Dia Yang Berasal Dari Neraka!

Dia Yang Berasal Dari Neraka!
BAB 39. Mendatangi Desa. Asal Riana


__ADS_3

"Apa aku boleh masuk?"pinta Tio pada Riana.


Meskipun sedikit ragu. Tapi Riana tetap mengizinkan Tio masuk ke dalam Kamarnya.


"Silakan!"


"Terimakasih!"


Tio masuk dan duduk di bangku satu-satunya yang ada di dalam Kamar itu.


Ia menatap sekeliling Kamar Riana.


Tidak ada yang berbeda baik tembok ataupun isi perabotan di kamar itu sama seperti di kamar miliknya, tapi entah mengapa Tio merasa ada sesuatu yang lain di Kamar itu.


Ehem....


Riana berdehem menyadarkan Tio yang tengah Fokus menatap lemari pakaian yang ada di Kamarnya.


"Ah.. Maaf! Aku sedikit melamun tadi,"ucapnya dengan canggung. Karena merasa tidak enak pada Riana.


"Bagaimana dengan keadaanmu, kau baik-baik saja kan? Apa selama kau di sekap di Ruangan itu Karim dan Bu Saidah memperlakukanmu dengan buruk, seperti menyiksa?"tanya Tio pada Widya.


"Tidak! Mereka tidak menyiksaku. Mereka hanya menyayangkan aku yang mengetahui rahasia yang ada di Ruangan itu."


"Rahasia?"


Widya mengangguk. Dan iapun kembali menceritakan apa yang sebelumnya sudah ia ceritakan pada Riana tentang Pria tua yang ada di Ruang bawah tanah itu.


Sama seperti Riana. Tio pun terkejut mendengar penjelasan Widya dan merasa penasaran, siapa Pria Tua itu.


******


Di tempat lain.

__ADS_1


Harun dan Rachel sudah sampai di Desa yang mereka tuju. Desa yang pernah menjadi tempat pembantaian satu keluarga dan sampai sekarang pelakunya masih belum di temukan keberadaannya.


Harun dan Rachel kembali mendatangi keluarga korban pembantaian dan meminta izin untuk masuk kedalam Rumah itu.


Setelah mendapatkan izin dari pihak keluarga, Harun dan Rachel bergegas memasuki Rumah korban.


Di temani dengan keluarga, ketua RT dan RW di sana.


Selama mereka melakukan penelusuran di Rumah yang menjadi saksi bisu pembantaian itu, Harun bertanya tentang Gadis yang bernama Riana.


Tapi dengan tegas! Baik ketua RT dan RW menyatakan jika tidak ada warganya yang bernama Riana.


Lalu bagaimana dengan Riana yang mereka kenal ?


Bukankah gadis itu berasal dari Desa ini?


"Apa bapak yakin jika tidak ada Gadis bernama Riana tinggal di Desa ini?"Harun kembali bertanya, untuk memastikan, karena ia sangat yakin jika Riana benar-benar dari Desa itu.


"Benar nak Harun, tidak ada Gadis yang bernama Riana di Desa ini, bahkan di Desa sebelah pun sepertinya tidak ada. Jika Nak Harun tidak percaya Nak Harun bisa memeriksa data-data warga yang ada di Desa ini,"ucap ketua RW di sana.


"Apa nak Harun yakin dan sudah memastikan jika Gadis itu pernah tinggal di Desa ini?"


Meskipun tidak ada bukti yang dapat di tunjukkan oleh Harun selain dari perkataan Tami yang mungkin tidak cukup kuat untuk meyakinkan kedua Orang penting di Desa itu. Tapi Harun sangat yakin jika Riana benar-benar pernah menjadi warga di Desa itu.


"Saya yakin pak, karena saya dan teman saya sudah menyelidikinya secara langsung." Jawab Harun dengan yakin.


Kemudian ia mengeluarkan Ponsel dari balik saku jaketnya. Dan mencari Foto Riana di sana.


"Ini Gadis yang bernama Riana, apa bapak mengenalinya?"tanya Harun seraya menunjuk Foto Riana.


Kedua Pria paruh baya itu memperhatikan dengan seksama Foto yang ada di Ponsel Harun.


Mereka saling pandang dan berkata lewat batin.

__ADS_1


Setelah beberapa menit.


Kedua Pria itu akhirnya mengatakan sesuatu pada Harun.


Harun yang sudah memiliki keyakinan besar jika kedua Pria itu pasti mengenali Riana. Seketika!


Merasa seperti di Dorong dari atas tebing ketika Pria itu berkata.


"Kami tidak pernah melihat gadis ini sebelumnya. Dan kami bisa memastikan jika dia bukan warga sini, mungkin dia berasal dari kota lain."


"Apa bapak yakin! Coba lihat sekali lagi dan lihat dengan baik-baik,"kata Harun yang memaksa agar kedua Pria itu kembali melihat Foto Riana.


"Benar nak! Kami sangat yakin jika Gadis ini bukan Warga sini."


"Coba Bapak lihat sekali lagi."


Harun kembali memaksa dan tentu saja hal tu membuat Pak RT dan Pak RW merasa tidak nyaman dengan Harun yang memaksa seperti mereka.


Rachel yang menyadari akan hal itu, segera menghentikan Harun.


Sepertinya lelaki itu sangat gemas bercampur jengkel.


Karena sulit sekali mengorek informasi tentang Riana.


Rachel meraih tangan Harun.


"Maafkan teman saya Pak. Dia memang sering seperti ini, jika terlalu bersemangat bekerja!" kata Rachel pada kedua Pria yang menyandang gelar sebagai RT dan RW itu.


☠️☠️☠️☠️☠️☠️


Terimakasih sudah mau membaca cerita ini.


minta dukungannya ya 🙏

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2