
Di sepanjang perjalanan, gue cuma diem aja. Petra juga diem, sama sekali nggak ngomong sepatah katapun, tapi Petra sempat ngingetin gue buat pegangan lebih erat. Karena Petra kalau lagi bawa motor udah kayak orang kesetanan.
Gue duduk di belakang Petra, tanpa pegangan sama sekali, gue cuma megang tasnya Petra yang entah kenapa, gue ngerasa tasnya Petra kempleng banget, gue rasa isinya cuma ada satu buku doang. Sebenarnya ini anak sekolah atau cuma jadi siswa yang datang ke sekolah cuma datang aja. Entahlah. Peduli amat sama caranya bersekolah.
Kemudian, gue lihat dari kaca spion, Petra ngebuka kaca helmnya. Dia curi-curi pandang ke gue lewat kaca spion. Gue risi sama caranya dia yang murahan kayak gitu. Sedetik gue cuma lihat Petra tersenyum tipis sambil fokus melajukan motornya.
"Lo pegangan, Van. Yang kenceng. Gua mau ngebut!" kataya, dan langsung melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup menegangkan buat gue.
Sial. Gue jadi megang pinggangnya begitu erat. Petra berhasil bikin gue meluk dia dari belakang. Modus. Gue kadang nggak ngerti sama cara berpikirnya. Dia bawa motor udah kayak setan.
"Lo bisa pelan-pelan nggak?" gue berujar dengan suara yang agak takut.
Petra nggak jawab pertanyaan gue. Dia malah bawa motornya makin kenceng, sempat pula dia nyaris menyenggol gerobak tukang bakso dan hasilnya kita sampai dianjing-anjingin sama si mamang tukang bakso, tapi Petra nggak peduli, dia malah fokus melajukan motor ninjanya. Sumpah, kadang gue nggak bisa ngelak, ketampanan seorang Petra naik beberapa level saat gue lihat wajah seriusnya fokus mengendarai motor. Ditambah, helm berwarna merah kalem itu, sedikit membuat wajah Petra terkesan ganteng dengan kadar yang sangat tidak manusiawi.
Dan, ya. Petra memberhentikan motornya tepat di depan Alfamart. Dia langsung buka helmnya. Tapi gue masih enggan untuk turun dari motor.
"Kita ke alfamart dulu, ya. Lo turun aja."
Gue menggelengkan kepala. "Lo aja turun. Gue nggak mau turun."
"Aelah, lo betah ya baik motor gua?"
"Gue kan tembus PA! Gue malu!"
"Kan ditutupin pake jaket gue, nyet."
"Gue rasa darahnya ngerembes ke jaket, Tra. Lo sih tadi pake acara ngebut!"
Petra menurunkan standar motornya, dan dia turun dari motor, tapi gue sedikit pun nggak mau turun dari motor. So, gue ngerasa rok gue udah lengket banget. Ini bahkan memalukan, tapi Petra sama sekali nggal ilfeel sama gue, atau dia nggak malu jalan ama cewek kayak gue.
__ADS_1
"Lo tunggu aja di sini. Gue ke dalem, beliin lo pembalut. Selebihnya lo mau nitip makanan apa?" katanya.
"Apa aja, deh."
"Ice krim?"
"Nggak deh, gue nggak suka ice krim."
"Apa dong?"
"Teh pucuk aja."
"Oke dah, lo tunggu di sini. Gue nggak akan lama."
"Iya awas kalau lo lama. Gue di sini kesiksa, Tra."
Gue lihat Petra langsung berjalan ke dalam Alfamart tersebut. Sadar atau nggak, gue senyum. Gue gede rasa, iya. Cowok yang Petra cuma ada satu di dunia. Gue beruntung bisa deket sama dia saat ini. Selebihnya mungkin gue akan menanyakan tipe cewek yang dia suka. Anjay, entahlah, gue ngerasa gue pengen banyak tau soal Petra. Because, dia sobat gue. Apapun akan gue lakukan buat dia, sama seperti apa yang dia lakuian ke gue. So, sikap gue tergantung bagaimana sikap seseorang memperlakukan gue seperti apa. Kalau dia baik, gue akan jauh lebih baik. Kalau dia jahat, gue akan bersikap jauh lebih buruk daripada setan. Gue juga bukan tokoh yang ada di sinetron, yang ketika di-bully akan diem aja. Nggak. Gue akan lawan balik dengan cara yang gue miliki.
"Nggak lama, kan?"
"Mana teh pucuknya, gue haus."
"Nih." dia ngasih teh pucuk dan gue langsung meminumnya.
"Gue nggak paham soal beginian. Gue nggak tau dan nggak ngerti lo biasa pake pembalut yang kayak gimana. Tapi gue beli pembalut yang ada bacaan daun siri. Kayaknya baik buat lo dan gue yakin bisa bikin **** ********** lo lebih seger."
Gue geli pada saat Petra bilang **** **********, menurut gue itu hal yang paling sesuatu. Dia bahkan peduli sama diri gue.
"Oke, thanks."
__ADS_1
Dia malah tersenyum. "Kalau lagi menstruasi, lo selalu kesakitan, Van?"
"Iya, Tra. Sakit. Mangkanya lo gak boleh nyakitin cewek."
"Sejak kapan gue nyakitin cewek?"
"Bulshit!"
"Sakitnya menstruasi sama kayak sakitnya melahirkan nggak sih, Van?"
"Lah, mana gue tau sakitnya melahirkan kayak gimana. Pertanyaan lo salah kalau nanyanya ke gue. Gue kan belum pernah ngelahirin."
"Mau coba praktekin?" dia tersenyum jahil.
"Praketin apa?"
"Itu melahirkan." dia tersenyum tipis menggoda.
"Emang bisa?" gue meremehkan perkataanya.
"Ya bisa. Kalau lo bersedia, gue siap nabung anak gue di rahim lo."
Sialan! Gue kepancing omongan Petra. Seketika gue hanya kembali memutar kalimat Petra sebelumnya, dan gue baru ngerti. Petra emang cerdik, dia berhasil bikin gue skak sama obrolannya yang receh tapi mampu bikin hati gue melayang tinggi.
"Ngomong apa sih, jing." gue berusaha untuk tidak salah tingkah di hadapan Petra.
Petra langsung naik motornya, posisi gue masih duduk di jok belakang, karena dari tadi gue sama sekali nggak mau turun dari jok belakang.
"Pegangan yang kenceng."
__ADS_1
Petra langsung melajukan motornya. Dan ya, di situ rasa nyaman gue naik berkali-kali lipat. Petra bikin gue jadi cewek yang paling beruntung di dunia ini. Segala sikap cuek, pecicilan, dan jahilnya Petra mampu membuat gue merasa gak begitu menyedihkan saat setelah apa yang memimpa gue belakangan ini. Petra seperti obat penenang buat gue, dengan dosis yang pas dan bikin hati gue kembali pulih dari sakit kemarin.