
"Gimana keadaan Fatir?" tanya Jin dengan sigap.
"Dia baik-baik aja. Lukanya nggak cukup parah. Besok juga udah bisa dipulangin," ucap Biru.
"Biar nanti gue yang anterin Fatir pulang. Untuk malam ini dia diharuskan dirawat inap, kan?" gue langsung membuka suara.
"Biar sama gue aja, Van. Nanti biar gue yang anter lo besok buat anter si Fatir balik. Logikanya, kita satu sekolah, satu kelas pula, jadi kenapa nggak? Karena kan gue masih harus bertanggungjawab juga, kan?" Biru berujar santai.
"Gue dukung usaha pertama lo. Selebihnya, lo nggak boleh ilangin kesempatan buat jadiin Lovandra pacar," Agam berbisik pelan di telinga Biru. Gue mendengar samar, dan gue berusaha untuk; sepertinya gue salah dengar. Dan mustahil, jika Biru akan menjadikan gue sebagai pacarnya. Cowok seterkenal Biru, nggak mungkin bisa suka sama gue. Soalnya, dia bisa aja milih cewek paling cantik di sekolah, dan itu mustahil gue.
"Yaudah kalau gitu. Gue mau pulang," ucap gue sembari melihat angka di jam tangan yang gue pake.
"Tapi, Van. Gue kayaknya nggak bisa nganter lo pulang. Setelah ini gue mau ke kantor polisi buat uras-urus motor-motor gue yang ditahan di sana," Biru berujar pelan.
Padahal, sama sekali gue nggak meminta dia buat anterin gue pulang.
"Gue juga mau nganterin Biru, nih. Jadi gimana?" tatapan Agam langsung menunduk ke arah Jin.
"Jin, gua minta tolong deh sama lo. Lo anterin Lovandra. Biar gua sama Agam yang uras-urus motor kita. Lo anter Lovandra sampe rumahnya, terserah mau jalan kaki atau pake angkutan umum. Lo beli sendal dulu aja, biar gak malu-maluin tuh cokor." Biru memerintah Jin dengan enteng.
Jin mengangguk santay. "Oke."
"Ih padahal nggak usah nggak apa-apa. Gue bisa sendiri. Lagipula ini jam 7, masih nggak terlalu malem," ucap gue.
"Nggak bisa, Van. Lo harus dianter. Gue takut lo kenapa-napa. Setidaknya lo aman kalau dianterin Jin. Tapi kalau seandainya Jin kurang ajar sama lo, lo langsung bilang ke gue." Biru berujar dengan menunjukkan rasa perhatian lebih ke gue. Dan, gue ngerasa Biru kok berubah, ya?
"Hm. Oke."
"Yaudah. Bir, Gam. Gue sama Lovandra cabut!"
Agam dan Biru mengangguk. Gue sama Jin pun berjalan ke luar rumah sakit. Seketika gue langsung ngeuh pada saat kita sudah di parkiran rumah sakit. Gue inget, kalau gue membawa sendal jepit pink bermotif hello kitty. Kebiasan gue ya emang begitu, kalau di hari tersebut ada pelajaraan olahraga, gue selalu bawa sendal jepit—supaya pas selesai olahraga gue biasa membiarkan sepasang kaki gue menghirup udara segar, dan gue pakai sendal, sampai bertemu di waktu pelajaran selanjutnya. Eit, tapi pas olahraganya gue pake sepatu, ye.
"Nih, lo pake aja." gue mengasihkan sendal tersebut ke Jin.
__ADS_1
"Apa tuh?" Jin mengernyitkan alisnya.
"Ya sendal, lah. Masa kuaci."
"Tapi buat apa?"
"Lo pake. Nggak usah beli. Jangan ngamburin uang. Ini pake aja sendal gue. Warnanya emang feminim banget, sorry." gue langsung meletakkan sendal itu di depan kaki Jin.
"Tapi ....," Jin menggantungkan kalimatnya.
