Karim mengajak Ibunya untuk berbicara.
Sementara Tio dan Rian,
mereka menuju Rooftop untuk membicarakan soal rekaman CCTV sambil menunggu kedatangan Harun.
☠️☠️☠️☠️☠️
Di tempat lain.
Sesuai janji yang mereka sepakati, Riana dan Harun bertemu di sebuah Kafe yang letaknya tidak jauh dari tempat kerja Riana.
Riana sudah menunggu terlebih dahulu, dan Harun baru datang setelah 10 menit Gadis itu menunggu.
"Selamat siang!"sapa Harun.
Riana bangkit dari duduknya dan membalas sapaan Harun.
"Selamat siang!"
"Apa kau sudah menunggu lama?"
"Tidak! Hanya Baru beberapa menit saya di sini."
Riana kembali duduk dan diikuti Harun.
Melihat raut wajah Riana yang tenang, membuat Harun menjadi tidak yakin jika Riana terlibat dengan kasus pembunuhan Lestari.
Setelah mengamati gerak-gerik dan wajah Riana, Harun mulai menanyakan apa yang ingin Ia tanyakan.
Harun menunjukkan foto Lestari.
"Apa kau mengenali Wanita ini?"
Riana melirik sejenak, lalu mengangguk mantap.
"Iya, saya mengenalinya."
"Sudah sejak kapan kau mengenali Lestari?"
Ketika Riana ingin menjawab pertanyaan Harun, tiba-tiba pandangan matanya menangkap sosok Gadis yang tengah duduk di kursi pojok Kafe, menatap tajam dirinya.
Ya!
Dia adalah Gadis misterius yang sering mendatangi Riana secara tiba-tiba.
__ADS_1
Riana terpaku menatap kehadiran Gadis itu.
"Kenapa dia ada di sini!"
Sehingga membuatnya bungkam dan tidak menjawab pertanyaan dari Harun.
Harun yang kebingungan melihat ekspresi Riana yang seperti terkejut dan ketakutan langsung menoleh ke belakang mengikuti arah pandangan mata Riana.
Lalu secepat mungkin Harun kembali menatap Riana bingung.
"Ada apa? Apa ada sesuatu?"
Dengan cepat Riana menggeleng.
"Tidak-tidak! Tidak ada apa-apa,"kata Riana. Namun sangat jelas terlihat di raut wajahnya kalau ia tengah gugup dan ketakutan.
"Baiklah! Jadi sejak kapan kau mengenali Lestari?"
Ketika Riana ingin membuka mulutnya ia kembali melihat sosok Gadis misterius yang ada di pojokan,
Gadis itu memberi isyarat dengan gerakan tangannya pada Riana agar ia menutup mulut.
Lalu secara Refleks, Riana berkata.
"Tidak lama! Saya mengenalnya sejak Saya bekerja di Kantor itu, dan itu juga karena dia atasan saya, selebihnya kami tidak memiliki hubungan apapun, kami tidak dekat,"kata Riana berbohong.
Padahal dia dan Lestari sudah berteman sangat lama bahkan bisa di sebut bersahabat.
Mereka berasal dari Kota dan Kampung halaman yang sama.
Tapi kenapa Riana berbohong?
Sepertinya Riana terpengaruh dengan sosok Gadis Misterius yang selalu mendatanginya hingga membuat ia berbohong pada Harun tentang pertemanannya dengan Lestari.
"Apa kau yakin, hanya mengenali Lestari sebatas dia atasanmu saja?"kata Harun.
"Iya!"
"Sebelum kejadian pembunuhan yang menimpa Lestari, apa benar kau terlibat cekcok atau berkelahi dengan dia?"Harun kembali melemparkan pertanyaan pada Riana.
Tetapi lebih tepatnya lelaki itu ingin mengintrogasi nya, karna Harun mencurigai dirinya.
"Apa kau mencurigai saya?"tanya Riana berterus terang dengan apa yang ia pikirkan.
Harun menghela nafasnya.
"Bukan mencurigai, Saya hanya ingin bertanya antara hubunganmu dan Lestari, untuk mengembangkan penyelidikan kasus ini agar kami bisa mengungkap Siapa pembunuh sebenarnya."
"Bukankah Polisi sudah menetapkan tersangkanya? Dan itu pak Bayu."
"Memang benar! Tapi ada kemungkinan bukan Pak Bayu pelakunya."
Riana yang sudah merasa tidak nyaman dengan semua pertanyaan Harun yang seolah-olah mencurigainya bahkan menuduhnya.
Segera bangkit dari duduknya.
"Maaf! Jika kau berniat mengintrogasi saya.
