
Tiba-tiba ada yang datang mengetuk pintu kamar Wana.
"Kak..kak... cepat keluar coba lihat bang Aidan!!?" panggil Warsi tergesa-gesa dengan wajah yang memerah seperti orang kalut.
"Ada apa sih dek, kenapa dengan bang Aidan? dia gak kenapa-kenapa kan?, Kamu jangan buat Kakak khawatir dong." jawab Wana yang tak kalah terkejut nya dengan wajah yang merah dan mata melotot dan napas yang tertahan.
"Ayok ikut aku!" ajak Warsi sambil menarik tangan Wana..
Wana pun bergegas cepat mengikuti langkah Warsi yang menuju halaman dapur.
Di sana ada seorang lelaki yang kedinginan ambil menangis di atas sebuah bangku panjang yang sengaja di buat oleh Pak Sastra untuk bersantai.
"Bang..bang Aidan kenapa? jawab aku bang?" Wana langsung memeluk tubuh suami nya yang bergetar menahan gejolak rasa sakit dan bersalah pada istri nya.
"Warsi cepat papah bang Aidan bawa ke kamar, buruan!" perintah Wana pada Warsi yang bengong melihat Abang ipar nya.
__ADS_1
"I..iiya Kak sini aku papah, emang nya ada apa sih kak kenapa bang Aidan seperti ini? kakak ada masalah ya?" tanya Warsi bertubi-tubi.
Wana hanya terdiam dengan mimik wajah yang sangat sedih, wana sangat khawatir dengan keadaan suami nya dia tau betul sifat suami nya jika merasa sangat bersalah.
"Gak usah ikut campur yang penting antar aja ke kamar yuk!," Wana tidak menjawab pertanyaan Warsi.
'Hu..uuh yang di tanya apa yang di jawab apa dasar kak Wana, dari dulu gak mau merepotkan orang' batin Warsi
Setelah Aidan di bawa ke dalam kamar Wana langsung menutup pintu dan membuka baju Aidan dan menganti nya dengan yang kering.
'Abang, maafin aku ya, aku lupa kalau kamu punya kelainan dalam hal perasaan, jika kamu udah merasa bersalah pasti sedih nya seperti ini, jika aku telat aja tadi bisa jadi bang Aidan nekat, kenapa aku lupa ya' Wana tertunduk lesu di sebelah Aidan yang sudah mulai membaik.
Di tempat lain di sebuah gedung megah dengan lampu kerlap-kerlip, serta nuansa musik disco yang menggema sampai ke luar.
Di dalam sana sedang ada pesta, pesta anak muda yang baru lulus SMA.
__ADS_1
"Waw... Wati malam ini kamu very beautiful.. aku sangat suka itu" puji Ratan pada Wati sambil mengerlingkan mata nya yang sedari tadi melihat ke arah belahan payudara Wati.
"Ah.. kamu Tan jangan gitu dong, aku nya jadi malu kalau di puji-puji gitu," Ucap Wati tersipu malu.
"Oh..ya Wat kamu jadi gak lanjut kuliah ke kota, kata mu waktu itu mau ikut Kakak mu ya?" tanya Mutia pada Wati penasaran.
"Seperti nya jadi cuma belum tau kapan aku berangkat kesana." jawab Wati singkat.
"Ternyata Abang ipar mu itu ganteng ya seperti Artis Korea, Aku aja kalau di kasih laki seperti itu gak nolak..ha..ha..." ledek Ruri sambil terkekeh.
"Hust.. gak boleh ngomong gitu, pamali ntar jadi beneran lho." sanggah Adnan yang lebih bijak dari pada mereka berempat.
"Ada yang mau dansa gak? ayo Wat dansa dengan ku!" Ajak Ratan pada Wati yang dari tadi main mata pada nya.
"Ayo.. siapa takut, aku paling hobi menari." sahut Wati bersemangat.
__ADS_1
Setelah mereka dansa mereka pun melanjutkan minum bersama dan tanpa Wati sadari Ratan telah memasukkan obat tidur ke dalam minuman nya...
Bersambung...