Dimensi Memory

Dimensi Memory
FIRASAT AGAM


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa, meja makan selalu menjadi tempat yang paling utama untuk Biru, Agam dan Jin, sebelum pada akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat sekolah. Ibarat kata, di meja makanlah yang menjadi tempat mereka bertukar pikiran dan mengobrolkan sesuatu yang paling receh. Padahal, hidangan sarapannya cuma stuck di nasi goreng atau roti selai. Tapi sarapan pagi, tidak pernah mereka lewati.


"Bir, lo udah tau belum?" Agam berujar sambil melahap sehelai roti.


Jin langsung antisipasi, dan menerka perkataan Agam—yang entah akan mengarah ke mana.


"tau apa?" Biru menggubrisnya dengan santai, "soal video ena-ena yang lo koleksi? Gua udah lihat. Kenapa emang?" Sambungnya sambil memainkan garpu dan pisau pemotong roti.


Jin menghela napas pelan, dia khawatir jika pembasahan akan mengarah pada Lovandra yang ternyata teman dekat Jin sewaktu kecil. Jin merahasiakan semua ini demi kebaikkan semuanya.


"Bukan soal itu. Jangan buka kartu gua, lah," kata Agam.


"Terus?"


"Bapak negara mau pulang nanti malam. Setidak-tidaknya apa lo tau kepulangan mereka untuk apa? Nggak mungkin kan mereka pulang dari Thailand ke sini cuma atas dasar kangen sama anak-anaknya. Mereka bisa bertahan bertahun-tahun di Negeri orang tanpa merasa kangen sama anak-anaknya. Ya aneh aja menurut gua," kata Agam.


"Iya gua tau. Bokapnya gue, Bokapnya Agam, sama Nyokapnya Jin nanti malam mereka sampai di rumah. Tapi coba positif thinking aja, lah." Biru berujar dengan sebodo amatan.


"Ya patut dicurigain dong. Karena jujur dari dalam, sejauh ini kita udah ngerasa kayak—posisi kita tuh siapa? Iya kita anak-anak mereka, tapi ngerasa terbuang dan terhempas. Dan mereka cuma memprioritaskan pekerjaan mereka."


"Anjer. Bahasa lo dalem, Gam." Jin langsung menimpal omongan Agam.


"Gua rasa kepulangan mereka pasti membawa kabar buruk. Pasti." Agam berujar sangat serius.


"Omongan lo udah kayak Mama Laurent. Emang lo tau mereka akan bawa kabar? Enggak, kan?" kata Jin.


"Firasat, bro."


"Yaudah kalau misalkan kita dapat kabar buruk, mau gimana lagi. Terima nasib ajalah, sebagai anak sholeh," Ucap Biru santai.


"Kita lihatin aja malem," ucap Agam langsung bergegas berangkat sekolah. Sesekali dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ini waktunya untuk berangkat sekolah. Sama halnya juga dengan Biru dan Jin.


*******


Jin melajukan motornya dengan kecepatan standar. Dia terlihat begitu penuh pesona ditambah lagi, helm yang dia kenakan membuat auranya tampak begitu sangar. Jin memiliki karakter wajah yang bisa dibilang berkarisma. Dia selalu telihat berwibawa dalam hal apapun, hanya saja tingkah konyolnya yang terkadang membuat dia terlihat seperti anak bad dan pecicilan.


Tapi,


Jin menghentikan motornya tepat di pinggir jalan. Jin membuka kaca helmnya. Sepasang matanya tak sengaja melihat ke arah seseorang yang duduk di bangku panjang di taman kota ini. Tanpa berpikir lama lagi, Jin langsung merogoh ponsel di saku celananya.


Dengan cepat, Jin langsung menekankan gagang telepon berwarna hijau di layar sentuh ponselnya pada saat telah menemukan nama kontak yang dia cari.


"Hallo," ucap Jin saat panggilan teleponnya sudah terangkat oleh seseorang.


"ada apa?" jawabnya.


"Lo lagi di mana? Sekolah nggak?" ucap Jin dengan tatapan yang tertuju pada seseorang yang duduk di kursi panjang tersebut.


"Gue di sekolah," jawabnya lesu.


"Bohong!" tegas Jin.


"Gue nggak bohong."


"Gua tau lo sekarang ada di mana, Van. Coba lo tengok ke belakang. Gue nggak jauh ada di belakang lo." Jin berujar enteng dengan tatapan yang masih tertuju pada seseorang yang duduk di kursi panjang tersebut.


Yap, Lovandra.


Lovandra langsung menoleh ke belakang, dan dia menemukan Jin—yang kini tengah berjalan menghampirinya.


