Dimensi Memory

Dimensi Memory
TEKA-TEKI TERLAHIR UNTUK SIAPA?


__ADS_3

- Aku yang merasakan kehadiranmu tidak lebih hanya sebatas kata ada namun tiada -


Lo akan tau bagaima diri lo. Yang terkadang lo sendiri nggak ngerti dengan konsep pemikiran yang lo punya. Ya, gue di sini bicara soal cinta, yang datang tanpa kita tau kapan, di mana, dan untuk siapa.


Kadang kita pernah berpikir? Untuk apa dan siapa kita hidup dan terlahir?


Jika memang bukan untuk saling mengikat rasa. Walau kadang gue tau, sebuah pertemuan pasti akan ada perpisahan. Bertemu untuk bersama, dan pada akhirnya akan berpisah juga.


Hidup itu kadang gitu-gitu aja. Hambar. Klise. Bahagianya cuma sebentar, sedihnya lama. Walau pada hakikatnya gue tau nggak ada tuh manusia yang paling tersedih dan paling terbahagia di dunia ini. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.


- Lendiary


***


BUCIN!


TOLONG TURUNKAN HARGAI CABE! NAIKAN HARGA CABE-CABEAN! AGAR IDUNG BELANG SUSAH MAIN KUDA-KUDAAN!


JOMBLO, MAKAN HATI!


FISIKA MENGAJARKAN, KALAU GAK MAU BANYAK TEKANAN, JANGAN KEBANYAKAN GAYA!


DIGEBOY DISAYANG, GAK ADA DUIT DIBUANG. JUAL CANG...CUT... BGSD! TAK APA YANG PENTING KOPI BIKIN HEPI.


HIDUPKU HANYA SEPUTAR ABU-ABU ROK SMA, SEMAKIN MINI MAKA AKU SEMAKIN ADUUHAYY MENIKMATI.


Ngakak. Hari pertama gue masuk sekolah, keadaan semakin gak karuan. Tembok toilet sekolah menjadi dinding curahan hati dan tempatnya mengeluarkan unek-unek setelah dinding facebook. Gila aja, udah kayak koran aja tuh tembok toilet sekolah, bahkan ada gambar-gambar yang menurut gue nggak pantes tergambar di sana, bentuk jenis kelamin cowok, gila aja. Emang kadang, tangan-tangan orang gabut, nggak pernah bisa dikendalikan. Ini bukan momok yang buruk sih buat gue yang baru menginjakkan kaki gue ke sekolah lagi, setelah sebulan gue diistirahatin ama sekolah. Weit, gue bukan di-DO dari sekolah. Tapi, karena gue mengalami kecelakaan, dan gue sempat koma selama 2 minggu. Gue nggak tau bagaimana pastinya, ada sebagian memory gue yang ilang. Tapi, kata dokter, gak semuanya memory otak gue ilang sepenuhnya. Gue hanya lupa bagaimana terakhir kalinya gue beraktivitas, dan tentunya gue nggak tau bagaimana kronologisnya kenapa gue bisa sampai kecelakaan. Dan dokter juga nyebutin kalau gue terkena amnesia, tapi gue lupa jenis amnesia apa. Intinya, amnesia yang nggak begitu berat.


Entahlah.

__ADS_1


Tapi, kecelakaan itu menewaskan kedua orangtua gue. Gue kehilangan mereka. Tapi, gue sedikit memaksa otak gue untuk mengingat, memory gue sedikit memutarkan kejadian kecelakaan itu. Yang pada dasarnya, dan patut gue akuin adalah gue bertindak bodoh, nyelamatin seseorang yang sama sekali nggak pernah peduli sama gue. Gue berusaha mengingat hal itu, dan gue tau semua hal itu pun dengan tanpa sengaja gue ngedenger salah satu saksi mata yang menjelaskan bagaimana kronologi pada dokter dan polisi serta orang-orang pesuruh bokap gue.


Dari situ, gue berusaha untuk mengingat.


Well, ngaku atau nggak, gue pernah bertindak sangat bodoh dalam hidup gue. Dan taruhannya adalah nyawa kedua orangtua gue. Yang pada akhirnya gue harus berlapang dada kehilangan semua yang gue miliki, hanya karena ego yang gue pelihara. Bacot! Tapi gue nggak bisa nyalahin keadaan dan waktu. Semua itu sudah berjalan dengan sendirinya. Hingga gue pun tersadar.


