
Sejenak Wati terdiam matanya membulat seolah tak percaya kakak nya akan semarah ini pada nya dan yang paling dia sesalkan kenapa harus sekarang di usirnya bahkan belum sempat menghancurkan kebahagiaan kakak kandung nya sendiri yang dari dulu selalu bahagia dan mendapatkan kasih sayang dari semua orang.
"Apa? maksud Kakak apa, kakak mengusir ku? sangat-sangat tak ku sangka setelah kaya kakak begitu sombong, aku tidak akan keluar dari sini, aku akan menunggu ibu datang dulu," ucap Wati menegaskan seolah dialah yang berkuasa
"Siapa kau yang seolah menjadi nyonya rumah? puasin aja semau mu sehari ini setelah itu jangan salah kan aku jika setelah ini aku akan menyuruh satpam membuang semua barang mu." Bentak Wana dan langsung meninggal kan Wati.
Di perjalanan Wana tidak banyak bicara ia lebih banyak melamun dan melihat lurus kedepan.
Hati Aidan merasa tak nyaman melihat istrinya diam, tangan kiri Aidan meraih jemari Istrinya dan menempelkan ke pipi nya, dalam keadaan tetap menyetir dengan tenang.
"Sayang sabar ya! jangan terlalu emosi kasihan anak kita, percaya pada ku aku akan menjaga diri demi anak kita jadi jangan terlalu di pikirkan," ucap Aidan sambil mengelus tangan Wana.
"Abang tau ini sangat berat untuk mu tapi percayalah suami mu ini sangat mencintai dan menyayangi kalian berdua ok." sambung Aidan lagi, sambil menciumi punggung tangan istrinya.
Wana menatap sendu suami nya yang sangat ia cintai bahkan ia tak menyangka harus ada drama seperti ini dalam rumah tangga nya.
"Bang,aku tau Abang setia dan sangat mencintai ku dan tak mungkin Abang yg akan menggoda nya tapi..." kata Wana Dengan menggantung kata.
"Tapi apa sayang? sudah lah jangan pernah pikirkan itu lagi ya, sekarang yang terpenting adalah buah hati kita hari ini kita akan tau anak kita ini perempuan atau laki-laki, yg penting sehat," ucap Aidan yang masih menggenggam tangan istrinya, seolah menyalurkan hawa positif buat nya.
"Tapi aku takut Bang, aku takut Abang yang akan tergoda dan aku takut Abang melakukan kesalahan-kesalahan itu dan membuat ku takut tak mampu memaafkan mu bang, walaupun kesalahan itu tidak sepenuhnya kesalahan mu tapi semua itu tetap salah kan?" tanya Wana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Deg..
Hati Aidan serasa luruh ke bumi mendengar penuturan istrinya dan pasti itu adalah sebuah peringatan keras dari nya.
"Ya Allah sayang, jangan pernah bilang begitu ya jangan sayang ku, aku lebih baik mati dari pada tidak mendapatkan maaf dari mu, berjanji lah apa pun yang terjadi kelak jangan pernah meninggalkan ku karena dirimu adalah kekuatan ku, pelita ku," ucap Aidan lagi dengan suara yang ditekan kan.
Sampai di parkiran Rumah sakit Aidan dengan sigap jadi suami siaga ia langsung menurunkan kursi roda dan membukakan pintu mobil Wana, baginya istrinya adalah hidupnya.
Sementara di kediaman Bu Anida sedang terjadi perdebatan antara Bu Anida dan Pak Sastra suami nya yang tak lain Ayah dan Ibu Wana.
" Kenapa Ibu gak larang sih Wati berangkat ke Jakarta karena Ayah tak mau jika dia menganggu rumah tangga Wana Bu, saat ini Wana sedang hamil besar Bu dari awal Ayah tau kalau anak itu belum berubah dari dulu ibu ingat kan seminggu yang lalu dia keluar ke club' bersama teman-temannya?" tanya Pak Sastra.
" Kemarin ibu sudah melarang nya dan bilang berangkat sama-sama aja tapi dia nekat dan Ibu juga gak tau apa penyebabnya," ucap Bu Nida dengan lantang menjawab pertanyaan suami nya yang seolah memojokkan nya.
"Astagfirullah...Ayah kenapa bicara seperti itu, pamali yah biar buruk seperti apapun sifat Wati dia tetap anak kita, aku yang mengandung dan melahirkan nya yah."bentak Bu Nida pada suami nya. Berlalu pergi meninggalkan pak Sastra yang masih mematung dan meraup wajah nya karena merasa bersalah atas ucapan nya pada istrinya.
" Astagfirullah..aku salah bicara" Pak Sastra bergumam sendiri.
Di kediaman Wana, Wati masih berjalan kesana kemari sambil berkaca pinggang sesekali kedua tangannya menarik-narik rambutnya.
"Sialan kenapa aku harus lepas kontrol sih, padahal aku tadi hanya ingin menggoda bang Aidan aja tapi dasar kak Wana baperan terlalu cemburu, aku akan usaha bagaimana pun cara nya aku akan menguasai suami mu kak dari dulu semua yang ku inginkan selalu ku dapat walaupun dengan cara yang kotor." monolog Wati sambil berjalan menuju kamar kakak nya.
__ADS_1
Belum sempat iya membuka kenop pintu suara ketukan pintu terdengar dari depan.
"Permisi...apa ada orang di dalam, permisi!" panggilan orang dari luar rumah.
Wati langsung bergegas turun dan membuka pintu, dan dengan memasang muka judes nya dia menggerutu.
"Siapa sih? ganggu misi ku aja," ucap nya dalam hati.
Tampak dua orang security yang datang bersama beberapa warga setempat.
"Ada apa ini kenapa ribut-ribut di depan rumah orang , mau demo itu di jalan aja sana atau di kantor apakah kenapa harus kesini atau mau minta sumbangan?" tanya Wati dengan umpatan yang tak sopan, sampai membuat orang-orang geleng kepala.
" Heh pelakor kamu itu adik nya Mbak Wana kan yang datang dari kampung? baru datang aja udah buat tuan rumah gak senang dan terganggu, sekarang juga keluar dari sini karena kami sudah di arahkan Mas Aidan dan Mbak Wana tadi." Bentak seorang ibu-ibu yang bertubuh besar.
setelah itu salah satu security maju dan berkata " Maaf MB silahkan tinggalkan komplek perumahan ini kalau bisa sebelum Bu Wana datang ya itu pesan dari Pak Aidan," Ucap security yang bernama pak Firman.
Wati langsung mundur tanpa menjawab dan langsung menutup pintu dengan kencang, hingga membuat orang-orang di luar terlonjak.
"Sial..sial tunggu pembalasanku Wana aku akan merebut semua dari ku dan aku yakin Bang Aidan akan bertekuk lutut di ************ ku..hahaha..," monolog Wati dengan menyungging kan senyum liciknya.
"Aku harus melakukan sesuatu biar bisa bertahan di rumah ini sampai ibu datang setidaknya aku bisa goda bang Aidan tipis-tipis, apa ya yang harus aku lakukan sekarang?" lagi-lagi Wati bicara sendiri dan tak lama wajah nya berubah menjadi berbinar seolah mendapatkan ide cemerlang.
__ADS_1
"Yah..aku tau apa yang akan ku lakukan, maaf kan aku kak Wana,aku sudah terlanjur jatuh cinta pada suami mu," ucap Wati dalam hati.