
Tampak di luar halaman rumah banyak sekali tamu dan sedang lagi berbalas pantun karena itu sudah jadi tradisi di Desa itu buat sambutan untuk mempelai pria.
Wati sangat penasaran sekali dengan calon suami kakak nya yang nanti akan menjadi Abang ipar nya.
"Yang mana sih, Aku jadi penasaran yang kata Warsi sangat tampan dan baik hati, apa iya Bang Aidan itu baik?" Gumam Wati dalam hati
Setelah sudah mendekat di keramaian dalam acara penyambutan nya Wati pun melangkah mendekati tandu, di sana ada seorang pria yang sangat tampan, mengenakan baju jas putih dengan aksesoris sederhana menjadi perpaduan dengan celana panjang putih nya. sepadan dengan kulit nya yang putih, kumis nya yang tipis hidung nya yang mancung serta alis mata yang tebal menambah tampan wajah lelaki itu. Dia adalah Aidan Perkasa calon suami dari Wana Dita Ayu wanita yang sangat di cintai nya.
"Akhirnya Aku bisa menikahi gadis yang dulu sulit aku kejar dan hari ini akan menjadi istri ku." Gumam Aidan pada diri nya sendiri.
Setelah acara adat istiadat sudah selesai akhir nya Aidan di persilahkan turun dari tandu nya...
Pada saat Aidan turun mata Wati langsung tertuju pada nya dia melihat Aidan yang begitu tampan dan memukau...
"Waw... ternyata calon suami kak Wana tampan sekali, wajar aja Kak Wana langsung mau pas di lamar, Aku juga mau kalau di suruh nikah sama cowok setampan Bang Aidan.."
__ADS_1
"waduh..otak ku kok eror sih kenapa rasa kagum ini harus ada duh.. ini salah, gak boleh ini terjadi maafin aku Kak Wana" Wati berkata dalam hati sambil memandang calon suami kakak nya.
Tiba-tiba Warsidi datang datang mengejutkan Wati yang lagi fokus melamun.
"Woi.. ngapain Kakak lihat bang Aidan kayak mau di lahap aja?" Warsidi menepuk pundak Wati, sampai sampai Wati melompat dan hampir jatuh di depan Aidan.
"Maaf bang gak sengaja tadi Aku kaget aja ada yang menepuk pundak ku." kata Wati sambil tersipu sipu malu.
"Iya tidak apa-apa kok, kamu baik baik aja kah? apa ada yang luka atau sakit?"
Aidan berperilaku seperlu nya aja, sambil membantu Wati berdiri.
"Aku tidak apa-apa bang." Jawab Wati sambil memegang erat tangan Aidan seolah memancing Aidan untuk memapah nya.
Tapi...
__ADS_1
"Kak Wati maaf ya, sini biar aku yang antar Kakak ke kamar, biar bang Aidan lanjut ke ruang tamu." Warsi memapah Kakak nya yang sedang pura- pura sakit.
'Iih, Warsi ni kenapa sih ganggu orang lagi seneng' Gumam Wati yang merengut saat tangan nya di tarik adik nya.
"Sudah jangan tarik tarik tangan Kakak, ayo kita ke kamar kak Wana, tadi Ibu suruh Aku cari kamu."
Mereka pun beranjak dari halaman dan menuju kamar Wana yang sudah siap dari tadi menunggu mereka.
"Kemana sih Wati dan Warsi kok lama banget?" Wana menggerutu sendiri sambil memperbaiki kain panjang nya.
Tak lama Wati dan Warsi pun datang dan langsung membantu Kakak nya buat siap-siap jalan ke depan buat akad nikah.
"Ayok kak, jalan pelan - pelan aja ya." Kata Warsi sambil menggandeng tangan Kakak nya. Sementara Wati juga sudah siap mengandeng tangan Kakak nya yg sebelah kanan sambil membawakan bunga.
'Moga aja bunga ini nanti aku yang dapat'
__ADS_1
gumam Wati dalam hati.
Bersambung..