Lakukan saja di Kantor Polisi, saya akan datang dengan sukarela jika Polisi benar-benar memanggilku untuk menjadi saksi atas kasus pembunuhan Lestari,"kata Riana dengan tegas.
"Maaf, sepertinya kau salah paham." Kata Harun.
Riana menundukkan kepalanya.
"Maaf, saya harus kembali bekerja."
Setelah mengatakan itu pada Harun Gadis itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Harun.
Harun menatap kepergian Riana.
Ia benar-benar semakin bingung dan frustasi dengan kasus ini.
Jika memang Riana pelakunya, mengapa dia tidak memiliki rasa takut sama sekali bahkan ia menantang untuk datang ke Kantor polisi secara langsung.
"Baiklah! Untuk sementara kita tinggalkan dulu Gadis ini, karena saat ini ada urusan yang lebih penting, aku harus segera mencari keberadaan Widya sebelum terjadi sesuatu pada Gadis itu,"kata Harun seraya melirik jam yang melingkar di tangannya, karena menunjukkan waktu, tepat di saat Widya hilang kemarin.
__ADS_1
Karim bergegas menuju Kos-kosan SURGA.
☠️☠️☠️☠️☠️
Di Kos-kosan.
Karim dan Bu Saidah tengah berbincang.
Entah apa yang mereka bicarakan, tapi di sana terlihat sekali wajah bingung Karim dan Bu Saidah.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Karim?"
"Entahlah Bu aku juga bingung, apa kita lepaskan saja dia?"
"Jangan! Jika kita melepaskan dia, bagaimana kalau dia menceritakan pada semua orang tentang rahasia kita selama ini."
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan Bu, bagaimana jika Polisi dan Harun menemukan dia?"
"Itulah yang ibu takut kan."
"Baiklah! Untuk sementara kita tahan saja dulu dia di sana, rapihkan tempat itu agar tidak terlihat oleh Harun dan Polisi ketika melakukan penggeledahan di sini, dan ibu juga pastikan Jika dia tidak bersuara ketika Harun dan Polisi mencari di sana, untuk selanjutnya kita pikirkan nanti, yang terpenting kita tangani saja untuk hari ini dulu,"kata Karim.
"Baiklah! Ibu setuju, kalau begitu ibu lihat dia dulu, Ibu ingin memastikan jika saatnya nanti Harun dan Polisi datang Gadis itu tidak mengeluarkan suara sedikitpun,"kata Bu Sadiah lalu bergegas keluar dari Kamarnya.
☠️☠️☠️
Bu Saidah bergegas menuju Ruang bawah tanah.
Ia mendorong sebuah lemari besar yang berisi buku-buku usang, dan ternyata di balik lemari besar itu ada sebuah pintu Rahasia.
Bu Saidah mengeluarkan kunci dari saku bajunya lalu membuka pintu itu.
CKLEK...
Pintu terbuka.
Dan ruangan itu ternyata, sebuah kamar dengan suasana yang cukup mengerikan, gelap adalah pandangan pertama yang di lihat ketika memasuki ruang rahasia itu.
Bu Saidah menyalakan lampu di sana, dan ketika cahaya menyinari seluruh ruangan, pemandangan semakin mengerikan..
Ornamen-ornamen mengerikan serta tulang belulang yang berserakan, hampir memenuhi ruangan.
Dan di sana juga ternyata ada Widya.
Gadis itu tengah diikat kedua tangan dan kakinya, serta mulutnya pun dibungkam.
Dan di ujung ruangan itu terdapat sesuatu yang sangat mengerikan yang selama ini Bu Saidah sembunyikan di sana.
Mata Widya terbelalak menatap kedatangan Bu Saidah.
Ia meronta meminta untuk dilepaskan.
Namun Bu Saidah tentu tidak akan melepaskannya.
Wanita itu mengeluarkan sebuah jarum suntik yang beberapa jam lalu dibeli oleh Karim.
Mata Widya terbelalak ketika Bu Saidah mengarahkan jarum suntik itu di lengannya, namun Gadis itu tak bisa berbuat apa-apa selain meneteskan air mata.
Dengan cepat Bu Saidah dan menyuntikkan cairan itu di tubuh Widya, dan beberapa menit kemudian Gadis itu mulai lemas memejamkan matanya.
Setelah selesai, Bu Saidah melepaskan ikatan di tangan dan kaki Widya.
"Maafkan Ibu, Ibu terpaksa melakukan ini,"ujarnya, sambil membaringkan Widya di atas ranjang kecil yang kotor.
Setelah selesai dengan urusan Widya, yang sudah pasti tidak akan sadar sampai besok pagi, Bu Saidah beralih ke pojok ruangan menatap sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
☘️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☘️
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya ya 🙏
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya 🤗
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1