
Pagi yang indah itu berubah panik karena tiba-tiba Wana pingsan.
Aidan tak perduli di angkat nya Wana dan langsung membopong nya sambil berlari-lari menuju rumah sakit yang sekitar 300 meter dari kantor mereka.
"Sus..suster tolong ambil kursi roda atau apalah, istri saya tiba-tiba pingsan, cepetan sus, kok malah bengong." teriak Aidan membuat suster itu bingung.
"Ba..baik pak silahkan baring kan di brankar dorong ini pak." jawab suster gugup
Aidan pun meletakkan tubuh istri nya yang masih belum sadarkan diri itu.
Sampai di UGD ada dokter jaga yang kebetulan perempuan.
Dokter muda itu langsung memeriksa Wana dan nampak sesekali dokter itu tersenyum melihat Aidan yang dari tadi seperti orang bingung dan galau.
"Keluarga dari Ibu Wana" suster memanggil Aidan.
__ADS_1
"Ya.. saya suami nya sus, istri saya tidak kenapa-kenapa kan sus, doa baik-baik aja?" tanya Aidan penasaran.
"Sebaiknya bapak masuk dulu biar dokter Lintang yang menjelaskan." jawab suster dengan ramah.
Aidan pun masuk kedalam ruangan istrinya tadi, di lihat nya Wana sudah mulai sadar dan masih terbaring lemah.
"Sayang.. kamu tidak apa-apa kan, apa yang sakit? Abang sangat khawatir sekali." Aidan langsung memeluk istrinya dan mencium pucuk kepala istrinya ia lupa bahwa sedang di ruangan yang ada dokter dan suster.
"Ehem..ehem.." Dokter Lintang berdehem..
"Oh..ya.. maaf Dok,saya terbawa suasana
"Tidak apa-apa pak, sudah semestinya seorang suami khawatir akan keadaan istrinya, oh..ya istri bapak hanya kelelahan saja karena sekarang dia bukan sendiri melainkan ada nyawa lain yang mesti di jaga nya, dan..."Ucap dokter Lintang tapi belum jelaskan informasi nya tapi sudah di potong.
"Apa dok, maksud dokter istri saya hamil? apakah kabar bahagia ini benar dok? " tanya Aidan dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Iya Pak Aidan, Istri bapak sedang hamil, usia kandungan nya memasuki 3 Minggu tolong di jaga ya pak karena sangat rawan sekali, kalau bisa jangan kerja yang berat-berat dulu." Jelas Dokter Lintang.
Wana masih belum seberapa sadar tapi dia mendengar semua penjelasan dokter tak terasa bulir bening itu menetes di sudut pipi Wana yang mulus.
"Kita akan menjadi orang tua Bang." kata Wana dengan suara bergetar dan mengelus perutnya, yang masih tipis.
"Iya sayang, kamu harus istirahat total dulu sampe kandungan mu kuat baru boleh bekerja itu pun yang ringan-ringan aja." perintah Aidan pada Wana.
"Ini resepnya nya pak saya ada kasih vitamin ya pak buat Bu Wana dan obat mual." kata dokter dan memberikan resep nya.
"Terimakasih dok, ini adalah kabar bahagia buat saya dan keluarga." ucap Aidan terharu.
Suster mendekat kan kursi roda ke pinggir brankar agar Wana bisa duduk di situ kembali.
"Bang, aku mau telp ibu dulu ya setidaknya biar ibu tau bahwa ibu dan Ayah akan jadi nenek dan kakek." ucap Wana dengan wajah yang penuh bahagia.
__ADS_1
" Iya sayang silahkan, nanti Abang juga mau kasih tau keluarga Abang." kata Aidan bersemangat..
'Apakah Ibu nya bang Aidan mau menerima ku? sedangkan acara pernikahan aja beliau tidak datang, bahkan Ayah bang Aidan saja tidak mau mengakui bang Aidan anak karena bang Aidan tak mau di jodohkan dengan anak relasi nya, yang lebih menyakitkan bang Aidan tak boleh memakai nama belakang atau pun bin Ayah nya, kasihan bang Aidan.' batin Wana