Jin langsung ambil posisi duduk di sebelah Lovandra. "Lo bolos?" tanya Jin enteng.

__ADS_1


"Lo ngapain di sini?" Bukan malah menjawab, Lovandra justru malah berbalik bertanya.


"Gue mau nemenin lo bolos, deh." Jin berujar dengan santainya.


Lovandra terdiam. Dia hanya menatap lurus ke depan. Dan di sampingnya Jin hanya bisa memerhatikan cara Lovandra menatap.


"Lo kok bengong, sih? Lo nggak lagi nyanyi entah apa yang merasukimu, dalam hati kan?" Jin berujar canda, dan itu berhasil membuat Lovandra tertawa kecil.


"Lo ada-ada aja, deh." Lovandra terkekeh.


"Atau apa sebenarnya lo kebelet boker?" Kata Jin dengan senyum simpulnya yang khas.


"Apa sih, lo. Enggaklah."


"Atau emang kebelet kawin?" Jin semakin menjadi-jadi dengan leluconnya. Lovandra hanya tersipu saja.


"Ih, lo ada-ada aja, Os."


"Jangan panggil gua Os, Van. Karena maaf-maaf ya, gue ngerasa kayak kembarannya Osehun Ekso, kalau dipanggil Os. Apalagi kalau pake H. Jadi Oshhh. H nya tiga, coy. Bukan malah mengundang sensasi hot, malah justru kayak semacem anak-anak ala-ala tiktok," ucap Jin, dengan dituturkan gerakan tangan yang seolah sedang menggurui muridnya.


Lovandra terkekeh. "Lo ngomong apa, sih?"


"Itu tadi lo panggil gue Os."


"Ya atuh kan, emang itu nama panggilan gue ke elo waktu pas kecil," ucap Lovandra sambil mendorong kecil bahu Jin.


"Panggil gua Jin aja. Okey? Biar nggak ada yang tau kalau gua ini temen kecil lo." Jin berucap dengan cengir yang melebar seperti kuda.


Jin menoleh santai ke arah Lovandra, sesaat setelah hening beberapa detik. Lovandra memang terlihat dengan wajah yang terbebani sesuatu hal yang sepertinya sangat menyulitkan hidupnya.


"Lo kenapa?" tanya Jin santai, dan berhati-hati. Jin juga takut jika salah bertanya, takut juga menyinggung Lovandra. Intinya, semaksimal mungkin Jin menjaga perasaan Lovandra.


"Kebiasaan, ya. Gua nggak ngerti sama cewek. Selalu bilang nggak apa-apa. Tapi sorot mata lo tuh nggak bisa bohong, Van. Gua tau lo lagi ada masalah, kan?"


"Gue nggak bisa jelasin sekarang," ucap Lovandra menundukkan wajahnya.


"Permasalahan lo nyangkut di Petra? Dia udah meninggal. Ngapain dipermasalahin?" Jin berujar sok tahu, seketika Lovandra langsung tersenyum tipis.


"Permasalahan gue bukan terpentok sama Petra, Jin. Ada banyak masalah dalam hidup gue. Karena kasus bokap dan nyokap gue aja belum selesai. Kadang ya, gue nggak paham kenapa Tuhan mengambil semuanya dari gue. Kedua orangtua gue sama Petra. Mereka itu orang-orang yang paling gue sayang." Lovandra menjelaskan dengan nada pelan.


"Tapi Tuhan mengirimi gue buat lo, Van."


"Tapi ....," ucapan Lovandra langsung menggantung.


"Jadi gini. Terkadang kita harus berpikir 7 kali, supaya mencapai bahagia di akhir cerita nanti. Kenapa gue bilang harus berpikir 7 kali? Karena kita harus belajar dari hurup B, A, H, A, G, I, A, yang terangkai menjadi kata bahagia, lalu kita memkirkan kata itu bukan hanya sebuah kata, tapi diubah menjadi nyata. Yang coba lo bayangin, tulisan kata bahagia panjangnya berapa inci? Nggak bakal habis selember kertas A4 buat nulis kata bahagia, kecuali kalau lo nulisnya gede-gede, ya. Hehe." Jin berujar enteng. Lovandra kembali tersenyum.


"*** emang lo, ya." Lovandra menggeleng-gelengkan kepala dengan bibir yang tersungging tipis.


"Ya mau gimana lagi, gua nggak bisa bikin kata-kata motivasi supaya lo nggak sedih," ucapnya.


"Gue pikir nggak ada yang peduli sama hidupnya gue. Ternyata ada,"


"Jadi sekarang kita bolos bersama, nih?" Jin berujar dengan mata menggoda.


"Harusnya sih belajar bersama, ya. Lebih enak didenger daripada bolos bersama." Lovandra terkekeh.