"Vandra! Lo masih hidup ternyata. Tuhan masih baik sama lo," ucapnya sedikit meledek. Gue menengok datar ke arahnya.


"Lo ngedoain gue mati, ya?"


Dia nyengir kuda. "Santai aja, kali. Jangan kayak gas."


"Bacot."


Dia tersenyum tipis, "Gue seneng."


"Kenapa?"


"Sialan lo, Tra!"


"Lo banyak berubah ternyata."


"Apanya?"


"Sikap lo."


"Gue masih yang dulu. Nggak ada perubahan. Dan gue nggak suka kalau ada orang yang bilang kalau gue ini berubah."


"Ceileh, santai bos. Bahasa lo udah kayak seorang politikus, Van."

__ADS_1


"Abisnya lo rese!"


Dia malah cengengesan. Dia adalah Petra Pribadi. Gue seneng manggil dia dengan sebutan nama Tra. Karena kalau gue panggil Pet, dia nggak terima, karena jatohnya jelek—katanya, dia ngerasa kayak jadi **** ngepet kalau dipanggil Pet. Dengan begitu gue pun panggil dia dengan sebutan Tra, kadang kalau kesel gue manggil dia dengan nama Tri. Dia sobat gue, yang paling baik. Sebenarnya, bukan sobat yang semacem gue tau tabiat dia dan dia tau tabiat gue. Nggak.  Nggak kayak begitu. Gue ngerasa dia care sama gue, dan dia menjadi sosok yang menyenangkan buat gue.


Dan, ya! Gue tau, Petra nggak seterkenal Biru di sekolah. Petra juga nggak kayak cowok yang wah dan punya banyak fans kayak si Biru. Petra lebih ke sosok nyaris sama kayak gue. Tampil apa adanya dan nggak terlalu ribet.


Sampai detik ini, kadang mikir, cewek kaku kayak gue, cewek yang kalau lo belum kenal ama gue lo pasti bilang kalau gue ini pendiem, sama sekali jarang ngomong, dan sok cuek. Iya emang. Maka dari itu juga gue mikir lagi, jika dibandingkan dengan Biru, gue nggak ada apa-apanya, dia punya kehidupan yang bertolakbelakang sama gue. Dia itu fashionable, most wanted, cool, manly, dan playboy. Gue tau segala macem tentang dia, meski kata dokter gue ini amnesia ringan, tapi gue tau siapa si Biru. Gue cuma lupa terakhir kali gue beraktivitas sebelum kecelakaan itu terjadi. So, jadi sampai di sini mungkin, gue akan terus mencari jawabannya.


Biru terkenal oleh seluruh warga sekolah ini. Sementara gue? Gue tersembunyi di balik parasit yang kecil-kecil. Orang-orang nggak tau siapa gue—kecuali temen sekelas gue ya, karena gue nggak seterkenal Biru. Hanya saja, ada dari segelintir orang-orang yang di luar kelas gue, yang kenal ama gue, itu pun yang mereka tau adalah gue seorang secret admirer dari seorang Biru Aksaraditya.


Konyol.


Setelah itu gue semakin paham. Siapa diri gue.


"Vandra, lo tau?" tanya Petra saat kita berjalan menuju kelas. Kelas gue sama Petra searah. Tapi kita beda kelas. Dia anak IPS, dan gue anak IPA. Gue nggak bisa jelasin dari mana awal mulanya kita bisa sampai berteman kayak gini.


"Apa, Tra?"


"Sa Tra kan berpindah karena su sayang."


"Anj. Lo malah nyanyi."


"Gue seneng lo panggil gue Tra."


"Oh jadi lo seneng gue panggil Tri?" ledek gue. Yang tadinya dia cengengesan, langsung berubah gak terima.


"Kok Tri, sih, Van?"


"Iya, Tri. Yaudah ya, gue cabut duluan, gue baru inget kalau hari ini ada pelajaran Trigonometri. Gue duluan ya, Tri!" gue langsung berlari kecil ke kelas gue, gue rasa dia sedikit gak terima gue ngeledek namanya. Tapi, gue berterima-kasih sama Tuhan. Gue masih diberi umur panjang, setelah kejadian konyol itu.

__ADS_1


"Pulang sekolah gua jemput ya, Van!"


Gue denger Petra berteriak kayak gitu. Tapi gue pura-pura nggak denger. Padahal aslinya, gue pengen bilang IYA. Teknisnya, tanpa gue jawab pun, pulang sekolah nanti dia pasti udah nunggu duluan di depam gerbang sekolah.


__ADS_2