Dikhianati Tapi Dicintai

Dikhianati Tapi Dicintai
Episode 24. Antara Suami dan Ibu ku


__ADS_3

Wana dan Aidan masih terpaku mendengar suara dering telepon yang ternyata Ibu nya Wana, mereka tau pasti ibu akan menanyakan kapan Wana lahiran agak Wati bisa ke kota membantu Wana. Tapi Aidan tetap tidak mau karena ia lelaki yang lemah iman dan gampang tergoda hingga ia lebih baik menghindar.


Akhirnya Wana mengangkat telpon dari ibunya, Wana menarik nafas panjang dan dengan tenang ia menjawab nya.


"Hallo...Ibu Assalamualaikum, Ibu apa kabar?" salam Wana dan menanyakan kabar Ibu nya.


"Wa'alaikumsalam nak, Ibu kabar baik, kamu di sana bagaimana? suami dan calon cucu ibu sehat kan?" jawab Bu Anida yang sangat merindukan anak nya.


"Alhamdulillah baik Bu, di sana bagaimana? Ayah sehat kan Bu? Wana rindu Ayah Bu, kapan Ibu dan Ayah kesini?, Wati jadi datang kapan?" Wana memberondong pertanyaan buat Ibu nya.


Bu Anida sampai menutup mulut mendengar pertanyaan Wana dan tersenyum sayang Wana tak melihat itu.


"Huuuff" Bu Anida menarik nafas dalam dan setelah itu berbicara.


"Sebentar-sebentar ya nak, Ibu jawab satu-satu, Alhamdulillah Ayah sehat dan dia juga merindukan mu, adik-adik mu juga sehat, sedang kan untuk Ayah dan Ibu pasti kesana kalau sudah tiba waktu nya, sedangkan Wati kemungkinan bulan depan berangkat dari sini, nah sudah Ibu jawab ya!" jawab Bu Anida yang membuat Wana tersenyum di balik telpon.


"Oh..baik lah Bu, Insyaallah HPL ku juga bulan depan sekitar tgl 22 gitu tapi belum tau sih Bu nanti kita lihat aja ya." Sahut Wana lagi.


"Baik lah nak nanti ibu kabari lagi kalau adik mu berangkat dari sini, jaga kesehatan mu ya Wan jangan terlalu capek, Assalamualaikum sudah di dulu ya." Bu Anida menasehati anak nya dan menutup telpon nya.


"Iya Bu terimakasih Wa'alaikumsalam."Jawab Wana dan menutup sambungan telpon nya juga.


Aidan menatap istri nya dengan wajah yang begitu sedih dan kesal.


"Abang marah karena Wati mau kesini kan?" tanya Wana pada suami nya yang dari tadi tidak mau bicara, karena Wana sangat tau apa yang di khawatirkan nya.

__ADS_1


Aidan hanya mengangguk dan menggenggam jemari Wana.


"Abang jangan takut ya nanti aku suruh Tasya untuk tinggal bersama kita juga kalau pas dia datang ok, sudah lah jangan terlalu di pikirkan." Bujuk Wana lagi agar suami nya tenang.


Aidan langsung memeluk Wana dan mencium kening nya dan mengelus perut istrinya yang sudah besar itu.


"Aku takut khilaf sayang, karena aku laki-laki normal yang mudah tergoda makanya aku tidak pernah mau kalau kamu cari pembantu," ucap Aidan lirih.


"Kamu tau pas di kampung mu itu dia aja sering menggoda ku syukur pada waktu itu aku masih bisa berpikir jernih hingga bisa menahan diri kalau tidak bagaimana?" sambung Aidan dengan mata yang meyakinkan agar Wana bisa memikirkan ulang keputusan nya.


Wana terdiam hati nya sebenarnya ragu tapi dia juga bingung mau menolak kemauan Ibu nya, Wana merasa sekarang dia berada diantara suami dan Ibu nya.


"Aku bingung mas di sisi lain aku juga takut kalau kamu khilaf dan selingkuh tapi aku juga gak bisa menolak keinginan Ibu" Wana berkata lirih pada suaminya sambil mengelus punggung Aidan.


Aidan berbalik menghadap istri nya sambil mengelus perut istri nya dengan lembut.


Wana langsung masuk ke dalam pelukan suami nya dan menyembunyikan kepalanya pada ceruk leher suami nya, hati nya saat ini sedang tidak baik-baik aja. Tapi dia yakin semua pasti terlewati.


Hari berlalu, minggu berlalu dan tiba lah waktu nya pemeriksaan terakhir buat Wana. Pagi itu Aidan udah siap sebagai suami siaga Aidan bangun lebih awal dan menyiapkan semua perlengkapan istrinya yang masih terlelap karena setelah sholat shubuh istrinya di gempur nya menuju nirwana.


"Duh.. istriku jam segini belum bangun ya, anak nya papa ayo bangunin mama ya sayang." kelakar Aidan sambil menyelipkan rambut Wana yang menutupi wajah nya yang cantik dan mulus.


Wana menggeliatkan tubuhnya sambil mengucek matanya dengan lenguhan gaya orang baru bangun tidur.


"Ngghh.. jam berapa sayang? kok badan ku capek semua ya?." keluh Wana sambil tangan nya bergelayut manja di tangan suami nya.

__ADS_1


Aidan langsung menarik tubuh Wana yang masih dalam selimut dan tanpa sehelai benang. Aidan mengikuti anjuran dokter untuk sering-sering berhubungan pada saat istrinya mendekati lahiran untuk merangsang kontraksi pada jalan lahir.


"Sudah jam 8 sayang, ayo mandi jam 10 kita ada janji sama dokter kandungan, hari ini adalah hari terakhir pemeriksaan setelah itu tinggal menunggu masa ku lahiran, kamu yg semangat ya! aku selalu ada di samping mu" ucap Aidan sambil mencium pucuk kepala istri nya.


Tak la bunyi bel berdentang.. mengejutkan mereka berdua. Aidan langsung melepaskan pelukan nya dan Warna pun langsung ke kamar mandi, ternyata semua sudah di siapkan suaminya.


"Aku sangat bersyukur memiliki mu Mas, semoga kita tetap selalu bersama sampai akhir hayat." monolog Wana sambil memainkan air hangat yg sudah di siapkan suaminya.


Aidan langsung jalan keluar pintu depan dan ingin membuka kan pintunya tapi tiba-tiba saja hp nya berdering.


"Hallo.. Ma Assalamualaikum, iya Ma setelah ini kami langsung ke rumah sakit." jawab Aidan


"Kenapa sampai jam segini belum siap-siap , Wana sudah makan belum jangan buat capek menantu ku" tanya mama Aidan ketus.


"Iya..iya Mama ku sayang sebentar lagi kami berangkat, Mama tunggu aja di rumah sakit."


jawab Aidan dan langsung mematikan hp nya Aidan pun buru-buru langsung menuju ke depan pintu karena suara Bel berbunyi lagi sampai berkali-kali.


"sebentar, sebentar gak sabar banget sih, emang nya sapa sih pagi-pagi udah bertamu, mana mau keluar." Aidan bermonolog dan tergesa-gesa membuka pintu.


"Siapa sih..?" Mulut Aidan menganga matanya melotot seperti melihat hantu dan berteriak..


"Kamuuu...!"


Ayo kira-kira sapa yang datang ya sampai Aidan terkejut hehe kita lihat besok kelanjutannya nya Raiders ku sayang.

__ADS_1


Maafkan aku yg lama tidak Update karena banyak sekali masalah yg harus ku selesaikan.


__ADS_2