Dikhianati Tapi Dicintai

Dikhianati Tapi Dicintai
Part.12 " Galau "


__ADS_3

Malam mulai menyapa, lampu-lampu tetangga juga mulai menerangi rumah mereka masing-masing, tapi tidak dengan kamar Wana yang sedari tadi gelap gulita seperti tak berpenghuni, padahal di dalam sana ada dua insan yang sedang di landa kegalauan.


Wana masih diam di bibir ranjang sambil menatap rumah-rumah orang yang sudah menyala lampu nya.


Aidan masih terduduk di sudut lemari kaca pas menghadap Wana, dengan kaki yang di lipat ke depan dan wajah tertunduk, karena merasa bersalah pada istri yang sangat ia cintai.


Aidan langsung bangkit dari duduk nya dan mendekati Wana.


"Sayang tolong maafin Abang ya! besok kita kan sudah kembali ke kota, Abang janji tidak membuat mu sakit hati lagi anggap ini sebuah pelajaran buat Abang." Aidan bersimpuh di hadapan Wana sambil menggenggam tangan Wana dan menciumi punggung jemari Wana yang lembut.


Wana hanya terdiam dan tak tahu harus menyalahkan siapa.


'Apakah ini yang membuat bang Aidan tidak mau Wati tinggal di rumah kami?, harusnya aku menyadari ini semua dari awal, kalau di pikir-pikir Wati juga salah terlalu mengekspos tubuh nya pada lelaki bersuami dan itu adalah Abang ipar nya sendiri, tapi... bang Aidan tetap salah.' Gumam Wana dalam hati.

__ADS_1


Wana menghapus air mata nya dan bangkit dari duduk nya serta menyalakan lampu dan langsung menarik Handuk dan menuju kamar mandi, ia sama sekali tak memperdulikan suami nya yang bersimpuh di depan nya.


"Sayang, tolong lah jangan siksa aku seperti ini sayang!" Aidan menarik tangan Wana yang hendak menarik kenop pintu kamar mandi.


"Bang lepaskan tanganku, aku mau mandi dulu jika kamu mau keluar tenang kan pikiran mu silahkan." jawab Wana sambil melepaskan tangan Aidan dari nya.


Wati pun langsung masuk ke kamar mandi, 15 menit kemudian Wana keluar dari kamar mandi tapi dia tidak menemukan suami nya di kamar.


Ia pun melangkah keluar dari kamar dan menuju ruang tamu, di sana ada Bu Anida dan Ayah Sastra serta Warsidi yang asyik menonton televisi.


"Eh.. pengantin baru udah keluar, sini nak besok kamu juga udah kembali ke kota entah kapan pulang kesini lagi?" Panggil Bu Anida pada anak nya yang sebentar lagi ikut suaminya.


"Iya ni cantik nya Ayah udah besar aja, sebentar lagi akan jadi ibu, ingat jangan di tunda-tunda ya Ayah pengen cepet-cepet punya cucu." timpal Pak Sastra langsung merangkul pundak anak nya.

__ADS_1


Wana menutup wajahnya tersipu malu, dan memeluk kedua orangtuanya yang selalu mensupport nya.


"Mmm Ibu ada lihat Bang Aidan, soalnya tadi aku mandi jd gak tau?" tanya Wana kikuk seolah menyembunyikan rasa sedih dalam hati nya.


"Tadi bang Aidan bilang ke aku mau ke counter Kak, kayak nya yang di ujung jalan itu lho kak." jawab Warsi, ternyata dia yang tau di mana bang Aidan.


"Oh..ya udah kalau gitu, Yah, Bu, aku ke kamar dulu beres-beres buat besok." sahut ku lembut ke orang tuaku yang sangat menyayangi ku.


'Sudah 1 jam aku di kamar tapi Bang Aidan belum juga kembali perasaan ku tidak enak soalnya bang Aidan belum pernah ke kampung ini aku takut dia nyasar aja, kalau pun mau ke arah kota lumayan jauh' Batin Wana dengan rasa khawatir.


"kok aku jadi galau gini ya" ucap Wana seorang diri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2