Dikhianati Tapi Dicintai

Dikhianati Tapi Dicintai
Part.23. " Rindu yang Sama"


__ADS_3

Hari berganti bulan pun berganti, tiba saat nya Wana harus kontrol ke dokter, Wana dan Aidan kontrol ke dokter yang waktu itu membantu Wana pada saat kecelakaan namanya Dokter Indah, orang nya baik dan tutur bahasanya lembut.


" Bang hari ini kita kontrol terakhir ya setelah itu tinggal tunggu waktu aja ya bang?" tanya Wana pada Aidan yang sedang menyiapkan sarapan buat istrinya.


"Iya sayang makanya Abang ambil cuti buat kamu hari ini trus nanti malam boleh donk Ayah nengokin kamu ya nak! Ayah pelan-pelan kok hehe." jawab Aidan sambil mengerlingkan mata nakal nya sambil terkekeh.


"Iih..Abang nakal deh udah mau jadi ayah aja masih nakal gini, iya iya nanti malam tak buka in pintu buat ayah!" sahut Wana sambil memicing kan mata nya.


Setelah bertemu dokter mereka pun langsung pulang tanpa sengaja pas pulang Aidan bertabrakan dengan seorang dokter yang sedang berbicara seorang suster yang membawa buku laporan pasien


Bruukkk..


"Uhgh... maaf maaf Dok saya tak sengaja," ucap Aidan dan langsung membantu Dokter itu berdiri.


"Hisyam... kamu Hisyam kan yang dulu sekolah di SMA 01 Bhakti?" Tiba-tiba Wana bertanya sambil mengernyitkan kan kening nya.


Dokter muda itu langsung mendekati kursi roda Wana mata nya melihat Wana dan sesekali jari telunjuk nya ia taruh di bibir nya dan kening nya seperti mengingat-ingat sesuatu.


"Wana anak kelas 12 IPA 2 yg cupu dan tertutup gak mau gabung dengan kita-kita? trus pas di tembak sama Arya malah kabur ke toilet betul gak?" jawab Dokter muda itu yang nama nya Hisyam teman SMA Wana.


"Kamu masih ingat aja Syam, oh ya kenalin ini suami ku Aidan dia kerja di pabrik tekstil gak jauh dari Rumah Sakit ini." Wana mengalihkan perhatian nya dan langsung mengenalkan suami nya.


Aidan hanya mengangguk kepalanya dan mengulurkan tangan nya.


"Salam kenal saya Aidan," ucap Aidan.


"Oh..ok saya Hisyam senang bertemu kalian" sahut Hisyam.


" Kamu tugas di sini, dokter apa Syam? sudah punya anak berapa?" tanya Wana dengan senyum khas nya.


Aidan hanya diam manyun dengan raut wajah yang datar ia hanya mencolek pundak Wana.


"Sebentar bang, mumpung ketemu teman lama," ucap Wana sedikit berbisik.

__ADS_1


"Aku dokter penyakit dalam Wan, dan belum punya anak, istri aja belum masih belum ada jodoh." jawab Dokter Hisyam tersenyum tipis.


"Oh... semangat Syam, kalau sudah waktu nya tiba pasti dapat lah," ujar Wana lagi.


"Ayo sayang kita pulang! kamu harus istirahat! maaf ya Dokter kami duluan soal nya istri saya sedang hamil tua dan harus istirahat kapan-kapan main kerumah aja," ucap Aidan sopan.


"Oh.. baik baik mas maaf ya tadi itu jadi terbawa suasana karena lama ketemu hehe..." sahut Dokter Hisyam sambil terkekeh.


Setelah menebus obat dan memasukkan kursi roda Wana, Aidan langsung masuk ke mobil. Di dalam mobil tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Aidan dia hanya fokus menyetir dan pada waktu Wana kepanasan ia hanya mendekat kan tisu, dan air mineral.


" Bang , kok diem Abang marah ya? aku ada


salah ya?" tanya Wana sambil melirik ke arah suami nya yang tiba-tiba seperti kanebo kering.


"Gak kok biasa aja, mang kamu ada salah apa?jawab Aidan yang malah balik bertanya pada Wana yang bingung lihat tingkah suaminya.


