
Rachel terkejut setelah mengetahui obat apa yang di beli Karim.
"Obat Antidepresan?"
"Iya benar, dan Karim bilang obat itu untuk saudaranya."
Saudaranya! Apakah Karim mempunyai saudara yang mengalami depresi berat? Gumam Rachel dalam hatinya.
"Baiklah kalau begitu terimakasih atas informasinya,"kata Rachel dan dia pun segera berpamitan dari Apotek itu.
Dengan cepat Rachel Kembali menuju ke Kos-kosan dan sampai sana ia tidak melihat keberadaan Karim bahkan ia sampai mencari ke Rooftop dan keruangan lainnya tapi Karim tidak ditemukan.
Dan ketika Rachel bertanya pada Ibu Saidah, wanita itu juga mengatakan bahwa Karim pergi ke Rumah temannya.
Cepat sekali lelaki itu pergi!
"Untuk apa nak Rachel mencari Karim! Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa Bu, Aku hanya ingin bertanya-tanya saja dengan Karim soal pekerjaan karena sampai sekarang aku masih belum mendapatkan pekerjaan."
"Oooh. Nak Rachel ingin meminta bantuan Karim mencarikan pekerjaan?"
"Benar Bu."
"Kalau begitu nak Rachel tenang saja, Ibu akan membicarakannya pada Karim."
"Terimakasih Bu!"
__ADS_1
********☠️☠️
Beberapa hari sudah Rachel tinggal di Kos-kosan itu namun ia tidak menemukan kejanggalan apapun, para penghuni di sana semua terlihat normal tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan.
Bahkan Riana yang sempat dia curigai pun bersikap normal seperti yang lainnya dan hal ini semakin membuat Rachel bingung.
Hingga pada suatu malam tepatnya di pukul 00:00.
Rachel yang belum bisa memejamkan mata tiba-tiba mendengar suara gaduh tepatnya di Kamar Riana.
Rachel yang penasaran dan takut terjadi sesuatu pada teman satu Kosnya segera keluar dari Kamarnya untuk memastikan bahwa Riana dalam keadaan baik-baik saja.
Ketika Rachel hendak mengetuk pintu kamar Riana, ia mendengar Riana tengah berbicara, lebih tepatnya berdebat.
Tapi hal ini tentu membuat Rachel bingung karena yang ia tahu Riana hanya tinggal sendiri di Kamar itu.
Gadis itu semakin menajamkan pendengarannya bahkan ia menempelkan telinganya tepat di pintu Kamar Riana, tapi seperti apapun Rachel menajamkan dan membuka lebar telinganya ia sama sekali tidak mendengar suara orang lain selain Riana.
Jika tidak ada orang lain di sana Lalu Riana tengah berdebat dengan siapa?
Rachel semakin penasaran, dengan siapa Riana berbicara.
Apa dia tengah berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon?
Tapi Rachel tidak mempercayai itu. Dia sangat yakin jika Riana tidak sedang menelpon atau menerima telepon dari siapapun.
BRAK!
__ADS_1
Rachel sangat terkejut dengan suara benda jatuh dari dalam Kamar Riana, untung saja ia tidak sampai menimbulkan suara yang mungkin bisa memancing Riana keluar dari Kamarnya.
"Ambil itu! Itu milikmu. Aku tidak mau menyimpannya lagi, sekarang Lebih baik kau bawa kotak itu dari kamarku."
Suara Riana tertangkap jelas di indra pendengaran Rachel.
"Kotak! Kotak apa yang di maksud Riana!"
Rachel semakin menajamkan pendengaran dan menutup rapat mulutnya agar tidak mengeluarkan suara apapun selain gumaman dalam hati. Ia ingin tahu lebih banyak apa yang dikatakan oleh Riana di dalam kamar sana, dan ia sangat yakin jika setiap suara yang Riana keluarkan akan menjadi petunjuk baginya.
"Pergi dari sini dan jangan pernah menemui aku lagi?"
........
"Tapi bukan aku yang melakukannya!"
.......
"Tidak! Aku bilang bukan aku yang melakukannya, itu semua ulahmu!"
Rachel semakin dibuat bingung dengan suara Riana di dalam, ia seperti terlibat berdebat hebat dengan seseorang. Tapi Rachel sama sekali tidak mendengar suara dari lawan debat Riana.
☠️☠️☠️☠️☠️
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🙏
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️