
Di halaman rumah yang asri duduk seorang wanita paruh baya sambil menganyam tikar yang terbuat dari daun pandan.
Warna tikar yang dihasilkan pun masih asli dari daun pandan yang telah dijemur di bawah terik matahari. Oleh karena itu, bahan baku yang digunakan hanya daun pandan berduri.
Ibu Anida sangat mahir membuat tikar pandan ini.
drett...drettt...
suara telepon berbunyi, cepat-cepat diangkat oleh Bu Anida.
"Hallo.. Assalamualaikum nak, kamu apa kabar? kalian berdua sehat kan? maaf ibu belum bisa silaturahim ke rumah baru mu nak." kata Bu Anida tulus pada putrinya.
"Gak papa bu, Wana dan bang Aidan sehat Bu, gimana di sana apakah semua baik-baik aja Bu, Ayah dan adik-adik sehat?" tanya Wana lembut pada ibu nya.
"Alhamdulillah sehat nak, Ayah mu juga sehat tapi..." Ibu terdiam tanpa melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Ada apa Bu? jangan buat Wana khawatir, katakan lah!" Wana mendesak Ibu nya.
"Tapi adik mu Wati habis dapat musibah yang tak di sangka-sangka..."Ibu kembali diam dengan raut wajah yang sangat sedih, tapi Wana tak dapat melihat ekpresi Ibu nya yang sedang sedih itu, di seka nya Air mata yang mulai mengalir di pipinya.
"Wati di jebak tapi lebih tepat nya di juga dia yang salah, karena ikut-ikutan acara perpisahan pada malam terakhir kau di sini nak sekitar 6 bulan lalu." kata Bu Anida dengan suara yang parau..
"Ibu menangis.. maafin wana Yan tak bisa memeluk ibu, tapi kenapa Bu apa yang terjadi pada Wati?" tanya Wana lagi penasaran.
"Wati sudah tak perawan lagi, di di kasih obat tidur pas ikut pesta dansa bersama teman-teman nya huu..hu.." Akhirnya tangis Bu Anida pun pecah..
"Siapa yang melakukan nya Bu? kenapa gak ada memberi ku tahu? apa Wati baik-baik aja?" Wana bertanya bertubi-tubi pada ibunya.
"Pada saat di jemput Ayah mu dan Warsi di gedung pesta mereka, Wati tak ada trus Ayah mu bertanya pada Adnan, dan ternyata kata mereka Wati sudah pulang di antar Ratan karena mengantuk tapi..." Bu Anida menghentikan kata-kata iya menarik nafas panjang..
" Tapi... ternyata Wati tidak di bawa pulang Ratan melainkan di bawa ke villanya yang ada di ujung kampung kita, kamu tau kan?" jelas Bu Anida.
__ADS_1
" Brengsek laki-laki itu, aku sudah curiga pada malam itu, tapi aku sudah terlanjur sakit hati karena gara-gara Wati aku bertengkar dengan bang Aidan." Ucap Wana yang sangat kesal jika mengingat malam itu.
" Ibu tau Wana, Wati juga yang salah dia mengundang hasrat lelaki yang melihatnya tapi walau bagaimanapun dia adalah anak ibu, ibu gak tega melihat nya menangis selama seminggu setelah kejadian itu, kami melaporkan Ratan ke polisi tapi apa daya dia menyimpan foto wana yang tanpa sehelai benang trus mengancam akan menyebarkan nya." Bu Anida semakin menangis..
huuu..huuu..
"Sabar Bu..sabar, sebenarnya aku ngasih ibu kabar bahagia tapi aku malah menerima kabar buruk seperti ini,nyesek banget hati ku walaupun Wati selalu membuat ku kesal tapi aku tetap sayang pada nya." sahut Wana yang begitu tegar.
"Katakan nak apa yang ingin kau katakan sayang?" Bu Anida langsung menghapus air mata nya suara nya juga sudah tak lagi parau.
"Aku hamil Bu, aku mau jadi ibu, Ayah dan ibu akan menjadi nenek dan kakek." jawab Wana bersemangat..
"A..apa.. benarkah Wana?, Ibu akan jadi nenek?"
Bu Anida tak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya sampai.. dia lupa akan kesedihan nya...
__ADS_1
Bersambung...