
Sebelum para tamu pulang masih ada acara lempar bunga oleh mempelai.
Kedua mempelai sudah siap siap turun sambil membawa bunga di tangan mempelai wanita, Wana dan Aidan sangat serasi.
"Siap - siap ya Aku mau lempar ni bunganya " kata Wana sambil memegang bunga berdua dengan suami nya.
"Satu..dua..tiga.." Aidan dan Wana bersamaan..
Benar saja ternyata bunga itu sudah di intai oleh Wati ia sampai rela menjegal kaki Rika sahabat Wana.
"Hore...hore Aku yang dapat" seru Wati sambil menyunggingkan bibir nya karena merasa menang
"Tapi Kak Wati curang harus nya Kak Rika yang dapat Aku lihat kok kaki Kakak menjegal kaki Kak Rika" bantah Warsi dengan mata melotot dan jari telunjuk di tuding kan ke Wati.
"Aahh.. yang penting Aku dapat." Kata Wati yang tak memperdulikan ucapan Warsi dan dia pun pergi meninggalkan pesta.
"Sudah..sudah gak apa-apa kok sapa saja yang dapat toh jodoh, rejeki, kematian itu Allah yang ngatur." ucap Aidan menenangkan .
***
__ADS_1
Setelah para tamu pada pulang semua dan acara pun telah usai, Pak Sastra menyuruh putri nya mengajak suami untuk istirahat di kamar nya.
" Wana ajak suami mu istirahat di kamar mu, toh nanti kamar itu juga jadi milik kalian berdua" Pak Sastra mengulum senyumnya dan berlalu dari ruang tamu.
Wana dan Aidan jadi kikuk dan bingung mau jawab, tanpa menjawab Ayah Wana mereka pun langsung ke kamar.
Pada saat masuk kamar Wana sangat canggung dan bingung harus ngapain.. dia melepas perhiasan yang ada di kepala nya.
Tiba- tiba Aidan mendekati Wana tepat berada di belakang Wana di depan cermin.
"Apa boleh Aku bantu, kita kan sudah halal sayang." ucap Aidan dengan senyum yang menggetarkan hati Wana.
"Maaf Bang apakah Abang tidak lelah?" Aku takut jadi merepotkan Abang." Jawab Wana sambil membalas senyum Aidan.
Tanpa Aba- aba Aidan langsung memeluk Wana dari belakang dan mencium tengkuk istri nya.
"ishh.. Abang, jangan dulu donk Aku kan belum bersih bang." Kata Wana mata nya melotot dan menyingkirkan tangan Aidan.
"Lho kenapa sayang kamu belum mandi juga aku tetap sayang sekarang kan kamu istri ku" Rengek Aidan sambil mengernyitkan keningnya yang bingung karena tak boleh mencumbu istri nya.
__ADS_1
"Bukan begitu Abang sayang tapi Aku belum bersih dari datang bulan alias menstruasi masih kurang satu hari lagi jadi Abang puasa dulu hari ini , Insyaallah besok Aku udah bersih" Jelas Wana sambil mengulum senyumnya...
Aidan langsung lemas dan murung.
" Jadi ini malam pertama yang tertunda gitu sayang." sahut Aidan dengan wajah memelas.
"Iya sayang ku, sabar ya kan masih ada hari besok." Wana pun berdiri sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Aidan.
'Kasihan bang Aidan tapi mau gimana lagi sudah kodrat wanita ya.. di syukuri aja.'
"Tapi...."
Aidan langsung mendarat kan ciuman pertama nya pada bibir Wana, yang sedang melamun itu, Wana pun bingung ingin membalas nya iya hanya tertegung melihat sikap suami nya.
"Tapi ciuman gak apa-apa kan sayang, Aku betul betul kangen sama kamu, kenapa setelah halal kamu kok bingung dan kaku sih, bukan kah dulu tiap Aku ingin memeluk mu kamu selalu bilang " jangan bang kita belum muhrim " lha Napa sekarang kok malah kaku gini." celetuk Aidan yang setengah marah langsung membuang kan wajah nya ke samping.
"Baik lah sayang kita mandi dulu yuk setelah itu Aku akan balas ciuman mu, tp hanya ciuman ya tidak lebih karena haram hukum nya bersenggama pada saat menstruasi."
Aidan pun mengangguk dan membantu melepaskan aksesoris yang ada di kepala Wana.
__ADS_1
Bersambung