"Kok di tanya balik tanya sih bang?" tanya Wana dengan pasang muka cemberut nya dan pura-pura merajuk.


Aidan paling gak bisa kalau lihat Wana merajuk akhirnya nya ia mengalah juga. Di genggam nya jemari Wana dengan erat dan di cium nya seraya berkata.


"Abang cemburu karena aku bertemu sahabat lama ku?" tanya Wana penuh selidik.


"Bukan begitu sayang, Abang hanya takut kehilanganmu! karena kamu adalah separuh jiwa ku." sahut Aidan dengan alis yang di naik-turun kan.


"Idih ngegombal lagi deh Abang basi ah.." ledek Wana sambil mengibaskan tangan Aidan.


Setelah sampai rumah Aidan menggendong tubuh Wana ke dalam dan wana terkejut.


"Aww.. Abang kok di gendong sih? aku bisa jalan sendiri Bang! turun gak bang iih..!?" Wana meronta tapi dekapan Aidan tak mampu di lawan Wana yang akhirnya masuk kedalam dekapan Aidan.


"Seperti nya Ayah udah gak Sabar hendak berkunjung sebentar nak boleh dong sayang?" Tanya Aidan sambil menaikkan alis mata nya.


"Tapi bang..." belum sempat Wana menjawab Aidan sudah ******* bibir Wana yang tipis dan seksi, walaupun hamil tubuh Wana tak berubah tetap langsing hanya perut nya saja yang besar.

__ADS_1


"Euummp... Jangan menolak dosa tau nanti juga Abang puasa nya lama kalau sudah habis lahiran," ucap Aidan dan langsung menyambung ciuman panas nya dan merebahkan tubuh Wana ke tempat tidur tanpa melepaskan pangutan nya hingga ciuman itu semakin dalam dan saling berbalas


.


"Ouh... Bang..pelan-pelan aja ya!"Wana melenguh merasakan rindu yang sama.


" Iya sayang..." jawab Aidan terus bermain di rongga mulut Wana dan lidahnya menari-nari terus menghisap lidah Wana...


"Bang...Ahh." Wana begitu menikmati nya hingga ia pun tak sadar Aidan sudah mengangkat gamis nya ke atas dan nampak lah kedua bukit kembar Wana yang berisi dan bulat, pelan-pelan Aidan meremas nya dan mengisapnya perlahan dan tiba-tiba iya merasakan sesuatu...


"Euummp...enak rasa air susu nya sayang gak apa-apa kan Ayah rasa dikit ." goda Aidan pada Wana yang sudah melayang merasakan kenikmatan.


Aidan pun meneruskan aksinya nya dan mencicipi tiap inci tubuh istrinya, dan memberi tanda kepemilikan di tiap titik yang ia sukai.


Dan pergulatan panas itu berlangsung hingga puncak nya dan setelah itu mereka pun tertidur pulas karena kelelahan dan bermandi keringat.


Hingga tak sadar jam menunjukkan pukul 19.00 malam karena terlalu lelah.


Aidan melihat ke arah jendela keadaan rumah sudah gelap ia pun bangun dan menghidupkan lampu dan setelah itu mandi.


"Ya Allah aku terlewat sholat Maghrib, Wana juga tadi itu betul-betul melelahkan, setelah mandi nanti aku bangun kan Wana sekarang biar dulu dia istirahat " Aidan bermonolog.


"Sayang...sayang bangun sudah malam ini ." panggil Aidan lembut sambil mengecup kening istrinya dan membelai rambut wanita yang ia sayangi ini.


"Eegh..iya Bang, tapi apa tadi Abang bilang ini sudah malam?? jadi kita tidur sampe jam segini, MasyAllah tinggal sholat donk kita Astaghfirullah.." Wana terkejut dan langsung duduk dan menepuk jidatnya.


"Hmmh.." Aidan saya mengangguk dan tersenyum melihat tingkah laku istrinya.


Belum sempat Wana beranjak dari tempat tidur nya tiba-tiba ada telpon masuk.


Aidan mengambil kan hp Wana dan mereka melihat nomor yang menelpon.


"Ibu??" mereka berdua terkejut dan saling pandang..

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2