
"Aku hamil Bu, aku mau jadi ibu, Ayah dan ibu akan menjadi nenek dan kakek." jawab Wana bersemangat..
"A..apa.. benarkah Wana?, Ibu akan jadi nenek?"
Bu Anida tak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya sampai.. dia lupa akan kesedihan nya...
Serasa menerima bintang jatuh yang cahaya nya menderang, sampai-sampai Bu Anida menitikkan air mata bahagia nya. Dan langsung berlari ke dalam rumah sambil teriak memanggil suami dan anak-anak nya.
"Ayah.. Ayah..Wati, Warsi... ibu ada kabar baik cepat keluar!!" Bu Anida seperti orang yang lagi dapat lotre teriak-teriak..sampai pak Sastra pun kaget dan berlari menghampiri istri nya.
"Ada apa Bu..ada apa, kamu dapat rejeki apa?"
tanya pak Sastra sambil memperbaiki sarung nya yang hampir lepas gara-gara dia lari terburu-buru karena habis dari kamar mandi.
"Iya Ibu ini buat orang terkejut aja, emang ada apa sih, ganggu orang lagi fokus cari lowongan kerja aja, tau gak aku lagi stress mikirin nasib ku ini." tanya Wati ketus dan mulut di majukan ke depan.
"Kak Wati aja di suruh jaga warung Bu Dar gak mau emang mau cari kerja kan apa Kak orang cuma tamat SMA." Ucap Warsi ngeledek Wati.
Sudah..sudah jangan ribut mau dengar gak berita bahagianya?" tanya Bu Anida lagi.
__ADS_1
"Mauuuu" jawab mereka bertiga bersamaan..
Dan mereka pun saling pandang dan tertawa.
"Wana hamil ibu mau jadi nenek". ucap Bu Anida dengan lantang.. sampai-sampai mereka mendengar sampai terhangat, bahkan Wati menepuk pipi nya ber ulang kali.
'Ini benar ternyata , aku pikir hanya mimpi'
batin Wati,
" Alhamdulillah... akhir nya aku jadi kakek ya Bu, kapan kita ke kota melihat Wana?" pak Sastra sangat senang sekali.
"Aku akan jadi paman, rasa nya gak sabar ponakan ku lahir, Bu aku mau nabung dulu buat belikan hadiah keponakan ku nanti." Ucap Warsi bersemangat.
"Syukurlah kalau sudah hamil berarti kak Wana tidak mandul, cuma hati-hati aja jangan sampai ke guguran aja." kata Wati asal..
"Hust kamu ini , bukan nya doa yang baik buat kakak nya malah bicara yang tidak baik." Bu Anida mencubit lengan Wati, sampai Wati meringis kesakitan.
"Aduh...iihh ibu sakit tau tangan ku." rintihan Wati.
__ADS_1
"Tau rasa Lo, lagi pula mulut tu seperti cabe rawit aja, pedas banget." sindir Warsi pada Kakaknya.
Wati langsung menghentikan kaki dan berlalu masuk ke kamarnya.
'Ya..Tuhan kenapa selalu Kak Wana yang mendapatkan kebahagiaan, pasti sekarang mereka sedang bahagia, gara-gara kak Wana aku gak jd ke kota karena tidak ada tempat tinggal, aku mankin benci pada mu Kak.' gumam Wati sendiri.
*****
Di rumah Wana, Aidan begitu sabar merawat Wana yang masih lemah, tubuh nya masih demam dan masih bel mau makan.
"Ayo lah sayang biar dikit kamu harus makan, kasihan anak kita sayang." kata Aidan memohon sambil mengelus pipi Wana Yang mulus.
"Eegh... aku blm lapar bang, air ludah ku terasa pahit rasanya semua makanan gak enak.. hmmm ". ucap Wana lemah... sambil mengangkat tubuh nya menyamping.
" Ya..sudah Abang keluar sebentar buat carikan kamu yang segar-segar ya biar mulut mu gak hambar, kasihan istri Abang belum makan dari tadi."
'Gimna aku mau ke rumah Ayah ya siapa yang akan menjaga Wana ?' batin Aidan
.
__ADS_1