
Aidan langsung melepas pelukan nya dan memperbaiki posisi Wana biar lebih nyaman.
"Mama, Tasya , kapan kalian datang apa sudah lama? " tanya Aidan dan langsung meraih tangan wanita yang melahirkan nya dengan penuh kasih sayang. Dan memeluk adik perempuan nya yang kadang masih manja padanya.
"Ayo masuk dan duduk lah di sini, aku merindukan mama sebenarnya kemarin aku mau kerumah mama kata bang Aidan papa ada perlu dengan nya tapi...." Wana tak melanjutkan kalimatnya.
""Tapi kenapa sayang, apa menantu mama lagi bersedih ,apa suami mu menyakiti mu hem?" tanya Mama Marya penuh selidik, dan mata nya tajam melirik Aidan yang dari tadi salah tingkah karena takut dengan tatapan mamanya yang mengintimidasi nya.
" Jangan seperti itu donk ma, kakak mana berani nyakitin Wana wanita yang paling kakak cintai." sambar Aidan yang takut di salah kan mama nya, dan cepat-cepat pinda duduk di tepi ranjang Wana.
"Trus Wati itu siap kak, selingkuhan kakak atau saudara nya kak Wana? Kok tadi kakak bilang ada di rumah kalian,ngapain dia di sana?" tanya Tasya bertubi-tubi dan ikut duduk di samping Aidan.
Aidan terlihat bingung ingin menjelaskan nya tapi yang pasti jika dia tidak mengatakan nya sekarang takut nya nanti keluarga nya salah paham.
"Dia adik kandung nya Wana ma, tapi sifat nya seperti langit dan bumi dengan Wana bahkan dengan adik Wana yang satu lagi lebih sopan, kalau Wati ini sangat tidak sopan dari cara berpakaian,bicara dan memandang orang ma" jawab Aidan menjelaskan duduk permasalahan nya. Aidan tak mau kalau sampai keluarga nya berpikir dia selingkuh walaupun sebenarnya Aidan hampir saja tergoda, nama juga laki-laki normal.
"Oh..jadi adik Ipar kamu sudah datang sayang, kalau memang seperti itu sifat nya kenapa gak suruh Tasya aja yg menemani nya di rumah mu biar bisa di awasi Tasya, Mama gak mau tau kalau sempat kamu tergoda dan selingkuh jangan harap kamu mama aku jadi anak biar istri dan anak mu mama sembunyikan biar kamu gak bertemu mereka, mau kamu," ucap Mama Marsya yang seperti ultimatum yang harus di patuhi peringatan keras yang buat Aidan bergidik.
__ADS_1
" Jangan dong Ma, jahat banget mama ku ini, sama anak sendiri lagi tu ini kan anak ku ma jangan gitu dong, percaya sama kakak ma, kakak gak akan sampai tergoda dengan wata mana pun pegang ucapan kakak ya ma, tapi seandainya itu terjadi tolong ingat kan kakak ma jangan musihin dong." Rayu Aidan pada Mama nya yang sangat protektif pada keadaan menantunya dia gak mau sampai mantu nya tertekan.
"Huh itu sih enak di Abang, pokok nya aku gak mau kalau sampai Abang macam-macam, ingat itu," sahut wana dengan tatapan tajam yg buat hati Aidan tak berkutik.
"Sudah, sudah biar aku aja yang kerumah kakak, kak Aidan jaga kak Wana baik-baik ya jangan sampai keponakan ku kenapa-kenapa.
Tasya pun langsung beranjak dari duduk nya dan berlalu dari ruangan Wana setelah mencium tangan mama Marsya.
Sampai di rumah Kakak nya dia tertegun melihat kamar kakaknya yang diatas lampu nya menyala padahal tidak ada orang. Tasya langsung membuka pintu depan karena dia memang mempunyai duplikat kunci rumah kakak nya, pelan-pelan dia melangkahkan kaki nya menuju kamar kakaknya karena jiwa kepo nya meronta dia ingin tahu siapa perempuan jadi-jadian yang ingin menganggu rumah tangga kakaknya.
