
Di Rumah Wana sangat telaten mengurus Aidan yang sudah pulih dari kesedihan nya.
Wana menyuapi Aidan dengan penuh kasih sayang.
"Sayang maafin Abang ya, hari ini kita jadi pulang ke kota kan? lagi pula Abang sudah enak kan kok, dan Abang janji gak akan nyakitin kamu lagi." Kata Aidan bersungguh-sungguh.
"hmm...Iya Abang ,maafin aku juga karena terlalu keras pada mu, aku terlalu cemburu bang, aku takut kehilanganmu, karena aku sangat mencintaimu." jelas wana dengan mata berkaca-kaca.
Aidan menarik kedua tangan Wana dan menangkup kan ke kedua pipinya..
"Sayang coba lihat lah mata ini, begitu besar cinta ku pada mu...tapi.. begitu besar pula kadang godaan yang membuat ku rapuh, aku tak sekuat iman mu sayang, makanya aku minta Wati tidak tinggal di rumah kita." Aidan memohon pada Wana dengan jujur.
Wana hanya mengangguk..
****
Minggu pun berganti bulan dan sudah 5 bulan mereka menempati rumah baru yang di beli Aidan dengan hasil jerih payah nya selama 5 tahun.
__ADS_1
Wana begitu bahagia karena bisa memiliki Aidan sejak saat mereka pulang dari desa mereka begitu bahagia canda tawa mereka selalu memenuhi ruang di setiap sudut rumah mereka.
Pagi nya mereka berangkat kerja bersama seperti biasa dengan menggunakan sepeda motor Scoopy putih milik Aidan, yang sudah ada sebelum mereka menikah.
"Bang.. Alhamdulillah ya kita bisa lalui semua nya bahkan Wati juga gak jadi kesini dan juga tidak memberi kabar, terakhir aku ketemu dia itu malam pas mereka mau pergi itu di malam aku marah pada mu." Kata Wana memecah keheningan, dia melingkarkan tangan nya di pinggang suami nya yg sedang mengemudi motor nya dengan santai.
"Ya...karena kamu istri yang pemaaf sayang, mungkin jika pada saat itu kamu meninggalkan ku saat ini aku sudah tidak ada kali." Ucap Aidan yang begitu sangatlah menyesal dengan kejadian malam itu,sambil mengelus punggung tangan Wana.
"Hust..gak boleh ngomong gitu, kita harus lalui perjalanan pernikahan kita dengan saling percaya." lanjut Wana yang semakin erat memeluk suaminya.
Tak lama mereka pun sampai di kantor mereka bekerja.
Tiba-tiba ada seorang kurir datang yang mengantarkan makanan.
"Permisi Mba saya mencari atas nama Mb Rika?" tanya kurir tersebut.
huek...huek...
__ADS_1
Wana langsung muntah di depan kurir itu, jelas saja kurir itu langsung marah-marah dengan Wana.
"Mba ni apa-apa an sih, saya bertanya belum di jawab malah di muntahin." bentak kurir itu pada Wana dengan ekspresi wajah yang merah padam menahan marahnya..
"Maaf..maaf mas, emang itu paket nya isi apa sih kok bau amis banget sampe mual saya mas?!" tanya Wana yang masih memegangi perutnya, dan berpegangan pada tiang pinggir kantor.
"Alah..bilang aja Mba mau menghina saya, masa' iya harum nya bakso ini enak banget bahkan menggugah selera." jelas kurir itu sambil menyodorkan bungkusan hitam itu ke wajah Wana.
Tapi tiba-tiba Wana malah sempoyongan dan ambruk di depan pintu kantor, Aidan yang baru selesai parkir motor pun terkejut, dan berlari mendekati istrinya.
Sementara kurir yang mengantarkan bakso pesanan Rika pun kebingungan, masa' iya bakso ini mengandung racun, sampai-sampai membuat orang pingsan.
"Mas..mas kamu apa in istri saya hah?" Mata Aidan melotot karena geram.
"Gak mas, istri mas tiba-tiba pingsan setelah mencium aroma bakso." jawab kurir itu dengan tenang.
'Apa yang terjadi ya, padahal tadi pagi sudah sarapan di rumah, tangan nya dingin banget.., aku bawa ke rumah sakit aja deh'
__ADS_1
gumam Aidan dalam hati.