"Belajar mengarungi bahtera rumah tangga," Ledek Jin.


"bucin lo!"


"Yeu, biarin. Jalan yuk, Van. Makan kek, minum kek, nongkrong kek. Sekalian nanti gue beliin lo Novel kesukaan lo deh. Mumpung lagi bolos bersama," ajak Jin. Namun sepertinya Lovandra menggelengkan kepala tanda tidak mau.

__ADS_1


"Sori, Jin. Tapi gue nggak bisa."


"why?"


"Karena gue mau ke suatu tempat. Tapi kalau lo mau, lo boleh ikut." Lovandra menawarkan Jin untuk ikut dengannya ke suatu tempat.


"Mau ke mana?"


"Gue mau izin sama Bokap Nyokap. Soalnya malem ini gue mau ketemu sama seseorang."


"Maksud lo?" Jin mengernyit tidak mengerti. Izin kepada orangtua? Bukankah kedua orangtua Lovandra sudah meninggal?


"Gak usah kaget. Walaupun kedua orangtua gue udah meninggal, dan cuma batu nisan doang yang gue temuin. Gue tetap menghormati mereka. Gue akan selalu datang ke tempat peristirahatan terakhir mereka, dan meminta restu apa pun dari mereka yang menyangkut soal hidup dan matinya gue," ucap Lovandra.


"Hidup dan mati? Lo nggak lagi mau bunuh diri, kan?" Jin berujar serius.


"Sialan lo. Ya enggaklah. Gue masih pengen hidup."


Jin menghela napas lega."Syukurlah. Jangan sampai lo bunuh diri aja. Belum kawin soalnya. Jangan ikutin yang berita dari korea ya. Yang mengakhiri hidupnya karena depresi. Karena menurut gue ya, obatnya depresi itu ya jatuh cinta yang bikin hati tenang," ucap Jin, dengan gaya bicara yang sok tahu, terlihat tangannya pun yang melipat di bawah dada bidangnya.


"PA lo, ya. Anak siapa, sih?" Lovandra terkekeh mendengar penuturan Jin.


"Kok lo ketawa, sih?"


"Ya abisnya lo lucu."


"Emang gue lucu, ya?"


"Iya. Lo lucu, PA lagi. Kayaknya otak lo beratnya cuma 1 ons." Lovandra meledek Jin. Jin terkekeh.


"Sialan lo, ya." Jin berhasil mencubit pinggang Lovandra.


"Sakit PA!" Lovandra membalasnya dengan mencubit lengan Jin. Keduanya pun terlihat seperti dua anak kecil yang sedang cekikikan mendapatkan hadiah jam tangan dari ciki jaguar.


"Sekarang gua tanya sama lo. Tapi lo harus jawab jujur. Sejujur-jujurnya."


"Nanya apa?"


"Gue ganteng nggak?" Tanya Jin dengan percaya dirinya. "Jawab jujur, ya!" Jin langsung menunjuk wajah Lovandra dengan tatapan yang menggoda dan dengan bibir yang tersimpul miring.


"Lo tanya aja sama Lucinta Luna. Jangan tanya ama gue."


"Kira-kira gua bisa nggak ya bikin lo jatuh cinta sama gua?" Jin menaikan alisnya sebelah, di sana Lovandra langsung salah tingkah.


"Yaudah, kita berangkat sekarang aja!" Lovandra berdiri dan langsung mengalihkan pembicaraan.


Jin tersenyum menyadari kesalahtingkahannya Lovandra. "Berangkat ke mana Bu? Ke pelaminan?" ucap Jin jahil.


"Katanya tadi lo mau ikut ke makam orangtua gue. Yaudah ayok! Berangkat sekarang."


Jin masih terkekeh. Lalu ikut berdiri. "Yaudah, kita berangkat ke sana pakai motor gua aja," ucap Jin santai dengan senyum tipis yang mengembang.


Lalu Jin pun berjalan ke arah motornya parkir, diikuti oleh Lovandra. Jin menaiki motornya dan memakai helm. Lovandra hanya tertegun melihat ketampanan Jin yang seketika itu langsung bertambah beberpa level dari sebelumnya. Kemudian, Lovandra naik di belakang Jin.


"Pegangan yang kenceng. Gua mau ngebut." tangan Jin langsung meraih kedua tangan Lovandra yang ada di belakangnya Jin langsung melingkarkannya di perut Jin. "Lo harus pegangan yang kuat," ucapnya lagi. Lovandra hanya mengangguk, dia terpesona oleh Jin.


TBC!!!!


Ramaikan dooong!!!!


💞❣️💝🖤💣💣💣

__ADS_1


__ADS_2