" lebih baik aku sembunyi dulu aku mau tau apa yang wanita jadi-jadian itu lakukan dan apa sebenarnya rencana busuk nya itu" Tanya bermonolog dan langsung bersembunyi di samping kamar kerja kakak nya tapi tetap dia bisa melihat dan mendengar apa yang dilakukan Wati.
Ceklek
Suara kenop pintu kamar mandi terbuka,Wati tidak tau kalau sebenarnya ada orang lain di kamar itu. Dia langsung melangkah dan mendekati ranjang besar Aidan dan Wana tempat mereka memadu kasih.
"Enak sekali kamu Wana dari dulu aku sangat ingin buat kamu menderita tapi entah mengapa nasib baik selalu menghampiri mu, bahkan kamu bisa dapat suami yang seperti pangeran dan sangat tampan hingga aku ingin memiliki nya aku yakin bang Aidan pasti tergoda buktinya tadi pagi aja dia sampai tak berkedip melihat penampilan ku, terpesona haha.."monolog Wati sampai tertawa sendiri.
__ADS_1
Di samping ruangan itu Tasya sampai terkejut mendengarnya bahkan dia tak percaya Kak Aidan nya hampir terperdaya.
" Ini tak bisa di biarkan wanita jadi-jadian ini seperti nya ingin menguasai rumah ini dan juga Kak Aidan, aku harus telpon papa setelah ini." ucap Tasya dalam hati dan langsung keluar dari persembunyiannya dan pura-pura tak tahu dan terkejut. "Siapa kamu kenapa kamu ada di kamar Kak Aidan dan Kak Wana?" tanya Tasya pada Wati dengan ekspresi terkejut.
Wati jadi gugup dan salah tingkah karena tertangkap basah masuk ke kamar kakak nya, dan lebih parahnya menggunakan baju dan perhiasan kakaknya tanpa ijin.
Tapi bukan Wati kalau tidak bisa menjawab pertanyaan siapa pun bahkan dengan sombong nya dia mengatakan kalau dia akan menjadi calon nyonya rumah ini.
"Harus nya aku yang bertanya siapa kamu yang seenaknya aja masuk rumah ini dan langsung ke kamar calon suami ku hah, asal kamu tau aku ini adalah calon nyonya rumah ini" Jawab Wati dengan frontal tanpa basa-basi, dia gak tau aja kalau rumah itu adalah milik dari kakak nya Tasya.
Tasya tersenyum miring melihat Wati dari ujung kaki sampai kepala , dan Tanya menyeringai " Kau pikir kau siapa hah, mau tanya aku siapa, aku Natasya Adelia Perkasa putri dari Bapak Bagaskara Perkasa dan pasti nya adik dari Aidan Perkasa laki-laki yang menjadi khalayan mu, jangan harap kamu bisa hancurkan pernikahan kakak ku," ucap Tasya dengan wajah sangar nya bahkan Wana pun tak pernah melihat Adik ipar nya marah.
Wati langsung mundur selangkah dan menjatuhkan kalung milik Wana yang hendak di pake nya, karena gugup dan malu dia pun langsung cosplay jadi wanita yang kikuk.
"A..aku tidak tahu kalau kamu adik nya bang Aidan, maaf ya Aku hanya berpikir kalau bang Aidan memasukan perempuan lain jadi aku sengaja bilang gitu jangan di masuk kan ke hati ya." jawab Wati dengan rasa gugupnya dan langsung mendekati Tasya.
"Aku akan taklukan dulu adik nya semoga dia tidak mendengar rencana ku sebelum nya, untuk sementara aku akan baik-baikin dulu setelah itu haha sabar Wati," ucap Wati dalam hati nya sambil tersenyum sendiri.
__ADS_1