"Kenapa? Lo nggak suka, ya? Tapi kalau nggak mau pake juga nggak apa-apa." sesegera mungkin gue mengambil lagi sendal itu, namun Jin menahan tangan gue.
"Jangan. Biar gue pake." Jin langsung memakai sendal itu, yang memang terlihat sedikit sempit di kakinya.
Gue tersenyum, "tapi yakin lo mau pake?"
Jin mengangguk.
"Nggak malu sama warna dan motifnya?"
"Lo nggak berubah, ya?" Gue dan Jin kembali melanjutkan perjalanan. Meski dengan berjalan kaki, namun semua itu terasa mendukung untuk gue bernostalgia lebih jauh lagi sama Jin.
"Nggak ada yang berubah dari gue, Van. Kecuali emang nambah ganteng, lebih gede, lebih cool, dan udah banyak tumbuh bulu juga." Jin berujar dengan enteng.
"Apanya yang gede? Terus apanya banyak tumbuh bulu? Lo selalu ngomong hal yang nggak bisa gue logikain."
Jin terkekeh, "ya nggak usah lo bayangin juga, lah."
"Eh bentar," gue merogoh ponsel gue di saku baju seragam gue. Dan, gue mendapati sebuah kalung berliontin salif di sana. "Wah, ini kalung punya Petra. Kenapa bisa di gue, ya?" gue mengingat soal kalung ini.
Jin melihat santay ke arah gue. "Lo bukannya muslim, Van. Kok ada kalung itu."
"Bukan punya gue. Ini punya Petra."
__ADS_1
"Siapa Petra? Pacar lo?"
"Bukan, lah. Dia sahabat gue."
"Oh. Sahabat lo beragama katolik?"
"Iya."
"Syukur, deh. Berarti dia nggak seiman sama lo. Lo seimannya sama gue. Dan gue jadi inget bagaimana dulu, ketika gue sama lo memperagain orang menikah di depan penghulu. Dan yang jadi penghulunya itu si Agres. Di situ, mahar dan mas kawinnya seperangkat alat sholat yang gue ambil di musholah guru. Dan sumpah, lo pernah bilang kalau, lo bahagia jadi istri gue." Jin terkekeh. Gue pun tersenyum.
"Dulu gue polos, ya?" tanya gue.
"Ya apa bedanya sekarang. Masih polos." Jin menatap gue dengan tatapan berseri. "Gue izin sama lo, gue masih pengen manggil lo Ovan. Sebutan masa kecil kita. Dan gue mau, lo panggil gue Osca. Tapi kalau lo mau manggil gue Jin juga gak apa-apa," sambung Jin.
"Gue panggil lo Jin aja, deh. Osca biar menjadi sejarah di hidup gue. Karena dulu gue nggak bisa nyebutin Tosca, gue jadi manggil lo Osca."
"Oke. Tapi, gue nggak bisa menjaga Owennya kita, loh. Owen yang lo kasih 5 tahun yang lalu. Kemarin dia meninggal," ucap Jin dengan wajah datar.
"Jiah. Lupain aja, Jin. Owen kan cuma binatang peliharaan biasa."
"Tapi dia udah jadi Bapak. Anak-anaknya udah banyak. Nanti kapan-kapan lo gue kenalin sama anak-anaknya Owen."
Gue tersenyum. "Ovan, Osca, Owen. Triple O. Haha." gue terkekeh.
"Iya bukan cuma keluarganya Anang-Ashanty, yang semua inisial namanya A. Kita juga bisa, kan? O semua. Anak-anaknya Owen juga semua gue pake inisial O semua."
"Lo kreatif, Jin. Btw, lo mau nggak anterin gue ke rumahnya Petra. Gue mau ngasih kalungnya ini."
"Oke. Apa sih yang enggak buat lo, Ovan." Jin tersenyum lebar, gue pun membalasnya dengan senyuman.
TBC!
Voteee komentnya dongggg!!!
__ADS_1
Salam manis yaaaa!
Lens